{"id":691,"date":"2025-08-07T18:15:33","date_gmt":"2025-08-07T11:15:33","guid":{"rendered":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/?p=691"},"modified":"2026-03-21T18:38:19","modified_gmt":"2026-03-21T11:38:19","slug":"sari-antara-tukang-becak-suami-dan-adik-ipar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/sari-antara-tukang-becak-suami-dan-adik-ipar\/","title":{"rendered":"Sari, Antara Tukang Becak, Suami Dan Adik Ipar"},"content":{"rendered":"<div style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/sari-antara-tukang-becak-suami-dan-adik-ipar\/\">Cerita Ngentot Sari, Antara Tukang Becak, Suami Dan Adik Ipar<\/a> &#8211; Udara dingin dalam cuaca mendung gelap yang menyesakkan. Sudah dua hari ini matahari enggan untuk menampakkan sinarnya. Angin kencang menggoyang daun-daun kering yang tampak ringkih bertahan di dahan. Hari-hari di bulan desember yang selalu basah dan gelap.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMa, Papa berangkat dulu ya.\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cHati-hati di jalan, Sayang. Jangan ngebut, ya?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Lelaki yang dipanggil sayang itu tersenyum. Wajahnya sebenarnya cukup lumayan, agak ganteng kalo dilihat dari Monas pake sedotan. Tubuhnya kurus kering, dengan kulit coklat kehitaman terbakar matahari. Rambutnya yang kriwil makin menambah kesan tak terurus pada diri pria itu. Ia mengecup kening dan pipi istrinya yang bulat dan menggelitik pinggang ramping milik wanita itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIh, Papa nakal.\u201d wanita itu menepis tangan suaminya yang mulai merambat menyusuri belahan buah dadanya yang besar. \u201cSudah ah, nanti Papa terlambat.\u201d Dia mengingatkan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMama cantik deh.\u201d laki-laki itu kembali mengecup bibir sang istri. Wanita itu membalasnya singkat.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSudah siang, Pa.\u201d dia kembali mengingatkan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cNanti masakin yang enak ya, Sayang.\u201d bisik laki-laki itu sebelum keluar pintu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Wanita itu tersenyum dan mengangguk. Dia merasa bersyukur punya suami seperti Tarno, meski jelek tapi cukup bertanggung jawab. Itulah yang membuat Sari perlahan mulai bisa menerima kehadirannya, dan tanpa sadar, mulai mencintainya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cHati-hati di rumah ya, Sayang.\u201d teriaknya sebelum masuk ke dalam kendaraan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Di belakangnya, Sari memandangi dengan mata berkerlip. Ada cinta disana, yang perlahan makin membesar dari hari ke hari. Suaminya memang tidak ganteng, dia tahu itu karena Tarno adalah mantan sopir pribadinya. Mereka menikah karena Sari sudah hamil duluan, dan ironisnya, bukan dengan Tarno. Sari dihamili oleh pacarnya, yang langsung kabur begitu tahu kalau gadis itu berbadan dua. Untuk menyelamatkan muka keluarga, ayahnya segera menikahkan gadis itu dengan siapa saja yang mau, dengan imbalan uang puluhan juta rupiah. Tarno yang mendengar hal itu, tanpa perlu berpikir 2 kali, langsung menerimanya. Sebenarnya, tanpa imbalan uangpun, dia akan dengan senang hati melakukannya. Siapa sich yang tidak ingin menikahi gadis secantik Sari, yang kemolekan tubuhnya sanggup membuat Aura Kasih minder, biarpun gadis itu sedang hamil. Peduli setan, bagi orang jelek seperti Tarno, itu tidak masalah, yang penting bisa merasakan kehangatan dan kelembutan tubuh gadis itu. Apalagi ini ditambah iming-iming uang 50 juta rupiah, yang membuat penawaran itu makin mustahil untuk ditolak.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cJangan malam-malam ya pulangnya.\u201d wanita itu mengantar Tarno sampai ke halaman depan. Wajah cerah dan cantik yang setiap hari melepasnya pergi, dan selalu mengisi benaknya selama jam kerja. Selalu membuat Tarno tak sabar untuk pulang ke rumah. Selalu?<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIbunya ada, Dek?\u201d Sari bertanya pada bocah kecil berumur 3 tahun yang sedang asyik mencoret-coret dinding rumah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Bocah itu mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya. \u201cDi dalam.\u201d sahutnya singkat.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sari segera masuk ke dalam, meninggalkan bocah itu sendirian. Seperti biasa, dia menerobos rumah itu tanpa perlu merasa sungkan sedikitpun. Dia sudah mengenal baik pemilik rumah itu. Anita adalah tetangganya, sekaligus teman pertamanya saat awal dia pindah ke perumahan ini. Usia keduanya yang hampir sebaya membuat mereka cepat akrab. Hari ini, Sari berniat untuk belajar memasak. Kemarin Anita sudah janji untuk mengajarinya membuat nasi Rawon kesukaannya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMbak, Mbak Nita?\u201d Sari memanggil sambil terus melangkahkan kakinya. Ruang tamu dan ruang tengah sudah terlewati, tapi masih belum ada tanda-tanda keberadaan wanita berambut pendek itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMungkin di dapur, pagi-pagi gini kan biasa dia sibuk di dapur,\u201d pikir wanita itu. Dengan riang, Sari terus menuju ke belakang. Saat melintasi kamar Anita, dia mengintip sebentar, tidak ada siapa-siapa disana. Samar-samar, telinganya menangkap suara gaduh dari arah dapur. Ah, memang benar, dia sedang berada di dapur sekarang.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMbak Nita?\u201d sambil memanggil, Sari membelokkan kakinya menuju arah dapur.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tapi langkah kaki wanita cantik itu langsung terhenti begitu melihat apa yang terjadi. Disana, berbaring di atas meja makan, tampak Anita tengah bergumul dengan seorang laki-laki. Pakaiannya acak-acakan. Payudaranya yang besar terlihat menonjol keluar karena kaosnya yang ketat tertarik ke atas, memperlihatkan sepasang buah dada yang putih mempesona dengan puting mungil mencuat indah ke atas. Rok pendeknya yang berwarna abu-abu melorot ke bawah, memperlihatkan kemaluan wanita itu yang basah, licin dan kemerah-merahan, membuat penis besar milik si laki-laki bisa menusuk dan menembusnya dengan lancar.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cH-halo, Sar.\u201d sapa Anita sambil merem melek saat melihat kedatangan sahabatnya. Mukanya licin penuh keringat, dengan bekas-bekas cupangan merata di seluruh pipi dan lehernya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sari terhenyak, sampai tak tahu harus berkata apa.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cS-sebentar ya, lagi tanggung nih.\u201d tambah Anita sambil ikut menggoyangkan pinggulnya, mengimbangi tusukan laki-laki diatasnya yang sekarang tampak semakin cepat.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dengan muka merona, Sari memalingkan mukanya. \u201cAh, aku tunggu di depan aja ya.\u201d Dia merasa tidak enak memergoki Anita yang lagi berbuat mesum seperti itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cJ-jangan,\u201d Anita melarang. \u201cT-tunggu disini aja. Enggak apa-apa kok.\u201d Permintaan yang aneh, tapi entah kenapa Sari menurutinya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dia duduk di salah satu kursi dan menonton kelanjutan acara itu. Dia penasaran, sekaligus teransang juga, bagaimana Anita yang cantik bisa berbuat mesum seperti itu, dengan seorang laki-laki tua yang lebih pantas menjadi ayahnya daripada partner seksnya. Sari tidak mengenal laki-laki itu, tapi dari ukuran penisnya yang super besar, dia bisa menduga alasan Anita mau menyerahkan tubuhnya pada laki-laki itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAhhh&#8230; ahhh&#8230;\u201d Anita merintih saat kontol besar si lelaki menusuk dan mengocok memeknya makin cepat.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dia menyambar bibir si lelaki dan melumatnya dengan rakus. Lidah mereka bertemu untuk saling menghisap dan mencampur air liur. Anita tampak sangat menikmati sekali meski bibir laki-laki itu begitu tebal. Di bawah, tangan si lelaki merambat untuk meremas-remas payudara Anita yang membusung indah. Kelembutan dan kehangatannya rupanya membuat laki-laki itu jadi ketagihan. Sepanjang sisa permainan, dia terus berpegangan pada benda bulat padat itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cM-mau ikut g-gabung sini, Sar?\u201d tanya Anita saat melihat Sari mulai meremas-remas payudaranya sendiri.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAh, tidak.\u201d Sari cepat menarik tangannya dan merapikan bajunya yang mulai tersingkap. \u201cKamu teruskan aja.\u201d dia masih malu untuk mengakui kalau sebenarnya dia juga teransang.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Anita tersenyum penuh arti, \u201cS-selalu ada tempat buatmu k-kalau kamu berubah pikiran.\u201d katanya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dan sebelum Sari sempat menjawab, wanita itu sudah berpaling untuk kembali menghadapi serangan lelaki di atasnya yang sekarang mendesaknya dengan semakin gencar dan bertubi-tubi. Rupanya, permainan sudah mulai mendekati babak akhir. Tidak peduli dengan Anita yang menjerit dan merintih-rintih, laki-laki tua itu terus menusukkan penisnya dalam-dalam, dan menariknya lagi dengan cepat, untuk kemudian menusukkannya lagi lebih dalam, hingga membuat Anita memekik dan menjerit keenakan. Sari menonton semua adegan itu tanpa berkedip sedikitpun. Bahkan, dia juga sampai lupa untuk bernafas.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAh, pasti enak juga kalau memekku digitukan.\u201d wanita itu membatin sambil mengusap-usap vaginanya sendiri. Benda itu mulai terasa basah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAyo, Pak Karta, tusuk lagi lebih keras. Tusuk. Lebih keras!\u201d Anita menceracau di sela-sela rintihannya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Laki-laki tua yang dipanggil Pak Karta menyahut dengan geraman rendah, dan menusukkan penisnya untuk masuk lebih dalam lagi. Di atas, tangannya meremas-remas payudara Anita makin keras, membuat kulitnya yang putih mulus berubah menjadi memar kemerah-merahan. Putingnya yang mungil kecoklatan, kini tampak makin mencuat indah. Pak karta menunduk untuk menciumnya. Laki-laki tua itu mencucup dan menjilatinya dengan penuh nafsu. Dia memilinnya dengan lidah, menggelitiknya dengan gusinya yang mulai ompong, dan membasahinya dengan air liur berbau tembakau murahan, kiri dan kanan secara bergantian. Anita yang mendapat serangan brutal seperti itu, cuma bisa menggelinjang sambil menjerit-jerit kecil. Matanya terpejam, sementara tangannya mendorong pinggul Pak karta agar bergerak makin kuat dan mantab.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cA-aku sudah mau k-keluar, Pak.\u201d bisiknya parau.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Laki-laki tua itu segera mengatur posisi bokongnya untuk menyambut saat-saat yang membahagiakan itu. Diawali dengan jeritan panjang, tubuh Anita mengejang dan berkedut-kedut. Tangannya terkepal dengan mata terpejam rapat. Pahanya yang putih mulus menjepit pinggul renta si lelaki kuat-kuat dan dari dalam kemaluannya, menyembur cairan cinta lengket yang langsung merembes keluar saat si kakek menarik keluar penisnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAhh&#8230;ahhh..\u201d Anita menghela nafas pendek-pendek. Sisa-sisa orgasme yang masih dirasakannya membuat tubuh wanita cantik itu bergetar hebat.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Di depannya, Pak Karta menampung semua cairan itu dan mengoleskannya rata ke paha dan perut Anita, hingga membuat kulit mulus wanita itu tampak makin mengkilat dan menggairahkan. Sisanya yang masih menetes-netes, dijilati oleh laki-laki tua itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cUh, nikmat banget, Pak.\u201d rintih Anita lirih saat lidah kasap Pak karta mencuci liang kemaluannya yang memerah hingga bersih.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dengan penis yang masih tegak mengacung, laki-laki itu kemudian mendekati bibir Anita. \u201cDi emut ya, Neng?\u201d pintanya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tapi Anita menggeleng. \u201cAku capek, Pak. Sama dia aja ya?\u201d wanita itu menunjuk Sari yang duduk tak jauh dari mereka.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAh, aku?\u201d Sari gelagapan, menyadari keadaan dirinya yang sekarang tak jauh beda dengan Anita, pakaiannya acak-acakan, dengan payudara dan vagina yang terlihat jelas dari luar. Selama menonton pertunjukan tadi, tanpa sadar, wanita itu ternyata sudah mempreteli bajunya sendiri, dan meremas-remas susu dan kemaluannya untuk mendapatkan kepuasan. Dia teransang melihat Anita yang sedang disetubuhi Pak Karta. Pak Karta yang melihatnya, langsung tersenyum lebar.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMari, Neng.\u201d bisiknya serak sambil mengulurkan tangannya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAh, tidak. Jangan!\u201d Sari berusaha menepis saat tangan laki-laki itu ingin memijit dan meremas buah dadanya. Dia masih sungkan untuk menunjukkan bagaimana perasaaanya yang sebenarnya, padahal pakaiannya yang terbuka sudah menunjukkan sebaliknya. Bagaimanapun, dia belum kenal dengan Pak Karta dan dia tidak tahu siapa laki-laki itu sebenarnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAyolah, Sar. Nggak usah malu.\u201d Anita yang tergolek lemah di atas meja makan memberinya semangat.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cUh, aku&#8230;\u201d Sari masih bimbang.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAyolah, Neng.\u201d Pak Karta ikut memaksa. \u201cApa nggak pengen ngerasain ini.\u201d laki-laki itu memamerkan kontolnya yang besar di depan Sari dan mengocoknya perlahan-lahan, hingga membuat wanita cantik itu langsung terdiam tak bergerak.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIya, tapi&#8230;\u201d Sari menatap tak berkedip, mulutnya melongo dengan tarikan nafas pendek-pendek tak teratur. Tanda kalau dia mulai menyerah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sadar kalau sudah menguasai mangsanya, Pak Karta segera menarik tubuh Sari dan meraihnya ke dalam pelukan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAuw!\u201d wanita cantik itu menjerit lirih, tapi tidak menolak saat bibir tebal Pak Karta mulai menyusuri pipi dan lehernya. Bahkan dia mengimbangi ketika bibir itu melumat dan mencium bibirnya dengan rakus. Sari malah membuka mulutnya, membiarkan lidah Pak Karta membelit dan menggelitik bibir manisnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cHmmp,\u201d Pak Karta mengaduh saat merasakan tangan Sari yang mungil memijit dan mengelus-elus penisnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cGede banget, Pak.\u201d lirih wanita itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Pak Karta tersenyum bangga, \u201cBukan Neng aja yang bilang begitu.\u201d sahutnya sambil kembali mencium bibir dan leher Sari yang jenjang. Tangannya merayap untuk meraih buah dada wanita itu dan meremas-remasnya dengan gemas. \u201cEmpuk banget, Neng. Gede lagi.\u201d jari-jarinya memilin dan menjepit puting payudara Sari yang menonjol dan kemudian menarik-nariknya pelan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cOhhh,\u201d Sari langsung melenguh karenanya. \u201cGeli, Pak.\u201d bisiknya mesra sambil menggelinjang. Anita yang menonton dari atas meja, cuma tertawa saja saat melihatnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Pak Karta kini menunduk untuk mencium dan menjilat bulatan kecil itu. Lidahnya bergerak liar, mencucup dan menghisap dengan gemas, membuat Sari yang sudah kegelian makin merintih-rintih tak karuan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cS-sudah, Pak. Oooh&#8230; geli.\u201d wanita itu menarik dadanya, menjauhkannya dari jangkauan Pak Karta agar lelaki itu tidak mempermainkannya lagi. Dia sudah benar-benar tak tahan. Sari sudah mempersiapkan memeknya ketika Pak Karta malah menyodorkan penisnya yang besar ke mulutnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEmut dulu ya, Neng?\u201d pinta laki-laki tua itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dengan berat hati Sari mengangguk dan mengelus-elus daging panjang itu. Dia mengocoknya pelan sebelum akhirnya mengulumnya dengan penuh nafsu. Di dalam mulutnya, benda itu terasa semakin tegang dan membesar, membuat Sari jadi gelagapan dibuatnya. Penis itu juga berkedut-kedut terus, makin lama makin sering, tanda kalau tidak lama lagi benda itu akan segera meledak. Sari yang tidak mau itu terjadi, segera memuntahkannya. Dia belum merasakan benda itu mengaduk-aduk vaginanya. Terlalu sayang kalau sampai penis itu muncrat sekarang. Pak Karta harus orgasme di dalam vaginanya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cHarus!\u201d Sari bertekad, dia sudah telanjur bergairah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Wanita itu segera telentang di lantai dan membuka kakinya lebar-lebar, mempersilahkan Pak Karta untuk segera menyetubuhinya. Vaginanya yang mungil kemerahan, tampak sudah sangat basah dan lengket. Pak Karta yang melihatnya, segera menindih dan mengarahkan penisnya tepat ke bibir kemaluan Sari.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBapak masukkan sekarang ya, Neng?\u201d bisik laki-laki itu parau. Sari mengangguk. Dan bersamaan dengan itu, dirasakannya penis besar Pak Karta mulai mendesak masuk.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Saat itulah, dari arah luar, seorang bocah kecil tiba-tiba berlari masuk.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAdek?!\u201d Anita berteriak panik.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Anaknya yang dari tadi bermain di luar rumah, tahu-tahu nyelonong ke tempat itu. Cepat wanita itu bangkit dan menyambar apa saja untuk menutupi tubuhnya yang telanjang. Begitu juga dengan Sari dan Pak Karta, kebingungan mereka mencari penutup tubuh untuk menghalangi pandangan bocah kecil itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAyo main di luar, Dek!\u201d Anita merangkul putranya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tapi bocah itu memberontak, \u201cNggak mau. Adek mau main disini.\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Anita kebingungan. Di bawahnya, Sari melotot, menuntut agar Anita bisa segera menyelesaikan masalah itu. Dia sedang dalam posisi tanggung sekarang, penis Pak Karta sudah menembus kemaluannya, tinggal digoyang sedikit agar dia bisa mendapatkan kepuasan. Tapi kehadiran bocah itu telah merusak semuanya. Sari tidak mau bersetubuh dengan ditonton oleh anak kecil!<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cOke-oke, tenang saja.\u201d Anita berusaha membujuk putranya sekali lagi, tapi bocah itu tetap saja membandel.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAdek mau main disini.\u201d teriaknya, malah kali ini sambil menangis, membuat Anita jadi tambah bingung.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBagaimana kalau aku pindah ke kamarmu saja?\u201d Sari mengusulkan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEhm, n-nggak bisa. A-ada Papanya Adek d-disana.\u201d Anita menjawab malu-malu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cHah,\u201d Sari melongo. Dia menatap sahabatnya itu dengan muka tak percaya. \u201cKamu selingkuh disaat suamimu berada di rumah?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Anita tersenyum. \u201cTidak usah kaget seperti itu. Dia mabuk, dari semalam tidur pulas nggak bangun-bangun.\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cTapi bisa saja kan dia tiba-tiba bangun sekarang?\u201d Sari mulai panik.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cCuma bom Atom yang bisa membangunkannya.\u201d Anita tertawa. \u201cTenang saja, aman kok. Aku sudah sering seperti ini.\u201d wanita itu menenangkan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sari teringat kamar Anita yang kosong saat tadi melihatnya. \u201cTapi dia tidak ada kamar?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cOh, dia tidur di lantai.\u201d jawab Anita santai. \u201cAku nggak mau dia muntah diatas ranjang.\u201d tambah wanita itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sari sudah akan bertanya lagi ketika dia merasakan kedutan keras di dalam selangkangannya dan Pak Karta yang sedang menindih tubuhnya, tiba-tiba menggeram keenakan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cOh tidak. Jangan dulu!\u201d wanita itu berusaha mencegah, tapi tembakan sperma Pak Karta mustahil untuk dielakkan. Jadilah Sari ikut menggeliat-geliat setiap kali kontol Pak Karta mengejang untuk memuntahkan isinya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cUhh,\u201d wanita itu melenguh merasakan liang rahimnya yang sekarang jadi basah dan begitu penuh.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAh, maafkan Bapak ya, Neng.\u201d Pak Karta menampakkan raut muka penuh penyesalan. \u201cBapak benar-benar nggak tahan.\u201d lanjutnya. \u201cMemek Neng benar-benar nikmat, bikin kontol Bapak jadi kaya dipijat-pijat.\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sari mengangguk maklum. Dia memang menggetar-getarkan memeknya tadi. Tapi dia tak pernah menyangka, getaran-getaran kecil akan mampu membuat Pak Karta melayang. Akibatnya, laki-laki itu jadi cepat orgasme, hal yang dari sudah tadi berusaha dihindari oleh Sari, karena dia belum terpuaskan oleh penis laki-laki tua itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSudah keluar ya?\u201d tanya Anita. Dia yang sudah sering bercinta dengan Pak Karta, hafal benar bagaimana gaya laki-laki itu saat orgasme melanda.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sari mengangguk tak bersemangat. Dengan tubuh lemas, dilepasnya penis Pak Karta yang sudah mulai melembek dari jepitan memeknya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMaafkan Bapak ya, Neng.\u201d sekali lagi laki-laki itu minta maaf.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cI-iya, Pak. Nggak apa-apa kok.\u201d Sari berusaha tersenyum meski dalam hati masih sedikit jengkel.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cPapa?!\u201d Adek yang sedang berada di gendongan Anita, berteriak gembira saat melihat seorang lelaki gendut yang terhuyung-huyung berjalan keluar dari kamar depan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSial!\u201d Anita mengumpat sambil menyambar pakaiannya dan mengenakannya dengan cepat, sementara bocah kecil dalam gendongannya meloncat untuk berlari menyongsong Papanya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAda apa, Ma? Berisik banget dari tadi.\u201d mata lelaki itu masih setengah terpejam. Anita juga lega karena suaminya tidak mengenakan kaca matanya. Tanpa alat bantu itu, penglihatan suaminya cuma seawas mata bayi. Benar-benar buram.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAh, tidak ada apa-apa.\u201d Dengan isyarat mata, Anita menyuruh Sari dan Pak Karta untuk bersembunyi. \u201cIni, si Dedek ngajak main, padahal mama kan lagi sibuk memasak.\u201d wanita itu berusaha mengalihkan perhatian suaminya saat Sari dan Pak Karta merangkak beriringan menuju ke bawah meja makan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEhm,\u201d lelaki gendut itu memicingkan mata, memperhatikan tubuh istrinya, dan&#8230; \u201cMemasak kok pakaiannya gitu?\u201d tanyanya kemudian.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Nah lo! Anita menelan ludah sebentar sebelum menjawab. \u201cGerah, Pa. Begini lebih enak\u201d dia beralasan. Padahal dalam hati mengumpat karena tidak sempat memakai kaosnya tadi. Akibatnya, payudaranya yang besar tampak menggantung indah, membuat siapapun yang melihatnya jadi bertanya-tanya. Setelah mencium dan meremas payudara Anita sebentar, laki-laki itu berlalu menuju kamar mandi. Dibelakangnya, Adek mengikuti seperti anjing kecil mengikuti tuannya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAh,\u201d Anita menghembuskan nafas lega. Dia selamat lagi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dari bawah meja, kepala Sari menyembul. \u201cGimana?\u201d dia bertanya tanpa mengeluarkan suara.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAman.\u201d sahut Anita pelan. \u201cDimana Pak Karta?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sari menunjuk pintu belakang yang terbuka. Diantara semak-semak berduri, tampak Pak Karta yang sedang berusaha meloncati pagar belakang yang menjulang tinggi. Meski tubuhnya sudah renta, laki-laki itu tanpa kesulitan melakukannya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cHebat juga dia.\u201d Anita memuji.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sari mengangguk. \u201cNgomong-ngomong, kamu kenal sama dia dimana?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEhm, dia tukang becak langgananku.\u201d Anita berterus terang.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSudah sering kalian melakukannya?\u201d Sari bertanya lagi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBaru 1 bulan sih.\u201d Anita mengambil BH-nya yang berserakan dan mengenakannya. \u201cPake dulu bajumu, nanti keburu suamiku keluar.\u201d dia mengingatkan Sari yang sampai sekarang masih telanjang.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cOh, iya.\u201d Wanita itu tersenyum.\u201dPenisnya besar, ya?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSiapa? Pak Karta?\u201d Anita bertanya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sari mengangguk. \u201cIya, siapa lagi?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMemang itunya yang bikin aku ketagihan.\u201d bisik Anita sambil tertawa.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sari ikut tertawa. \u201cBH-ku mana ya?\u201d dia bertanya saat tidak bisa menemukan BH-nya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMasa ilang sih?\u201d Anita ikut membantu mencari, tapi sampai muter-muter kemanapun, BH itu tetap tidak kelihatan. \u201cEhm, mungkin dibawa Pak Karta. Dia suka begitu, BH-ku aja banyak yang diambil buat kenang-kenangan.\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAh, benarkah?\u201d Sari terpaksa mengenakan kaosnya tanpa BH, membuat payudaranya yang indah makin kelihatan indah. \u201cBagaimana kamu tahu kalau Pak Karta punya kontol besar kayak gitu?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Anita tersenyum, \u201cSuamiku yang cerita. Biasa, obrolan sebelum tidur. Karena penasaran, ya kubuktikan aja, haha&#8230;\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sari ikut tertawa. \u201cDasar istri nakal.\u201d sahutnya. \u201cEh, apa dia tidak pernah cerita soal Mas Tarno?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cNggak tuh,\u201d Anita menggeleng. \u201cEmang kenapa dengan suamimu?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEhm, tidak&#8230;\u201d Sari tampak ragu-ragu untuk menjawab.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cJangan-jangan, kontolnya juga gede ya?\u201d tebak Anita asal.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tapi tebakan itu langsung membuat Sari terhenyak tak mampu bicara.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cWah, berarti bener dong.\u201d Anita tertawa untuk merayakan kemenangannya. \u201cBoleh kapan-kapan dicoba?\u201d tambahnya sambil tertawa lebih keras.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEnak aja!\u201d Sari menyikut siku sahabatnya itu, tapi tidak ada nada marah dalam suaranya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kisah Tarno<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cRawamangun, Bang?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tarno mematikan mesin saat menghampiri. Kendaraan bergetar sejenak sebelum senyap. Seorang ibu dan seorang anak kecil, masuk. Tak ada alasan untuk menolak. Maka mereka pun melaju. Sudah berjam-jam sejak tadi pagi, ia mengitari ibukota. Beredar diantara jalan-jalan besar, masuk ke ruas jalan-jalan kecil, dengan terik matahari yang terasa menyengat. Tapi pikiran tentang istrinya yang cantik yang menanti dengan penuh cinta, menyejukkan perasaan. Seolah ia tak rasakan sempitnya ruangan tempat ia berada, dan mesin yang membuat pantatnya terasa terpanggang. Cinta memang penawar mujarab.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBelok kiri, Bang.\u201d si Ibu memberi perintah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tarno membelokkan setirnya. Kendaraan terus melaju membelah udara panas ibukota, diantara para pedagang jalanan yang menawarkan rokok, permen, tisu, boneka, bahkan patung kuda yang terbuat dari kayu. Juga mereka yang tiba-tiba muncul dari balik tiang lampu merah dan menyanyi tanpa diminta, dan tak akan pergi sebelum penumpang menyerahkan uang ala kadarnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEnggak ada receh!\u201d si Ibu menukas menanggapi rengekan pengamen tanggung di samping kendaraan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cYang gede juga boleh kok, Tante.\u201d balas si pengamen tidak mau kalah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKalo yang gede, ngapain aku kasih sama kamu. Dasar bego!\u201d si Ibu sewot.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Lampu berubah warna. Tarno perlahan melajukan kendaraannya. Masih sempat didengarnya umpatan pengamen tanggung. \u201cBrengsek, dasar pelit!\u201d di belakang sana. Dalam kendaraan, penumpangnya masih mengomel panjang pendek. Anak kecil berusia 6 tahun yang bersamanya, tampak bingung memperhatikan. Barangkali berpikir, kenapa di rumah dia dilarang bersikap dan berbicara buruk? Sementara sang Ibu dengan ringan membentak dan bersikap kasar pada orang di jalan?<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEh, si Abang kok bengong. Kiri, Bang! Dibilangin dari tadi, malah jalan terus. Budek apa?!\u201d si Ibu membentak.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tersentak dengan teguran keras itu, Tarno buru-buru membawa kendaraanya menepi. Sedikit tersinggung juga sebetulnya. Tapi karena dia yang salah, Tarno tak jadi marah. Diterimanya uang yang disodorkan wanita gendut itu, kemudian berlalu setelah mengucapkan terima kasih. Hari makin sore. Lampu-lampu jalan mulai menyala, cahayanya menerangi papan-papan iklan di pinggir jalan. Tarno hampir memutuskan untuk pulang, ketika seorang wanita muda menghentikannya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cPasar Senen, Bang?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Ia mengangguk setuju. Arahnya mendekati jalan pulang, tak ada masalah. Cepat tangannya menghidupkan mesin. Wanita muda berparas cantik itu tak banyak bersuara sepanjang jalan, malah sesekali terdengar isakannya diantara lolongan mesin kendaraan. Meski terusik oleh rasa ingin tahu, Tarno tak berani bertanya. Tugasnya hanya mengantarkan penumpangnya sampai ke tujuan. Titik. Habis perkara. Dia tidak punya kepentingan untuk mengetahui permasalahan wanita itu. Karena itulah, Tarno segera memfokuskan lagi pandangannya ke depan, ke arah jalanan yang sekarang tampak mulai padat.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBang&#8230; bang&#8230; berhenti sebentar.\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tarno menoleh ke belakang, heran dengan permintaan penumpangnya. Pasar Senen kan masih jauh, kenapa minta berhenti sekarang? Berubah pikirankah dia?<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cNggak jadi ke Senen, Mbak?\u201d Tarno bertanya sopan. Wanita itu mungkin seusia dengan Sari, istrinya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBerhenti, Bang. Tolong berhenti.\u201d wajahnya juga cantik, dengan bentuk tubuh yang indah mempesona.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tarno menepi. Mesin kendaraan bergetar sejenak, sebelum akhirnya mati. Saat itulah, tangis penumpangnya mendadak pecah. Wajahnya yang sendu basah oleh air mata, suara isaknya tertahan di balik sapu tangan hijau berenda yang menutupi sebagian mukanya. Betul-betul pemandangan yang mengibakan seandainya saja payudara besar milik wanita itu tidak ikut bergoyang-goyang seiring jerit tangisnya. Tarno jadi bingung. Di satu satu sisi, dia tak tega melihat keadaan wanita itu, tapi di sisi lain, kemolekan tubuhnya mustahil untuk dielakkan begitu saja.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Maka dengan hati-hati, Tarno menegur. \u201cEhm, maaf, Mbak, ada apa ya kalau saya boleh tahu?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Perempuan itu menghentikan tangisnya sesaat, \u201cLaki-laki memang brengsek!\u201d umpatnya lalu menangis lebih keras.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEh-eh, Mbak.\u201d Tarno jadi bingung.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Wanita itu menoleh dengan wajah basah penuh air mata, \u201dCoba Abang bayangkan, mentang-mentang saya sudah tidak muda lagi, tidak cantik lagi, lantas berpaling ke yang lain.\u201d kata-katanya meluncur cepat dalam sedu sedan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Wanita itu mengerjapkan matanya, merapikan wajahnya yang penuh dengan air mata, dan memandang Tarno dengan serius, membuat lelaki kurus itu jadi salah tingkah. \u201cCoba Abang lihat, apa saya sudah tidak cantik lagi? Sudah tua? Usia saya baru dua tujuh dan dia sudah selingkuh.\u201d tanyanya muram.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAhh,\u201d Tarno menghela nafas. Diliriknya wanita cantik itu, tidak ada yang mengecewakan pada dirinya. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, semuanya spesial. Terutama bagian pinggul dan payudaranya, melihat sekilas saja sudah membuat mata Tarno blingsatan tak karuan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBang, coba pandang saya, apa saya tidak cantik?\u201d wanita itu mendesak.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tarno menjawab tanpa berpikir, \u201cMbak masih cantik. Sangat cantik malah.\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAh, Abang tidak serius.\u201d wanita itu menegakkan badannya. \u201cAbang bahkan tidak memandang saya!\u201d dia seperti ingin memamerkan buah dadanya yang besar pada laki-laki itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tarno mengangkat wajahnya. Pandangannya langsung terpaut pada tonjolan besar yang menggiurkan di dada perempuan itu. Ya ampun, apa yang sebenarnya dia inginkan? Tarno membatin dalam hati. Semakin dilihat, payudara itu tampak semakin menggoda.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cGimana, Bang, saya masih cantik kan?\u201d tanya wanita itu lagi, kali ini sambil mengubah posisi duduknya hingga roknya yang pendek agak tertarik ke atas, memperlihatkan sepasang pahanya yang halus dan putih mulus.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAhh,\u201d dengan kesulitan Tarno berusaha untuk menelan ludahnya. Ia menatap wajah sembab itu sekilas, mencoba mencari tahu apa yang terjadi, lalu kembali mengulangi kalimatnya dengan suara tercekik. \u201cTentu saja. Mbak masih sangat cantik. Dan seksi juga.\u201d tambahnya tanpa bisa dicegah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cTuh kan!?\u201d wanita itu merengut.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cLho, kenapa, Mbak?\u201d Tarno jadi bingung. Tadi tanya, sekarang dipuji malah salah. Apalagi pake acara pamer dada dan paha segala, maunya apa sih perempuan ini? keluh Tarno dalam hati.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMas tuh persis suami saya, nggak bisa kalo lihat cewek cantik!\u201d wanita itu masih merengut.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cHah?\u201d Tarno terdiam. Daripada menanggapi perkataan wanita itu, yang bisa makin salah kalo ditanggapi, lebih baik dia diam saja dan menikmati pemandangan indah yang tersaji di depannya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Melihat Tarno yang cuma melongo, wanita itupun langsung curhat panjang lebar. \u201cSaya sakit hati sama suami saya, Bang! Saya baru saja memergoki dia di rumah istri simpanannya. Dulu saya kira itu cuma isapan jempol, tapi ternyata&#8230;\u201d Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya yang lebar. \u201cA-apalagi gundiknya itu u-umurnya baru 16 tahun.\u201d tambahnya dengan terbata-bata.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cHmm, jadi begitu,\u201d Tarno mengangguk, dia mulai bisa menebak apa yang diinginkan wanita cantik itu. \u201cBagaimana kalau kita ke Senen sekarang, Mbak?\u201d tanyanya cepat, takut kesempatan itu terbuang.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Si wanita mendongak. \u201cTunggu dulu, kenapa buru-buru? Abang nggak suka ya dengan saya?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cHah?\u201d salah paham lagi. Tarno menghela nafas, \u201cBukan begitu, Mbak, justru&#8230;\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAbang ternyata sama saja dengan suami saya, tidak suka lagi melihat saya!\u201d wanita itu kembali menunduk dan terisak.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cYah,\u201d Tarno menggeleng kebingungan. Pikirannya berpacu keras mencari cara mendiamkan tangis si perempuan dan menyampaikan niat dirinya yang sebenarnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBukan begitu maksud saya,\u201d Tarno mencoba menjelaskan.\u201dTidak enak berhenti di pinggir jalan seperti ini. Lebih baik kita cari tempat yang lebih enak untuk ngobrol.\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBiar!\u201d wanita itu keras kepala, dia terlanjur kecewa dengan Tarno hingga tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh laki-laki itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cDisini tidak aman, Mbak.\u201d Tarno membujuk lagi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBiaarrr!\u201d wanita itu menggeleng.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Ah, mentok lagi. Tarno tidak tahu harus berkata apalagi. Akhirnya dia diam saja sambil memandangi tubuh montok wanita itu yang bergetar ringan karena isakan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBang?\u201d panggil wanita itu dengan suara tertahan menahan tangis.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cI-iya, Mbak, ada apa?\u201d Tarno tergeragap, takut ketahuan kalau saat itu dia tengah menatap payudara besar milik si wanita dengan mata melotot tak berkedip.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cNama Abang siapa?\u201d pertanyaan yang sungguh tak terduga.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cTarno, Mbak. Lengkapnya Sutarno, tapi panggil aja Tarno.\u201d jawab laki-laki kurus itu cepat.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKalo saya Angela, Bang.\u201d wanita itu menghentikan isakannya dan menyeka air mata yang mengalir di pipi dan bibirnya. Bibir yang tipis, pasti nikmat sekali kalau dipake buat nyepong kontol.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAh,\u201d Tarno mendesah membayangkannya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAbang sering dapat penumpang cantik kaya saya?\u201d Angela bertanya tiba-tiba.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cJarang banget, Mbak.\u201d Tarno berterus terang. \u201cLangganan saya kan rata-rata pedagang Pasar Senen.\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEmang pedagang nggak ada yang cantik?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tarno tersenyum. \u201cSudah tua-tua dan gendut-gendut semua, Mbak.\u201d Di dalam hati, dia bersorak. Sambil bertanya tadi, Angela menyodorkan wajah cantiknya ke depan. Wanita itu sudah tidak menangis lagi, malah sorot matanya berangsur aneh. Sorot mata yang sudah ditunggu-tunggu oleh Tarno.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cPenumpang seperti Mbak-lah yang saya tunggu-tunggu, cantik dan seksi.\u201d Tarno melanjutkan dengan memberi penekanan khusus pada kata Cantik dan Seksi untuk memperjelas maksudnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dan Angela yang mulai mengerti, langsung bereaksi dengan makin mendekatkan wajahnya ke punggung Tarno dan berbisik, \u201cBang, antar saya ke rumah ya? Saya mau balas dendam sama suami saya. Abang bantu ya?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Suaranya lirih, diucapkan dengan kerling mata dan senyum menggoda yang langsung membuat jantung Tarno berdebar kencang. Ditambah tangan wanita itu yang terulur dan meraba sebentar kontol Tarno yang menegang di balik celana, uh! Semakin membuat laki-laki itu tak kuasa untuk menolak.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cPindah sini aja, Mbak.\u201d Tarno menawarkan bangku di sebelahnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Angela mengangguk dan dengan cepat beralih ke depan, \u201cAyo jalan, Bang.\u201d bisiknya parau sambil kembali meraba-raba penis laki-laki itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kendaraan pun meluncur lagi, dengan Angela yang tampak sibuk berusaha membuka resliting celana Tarno.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">***<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMinggir sini, Bang.\u201d desah Angela sambil terus mengulum penis hitam Tarno. Mulutnya basah, sementara wajah cantiknya sudah bermandikan keringat. Kaos dan rok pendeknya sudah tersingkap di sana sini, memperlihatkan sebagian besar aurat tubuhnya yang terlarang.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cLepasin dulu.\u201d Tarno berusaha menarik penisnya. Dia tidak ingin keluar dari kendaraan dengan penis menggantung kemana-mana.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMasukkan aja Bajaj-nya ke dalam.\u201d Angela menunjuk garasi kecil yang ada di samping rumah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tarno segera membelokkan kendaraannya kesana, memarkirnya tegak lurus, dan mendesah penuh nikmat. Di bawahnya, Angela terus menghisap dan menjilati penisnya dengan penuh nafsu, membuat benda hitam panjang itu semakin menegang dan membesar tak terkendali.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAyo, kita ke dalam aja.\u201d bisik Tarno sambil meremas-remas gundukan daging besar yang menggantung di dada Angela.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Wanita itu mengangguk. Dari garasi hingga ruang tengah, Angela terus memegang dan mengusap penis hitam itu. Dia tak mau melepaskannya meski cuma sebentar. Tarno yang keenakan, membalasnya dengan melepas baju atasan Angela. Jadilah wanita cantik berdada besar itu berjalan ke dalam rumah dengan tubuh setengah telanjang. Payudaranya yang besar tampak bergoyang-goyang indah setiap kali wanita itu melangkahkan kakinya. Tarno langsung meremas-remasnya dengan penuh nafsu hingga membuat Angela jadi tertawa-tawa karena kegelian.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMas suka dengan tubuhku?\u201d tanya wanita itu saat mereka tiba di dalam kamar.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tarno mengangguk, dan kembali membenamkan wajahnya di belahan daging bulat itu. Bibirnya merambat, menciumi permukaannya yang halus dan mulus. Kehangatan dan kekenyalannya membuat laki-laki itu terlena. Dia menjelajahinya inci demi inci, pelan dari atas ke bawah, bergantian antara yang kanan dan yang kiri.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Angela yang kegelian saat Tarno mulai mencucup putingnya, mendesah sambil menggelinjang, \u201cAhh, Bang!\u201d desisnya sambil mengocok penis Tarno makin cepat. Sebenarnya dia ingin menjilati kontol itu lagi, tapi tidak bisa, terhalang oleh Tarno yang sedang asyik mengerjai payudaranya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cPayudaramu besar sekali.\u201d bisik Tarno sambil terus menjilat.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Angela cuma tertawa mendengarnya. Memang, selain wajah cantiknya, payudara adalah salah satu keunggulan wanita itu. Benda itu tetap kelihatan bulat dan padat meski berukuran besar, tidak kelihatan kendor sedikitpun. Di tambah kulit yang putih dan mulus, membuat siapapun yang melihatnya akan langsung jatuh cinta.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKontol Abang juga gede.\u201d Angela ikut-ikutan memuji.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Melihat tubuh Tarno yang kurus kering, sepertinya mustahil bagi laki-laki itu untuk mempunyai penis sebesar ini. Tapi kenyataanya memang begitu. Angela yang tadi sempat pesimis, demi melihat penis raksasa milik Tarno, berubah menjadi penuh semangat. Inilah penis terbesar yang pernah dilihatnya. Dia yang awalnya cuma selingkuh untuk balas dendam, sekarang ganti selingkuh untuk mendapatkan kenikmatan. Dan sepertinya Tarno akan dengan mudah memberikannya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cDibuka ya?\u201d Tarno menarik celana dalam Angela ke bawah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Wanita itu meluruskan kakinya untuk memudahkan Tarno melakukannya. Sedetik kemudian, tubuh merekapun sudah sama-sama telanjang. Angela berbaring di ranjang, telentang, dengan kaki terbuka lebar. Sementara Tarno, terbengong-bengong memandangi tubuh bidadari cantik di depannya dengan mulut melongo dan mata tak berkedip.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAbang cuma mau memandangiku saja?\u201d goda Angela sambil membuka kaki lebih lebar, memperlihatkan kemaluannya yang kemerahan, yang kini sudah nampak basah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tarno melihatnya sambil menelan ludah, ia berusaha untuk menahan detak jantungnya agar tidak berhenti. Laki-laki itu mengulurkan jari telunjuknya dan, \u201cOh, indah sekali.\u201d dia mencoleknya sedikit.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAuw!\u201d Angela merintih manja. Wanita itu menahan tangan Tarno agar terus mengusap-usap selangkangannya. \u201cMasukkan ke dalam.\u201d dia menyuruh Tarno agar mengobok-obok vaginanya dengan jari.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dengan penuh semangat, laki-laki itu pun melakukannya. Dia memasukkan jari telunjuknya, disusul kemudian dengan jari tengahnya, dan diakhiri dengan jari manisnya. Total 3 jari yang kini bersemayam di dalam vagina Angela.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cUhh,\u201d wanita cantik itu melenguh saat Tarno mulai memutar jari-jarinya, mengocoknya maju mundur, dan menggesek-geseknya untuk mengorek-orek liang rahim Angela yang sudah mulai basah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIni,\u201d Tarno memberikan penisnya. Dia memutar tubuhnya hingga posisi kontolnya tepat di depan bibir Angela. \u201cEmut lagi.\u201d Dia menyodorkannya dan Angela langsung mencaploknya dengan rakus.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMemekmu sempit sekali, jarang dipake ya?\u201d Tarno bertanya sambil membuka bibir kemaluan wanita itu. Dia menariknya ke samping hingga bisa dilihatnya lubang kencing Angela yang berukuran mungil.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cDipake sih sering, Bang. Cuma, aku belum pernah melahirkan aja.\u201d jawab wanita itu terus terang.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tarno tersenyum. \u201cAku jilat ya?\u201d dan tanpa menunggu jawaban, dia menjulurkan lidahnya untuk mencicipi bagian dalam kewanitaan Angela.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cUaahhhhh,\u201d Angela langsung menggelinjang karenanya. \u201cAh, geli, Bang.\u201d Wanita itu merintih.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tarno terus menusuk-nusukkan lidahnya, ia tak peduli dengan Angela yang berkelojotan tak karuan di bawah tubuhnya. Dia sudah terlanjur enak. Ternyata, selain sempit, vagina wanita itu juga begitu harum. Tarno jadi suka karenanya. Dia terus menjilat dan menjilat. Lidahnya terus bergerak liar, menjelajahi liang rahim wanita itu, membuatnya jadi licin dan basah dalam waktu singkat.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSudah, Bang. Geli!\u201d Angela kembali merintih.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dia berhenti mengulum penis besar Tarno untuk menikmati setiap hisapan lelaki itu di selangkangannya. Matanya terpejam, sementara keringat dingin membanjiri dahi dan lehernya, membuatnya makin kelihatan cantik dan seksi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tarno mengangguk. \u201cTunggu sebentar lagi.\u201d Dia menyeruput cairan kental yang mengalir keluar dari vagina Angela dan menelannya tanpa ragu. Uhm, rasanya gurih, membuat laki-laki itu jadi ketagihan. Lidahnya kembali bergerak dan menjilat dengan rakus, berusaha untuk mencari cairan itu dan menelannya lebih banyak lagi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tindakannya itu membuat Angela makin menggelinjang hebat dan&#8230; \u201cAaahhhhh!!\u201d dia memekik tertahan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tarno menarik kepalanya. Bibirnya yang tebal basah oleh air liur yang bercampur dengan cairan cinta Angela. Laki-laki itu berbalik menghadap Angela dan menunduk untuk mencium wanita itu. Bibir mereka bertemu, dan untuk sesaat, mereka tidak melakukan apa-apa. Bibir mereka cuma menempel begitu saja. Di bawah, tangan Tarno bergerak untuk meremas payudara Angela yang menggunung. Laki-laki itu melakukannya dengan lembut sambil sesekali memijit dan memilin-milin putingnya yang mungil kemerahan, membuat Angela terpejam dan merintih keenakan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cUhh,\u201d tubuh wanita itu bergetar, dan dia membuka mulutnya, membiarkan lidah Tarno yang kasap menyusup untuk menghisap bibirnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Mereka saling melumat dan memagut satu sama lain. Lidah mereka bertemu dan bibir mereka bersatu rapat. Saat terlepas, air liur lengket membasahi hidung, pipi dan leher Angela yang jenjang. Wanita berdada besar itu memandang Tarno sambil terengah-engah, terlihat sekali kalau dia kaget karena tidak menyangka akan mendapat ciuman yang begitu dahsyat dari laki-laki kurus kering itu. Sementara yang dipandang, tampak tidak peduli sama sekali, dan meneruskan sapuan bibirnya menuju buah dada Angela yang membukit.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAahhh,\u201d wanita itu langsung menggelinjang begitu Tarno mencaplok dan menggelitik puting payudaranya. Lidah laki-laki itu bergerak memutar, membasahi benda mungil itu, sambil sesekali mencucup dan menghisap-hisapnya, membuat Angela makin merintih dan mendesis kegelian.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSudah, Bang. Aku sudah nggak kuat lagi.\u201d wanita itu akhirnya menyerah. Dia mengurut penis Tarno dan membimbingnya menuju liang kewanitaanya yang sudah sangat basah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tarno mengangguk. Tapi sebelumnya, ia menyuruh Angela agar menjilati penis sebentar. \u201cBiar gampang masuknya.\u201d kilahnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dan akhirnya, dengan penis hitam yang mengkilat, Tarno pun menyetubuhi wanita cantik itu. Pelan, dia memasukkan penisnya. Tarno mendorongnya dengan hati-hati, takut membuat Angela menjerit kesakitan. Bagaimanapun, ukuran penisnya begitu besar bagi vagina Angela yang mungil.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cTahan, ya?\u201d Tarno mendorong terus.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sudah sebagian penisnya yang masuk sekarang. Rasanya sungguh luar biasa, seret sekali. Penisnya serasa dijepit dan dipijat-pijat daging lembut yang hangat dan licin. Tarno sampai menggigit bibirnya karena saking enaknya. Sementara di bawah, Angela memejamkan matanya sambil tangannya berpegangan erat pada kain seprei. Wanita itu mengernyit. Rupanya, penis besar Tarno membuatnya kesakitan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cTerus, Bang. Dorong terus.\u201d tapi dia tidak mau menunjukkannya. Angela tahu, sakit ini cuma terjadi di awal-awal saja. Nantinya, setelah Tarno menggoyang, dan vaginanya sudah bisa menerima kehadiran penis besar itu, rasa sakit itu akan berubah menjadi rasa nikmat yang amat sangat. Dia yakin itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sambil menahan nafas, Tarno menghunjamkan sisa penisnya. Angela langsung memekik saat ujung penis laki-laki itu menabrak ujung rahimnya dengan keras. Tapi belum sempat dia mengaduh, Tarno sudah menggoyangkan pinggulnya dan menarik-dorong penisnya untuk menjelajahi vaginanya yang hangat.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAhhh&#8230; ahhh&#8230; aahhh!!\u201d akhirnya, cuma jerit penuh kenikmatan yang keluar dari mulut Angela.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tarno segera membungkam rintihan wanita itu dengan ciuman panas yang bertubi-tubi. Dia melumat bibir tipis Angela dan mencucupnya dengan rakus. Tangannya yang bebas bergerak liar, meremas dan memijit-mijit buah dada Angela yang bergoyang-goyang indah karena hentakannya. Jarinya menjepit, memilin dan menarik-narik puting Angela hingga benda mungil kemerahan itu makin mencuat ke atas.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAahhhhh!!\u201d tubuh Angela melenting.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Karena di bawah, Tarno terus menusukkan penisnya makin dalam dan makin cepat saja. Rasa sakit sudah meninggalkan tubuhnya sejak tadi, berganti dengan rasa nikmat yang luar biasa. Setiap tusukan Tarno, disambut teriakan histeris oleh wanita itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBerbalik, Mbak.\u201d Tarno menyuruh agar wanita itu menungging, dia ingin menusuknya dari belakang. Sepertinya bakalan nikmat sekali menggoyang tubuh Angela sambil berpegangan pada bokongnya yang bulat. Wanita itu menuruti tanpa memprotes.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cPelan-pelan, ya?\u201d bisik Angela sambil berusaha mengatur nafasnya yang putus-putus.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tarno mengangguk, dan kembali memasukkan penisnya. Kali ini lancar tanpa hambatan karena vagina Angela sudah sangat basah. Dengan posisi begini, jepitan benda itu menjadi kian terasa, membuat Tarno makin menggeram dan merem melek keenakan. Dia merangkul tubuh wanita itu dan menggunakan payudaranya yang menggantung indah sebagai pegangan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cGoyang terus, Bang. Ohhh, yah&#8230; gitu, goyang terus.\u201d Angela mulai menceracau.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tarno terus menggerakkan pinggulnya. Nafasnya yang berat mulai memburu, tanda kalau pertahanan laki-laki sudah hampir habis. Di ujung penisnya, vagina Angela terus memijat dan mengurut, memaksa benda panjang itu untuk cepat-cepat memuntahkan isinya. Tapi Tarno yang tidak mau menyerah, dengan cepat dia merubah posisi. Dia kini berbaring di bawah, dengan Angela duduk tepat di atas kemaluannya. Mereka saling berhadap-hadapan, hingga ketika Angela mulai menggoyang, Tarno tetap bisa memegangi buah dadanya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cUhhh,\u201d dalam posisi begini, Angela bisa merasakan penis Tarno yang panjang, menusuk mentok hingga ke dasar kemaluannya. Benar-benar nikmat. Wanita itu pun terus menggerakkan pinggulnya dengan liar, mengaduk dan memelintir penis Tarno hingga laki-laki itu menggeram tak karuan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEnak sekali, Mbak. Ohhhh&#8230; terus.\u201d Tarno memijit-mijit payudara besar Angela sebagai pelampiasan. Detik-detik yang terus berlalu membuat laki-laki itu makin tak kuasa untuk menahan desakan hasrat yang terkumpul dalam kemaluannya. Akibatnya, tak lama kemudian, dengan diiringi jeritan panjang dan tubuh gemetaran, Tarno pun melepaskan spermanya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cUAARRGGGHHHHHH!!!\u201d tubuhnya melenting seiring tembakan air mani yang menyembur memenuhi liang rahim Angela. Wanita cantik itu mendelik dan menjerit lirih saat menerimanya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cTahan sebentar, Bang, saya juga mau keluar.\u201d Angela terus menggoyang pinggulnya. Bisa dirasakannya penis besar Tarno yang masih berkedut-kedut mengeluarkan isinya. Dia berkejaran dengan waktu, jangan sampai penis itu lemas duluan sebelum dia orgasme.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cT-tenang saja, Mbak. K-kontolku ini a-awet kok te-tegangnya.\u201d bisik Tarno putus-putus di sela-sela rintihannya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBenarkah?\u201d Angela bertanya tak percaya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tarno cuma menjawab dengan seringai mesumnya yang khas. Dibiarkannya Angela untuk membuktikannya sendiri. Dan memang benar, setelah 1 menit berlalu, tampak tidak ada perubahan yang berarti pada penis itu. Benda itu masih tetap tegang dan kencang seperti tadi, kecuali mungkin panjangnya yang sekarang sedikit agak berkurang. Tapi Angela tidak mempermasalahkannya, karena itu sudah cukup untuk mengantarkan wanita cantik berdada besar itu ke nikmatnya orgasme.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAHHRRGGHHHHH!!\u201d dengan didahului jerit panjang yang menggetarkan, tubuh Angela melengkung dan ambruk setelah beberapa kali berkedut-kedut. Dari dalam kemaluannya, mengalir cairan cinta yang menyembur deras memenuhi rahimnya, bercampur dengan sperma Tarno yang kental hingga membuat vagina wanita itu jadi basah sejadi-jadinya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cHahh.. hahh..\u201d Angela menikmati sisa-sisa orgasmenya dengan memeluk erat tubuh Tarno yang kerempeng. Dia membiarkan saja tangan Tarno yang merambat mengusap-usap bokong dan pinggulnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cTerima kasih, Mbak. Benar-benar nikmat.\u201d bisik laki-laki itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cJustru aku yang berterima kasih.\u201d Angela membalas. \u201cAbang sudah memberiku kenikmatan, lebih dari sekedar perselingkuhan.\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Mereka berciuman. Di bawah, penis Tarno perlahan mengecil dan akhirnya copot dengan sendirinya. Angela yang kelelahan, ambruk terkapar di samping tubuh laki-laki itu. Mereka berpelukan dan tak lama kemudian sudah tertidur pulas dengan tubuh masih tetap telanjang.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">***<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tarno terbangun ketika jarum jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Rupanya cukup lama juga dia tertidur. Angela sudah tidak terlihat lagi di sampingnya. Menggeliat sebentar, laki-laki itu pun berdiri dan keluar untuk mencarinya. Dia menemukan wanita cantik itu di dapur, sedang menjerang air. Nampaknya Angela habis mandi karena wanita itu cuma melilitkan handuk kecil untuk menutupi tubuh sintalnya yang telanjang. Rambut hitamnya yang panjang masih nampak basah menggairahkan. Perlahan Tarno mendekatinya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEh, sudah bangun, Bang?\u201d sapa Angela ramah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tarno tidak menjawab, tapi langsung mendekap dan memeluk tubuh wanita itu dari belakang. Bau wangi sabun mandi meruap dari tubuh Angela. Tarno mengendusnya sebentar sebelum tangannya melingkar dan meremas-remas payudara wanita itu dengan gemas.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAhhh,\u201d Angela merintih. \u201cM-mau dibikinan apa, Bang? Kopi apa teh?\u201d tanya wanita cantik itu sambil menggelinjang karena salah satu tangan Tarno kini menyelinap masuk ke sela-sela pahanya dan merambat untuk mengusap-usap memeknya yang tidak tertutup, yang saat itu masih basah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201dSaya pengen yang ini,\u201d ujar Tarno sambil menekan-nekan benda tembem itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIh, Abang dah pengen lagi?\u201d pekik Angela dengan riang. Dia tidak mencoba untuk menepis tangan Tarno yang menusuk makin dalam ke kemaluannnya. Memang itu yang dia inginkan dari tadi, ronde kedua dengan Tarno yang perkasa.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSoalnya memek Mbak enak banget. Saya suka.\u201d Tarno mencium dan menjilati leher Angela yang jenjang, membuat wanita seksi itu mendesis dan merintih kegelian.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201dAhhhh&#8230; Punya Abang juga enak. P-panjang banget, sampai mentok rasanya.\u201d Angela meraih penis Tarno yang mulai menegang, yang sejak tadi mengganjal di belakang bokongnya. \u201cSaya tadi keluar banyak, puas banget pokoknya.\u201d Dan mengocoknya pelan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMbak juga cantik, bikin saya ngaceng terus.\u201d Tarno mencium pipi wanita itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Angela tersenyum, \u201dSiap untuk yang kedua, Bang?\u201d tanyanya menggoda.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201dSiapa takut!\u201d balas Tarno sambil mencium bibir tipis Angela dengan rakus. Ia melumat dan mencucup bibir manis itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Angela membalas dengan mejulurkan lidahnya, mengajak Tarno untuk saling membelit dan menghisap. Tubuh mereka makin merapat hingga tampak sulit untuk dipisahkan. Pelan Tarno menarik turun handuk yang dipakai Angela hingga tubuh wanita cantik itu kini telanjang bulat sama seperti dirinya. Dengan manja Angela bersandar di meja makan dan membuka kakinya, memamerkan kemaluannya yang ternyata sudah sangat basah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201dJilat ya, Bang?!\u201d pintanya pelan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tarno mengangguk mengiyakan dan segera menunduk untuk mencicipi benda manis itu. Memek itu sempit dan mungil, tapi gundukannya tebal, sudah terbangun sejak masih di bawah pusar dan makin ke bawah makin menggunung dan besar, sungguh sangat menarik sekali. Rambut-rambut halus tumbuh merata di sekitarnya, kontras sekali dengan warna pahanya yang putih mulus, yang sekarang sedang mengangkang lebar. Dengan tangan gemetar, Tarno merabanya. Benda itu terasa hangat dan licin, pantas enak banget saat dientot. Celah kecil di lubang vaginanya terlihat mulus dan utuh, tanda kalau masih jarang disentuh. Bibir luarnya mungil dan tipis, dan bentuknya masih sempurna, merah agak kehitaman dengan kerutan-kerutan kecil yang makin menambah daya tariknya, membuat Tarno makin penasaran untuk segera menyentuhnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201dAhhh,\u201d Angela merintih saat merasakan lidah kasap Tarno mulai bermain disana. Laki-laki itu menjilati klitnya yang mencuat dengan rakus, dengan dua jarinya masuk menusuk-nusuk dan mengobok-obok bagian dalamnya, membuat benda yang sudah basah itu menjadi semakin basah dan memerah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201dAh, enak banget, Bang.\u201d Angela menggelinjang. \u201dTerus. Jilat terus!\u201d dia menekan kepala Tarno agar laki-laki itu makin menusukkan lidahnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tarno menyapukan lidahnya pada kerut-kerut di bibir vagina Angela. Laki-laki itu menggerakkan lidahnya naik turun, menggelitiknya, dan menyapu seluruh lubang kemaluan wanita itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201dBerbalik, Mbak.\u201d pintanya setelah puas mengobok-obok memek Angela dan menjadikan lubang kewanitaan sempit itu dibanjiri cairan cinta yang bercampur dengan air liurnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201dMau apa, Bang?\u201d tanya Angela, tapi tetap berbalik dan nungging di depan Tarno.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201dSaya sudah nggak tahan.\u201d sahut Tarno sambil memperhatikan bokong Angela yang besar, lebar dan membusung. Lubang duburnya berwarna coklat kehitaman tetapi terlihat cukup bersih. Ditopang dua paha yang mulus dan panjang, benda itu terlihat begitu sempurna. Tarno jadi tak kuat untuk memperhatikan lama-lama. Maka sambil memeluk tubuh Angela dari belakang, laki-laki itu pun menusukkan penisnya dan&#8230;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201dAhhhh,\u201d Angela langsung merintih saat batang Tarno yang kekar perlahan menembus vaginanya. Dengan sentakan lumayan keras, batang itu amblas, masuk menusuk vaginanya yang hangat dan basah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201dSakit, Mbak?\u201d tanya laki-laki itu sambil perlahan mulai menggoyang pinggulnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201dHssshhhh&#8230; e-enak banget, Bang.\u201d lirih Angela dengan mata terpejam dan wajah memerah. \u201dTerus. Oohhhh&#8230; terus!\u201d Wanita cantik berdada besar itu mengerang-erang saat Tarno meraih susunya yang berayun-ayun dan meremas-remasnya dengan gemas.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sambil terus mengayun, Tarno mencium punggung Angela yang terbuka dan terus merambat ke atas hingga ke tengkuknya. Disana, Tarno menjilati anak rambut Angela sambil sesekali menggelitik telinga wanita cantik itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201dAahhsss!\u201d Angela kembali menggelinjang.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dari mulutnya yang tipis keluar erangan-erangan erotis yang makin membuat Tarno jadi bergairah. Sambil terus meremasi payudara wanita itu, Tarno mempercepat sodokannya. Dengan sekuat tenaga dia menghujamkan penisnya hingga membuat tubuh sintal Angela terlontar-lontar kesana-kemari. Benturan antara pinggang depannya dengan pantat besar Angela terbukti menambah seru permainan itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201dHhssshhh&#8230; enak banget, Bang. Terus. Tusuk lebih dalam!\u201d ceracau Angela dengan nafas memburu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Di bawah, vaginanya terus berkontraksi dengan hebat, meremas dan menjepit penis Tarno dengan ketat, hingga membuat benda itu seperti dicekik dan dipijat-pijat. Rasanya yang nikmat membuat Tarno jadi merem melek keenakan. Seumur-umur, baru kali ini dia merasakan vagina seperti itu. Benda itu seperti hidup, terus berdenyut dan menggelitik penisnya. Kalau terus seperti ini, berapa kalipun dia menyetubuhi Angela, dia tidak akan pernah bosan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201dAhhhgggh!\u201d Angela kembali merintih. Sentakan penis Tarno di dalam vaginanya terasa makin kencang. Tusukannya juga makin kuat. Beberapa kali ujung penis Tarno mentok menabrak dinding rahimnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201dS-saya&#8230; mau keluar, Mbak.\u201d bisik Tarno serak. Keringat sudah membanjiri tubuh kerempengnya yang hitam. Begitu juga dengan Angela, tubuh montoknya tampak mengkilat, membuatnya berkilauan seperti permata.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201dHe-eh,\u201d Angela mengangguk, memberi ijin pada Tarno untuk keluar di dalam vaginanya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dan akhirnya, dengan didahului genjotan penutup yang penuh tenaga, Tarno pun orgasme. Dari dalam penisnya menyembur sperma kental yang tanpa ampun langsung memenuhi liang rahim Angela. Tubuh laki-laki itu bergetar dan berkedut-kedut beberapa kali sebelum akhirnya ambruk memeluk tubuh Angela dari belakang.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201dUahhh&#8230; memek Mbak enak banget.\u201d bisiknya dengan nafas memburu. Tangannya terulur untuk mengusap-usap payudara Angela yang menggantung indah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Di bawahnya, Angela terus memutar pantatnya. Dia juga hampir sampai. Semprotan peju Tarno makin memperdekat rasa itu. \u201dK-kontol Abang juga e-enak. Saya suka!\u201d bisik Angela tak kalah manja.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dia merintih saat merasakan tangan kanan Tarno meluncur ke bawah dan menggosok-gosok bibir vaginanya yang memerah. Laki-laki itu mencabut penisnya yang mulai melemah dan menggantikannya dengan dua jari. Dengan tusukan cepat, jari-jari itu bermain di dalam dan menjentik-jentik liar untuk mengusap itil Angela yang tampak semakin mencuat.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Akibatnya, \u201dUaahhrghhh!\u201d tubuh Angela melenting dan setelah mengerang panjang, wanita cantik itupun orgasme.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Entah dari bagian mana, cairan bening memancar deras dari lubang kenikmatan wanita itu. Sebagian membasahi paha dan pinggulnya, sebagian lagi menetes di lantai, bahkan ada beberapa yang menyemprot hingga mengotori meja makan. Setelah kejang beberapa kali, tubuh Angela akhirnya ambruk kehabisan nafas di dalam pelukan Tarno. Kelelahan akibat permainan itu, mereka akhirnya tertidur pulas di lantai dapur dengan tubuh tetap telanjang dan hanya beralaskan handuk kecil yang tadi dipakai oleh Angela.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">***<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Hari sudah malam ketika Tarno tiba di rumahnya. Laki-laki itu segera memarkir Bajaj-nya di tempat biasa, di bawah pohon jambu depan rumah. Lampu depan rumahnya sudah padam, sepertinya istrinya sudah tidur. Tarno tidak ingin membangunnya, jadi dia membuka pintu depan dengan kunci cadangan yang selalu dibawanya. Di meja makan, terlihat sayur sop kesukaan Tarno yang sudah dingin. Laki-laki itu tidak menyentuhnya, tapi dia lurus terus ke kamar mandi untuk sekedar cuci muka dan membersihkan kaki. Di dalam kamar, dilihatnya Sari, istrinya, tidur dengan tubuh telanjang, seperti biasanya. Tarno cepat mencopoti bajunya dan naik ke atas ke atas ranjang. Dia merangkul tubuh wanita cantik itu dari belakang.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBaru pulang, Pa?\u201d Sari bertanya tanpa membuka mata.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIya.\u201d Tarno melingkarkan tangannya di dada perempuan itu dan meremasnya pelan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAhh,\u201d Sari menggeliat. \u201cKok tumben malam?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cTadi mogok di jalan, terpaksa mampir ke bengkel sebentar.\u201d Tarno berbohong. Sambil meremas, dia juga menciumi telinga dan tengkuk sang istri.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cTumben, ininya nggak tegang?\u201d Sari meraba kontol Tarno yang meringkuk malas. Biasanya, tiap hari laki-laki itu minta jatah, tiap pulang kerja. Ini tumben kok malah gak ngaceng sama sekali. Sari jadi heran.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEhm, mungkin karena capek.\u201d Tarno beralasan. Ya jelas aja capek, 2 jam dia main dengan Angela, 4 ronde, dengan ronde penutup dilakukan di kamar mandi. \u201cMama lagi pengen, ya?\u201d dia bertanya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sari mengangguk. Peristiwa dengan Pak Karta tadi siang berkelebat cepat di benaknya. \u201cTapi kalau Papa lelah, ya baiknya nggak usah aja. Besok pagi juga masih bisa kan.\u201d respon negatif dari suaminya membuat Sari jadi mengurungkan niat.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIya, besok pagi aja.\u201d Tarno menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua. Dia tampaknya benar-benar lelah setelah bertempur habis-habisan dengan Angela. Sambil bersandar di bahu sang istri, Tarno mengelus perut Sari yang mulai kelihatan membuncit, dan tertidur pulas.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">***<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Hasrat yang menggebu membuat Sari tidak sanggup untuk memejamkan mata. Sampai pukul 1 dini hari, dia masih belum bisa tidur. Di sebelahnya, suaminya terlelap dengan dengkur ringan yang sudah menjadi ciri khasnya. Wanita itu menyingkap selimut dan menengok ke bawah, ke arah selangkangan sang suami. Pebus hitam itu masih tetap meringkuk lemas, tidak ada tanda-tanda akan segera bangun dalam waktu dekat. Ah, padahal dia sudah tidak tahan lagi. Gairah dalam dirinya sudah meletup-letup, menuntut untuk dipenuhi sekarang juga. Saat ini. Detik ini juga. Disini. Sekarang!<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMau bertukar suami?\u201d Sari teringat tawaran Anita tadi siang. Tawaran serius yang membuat wanita itu jadi gelagapan saat menjawabnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAyolah, kamu bisa memuaskan hasratmu sekarang. Tuh, dia lagi di kamar mandi.\u201d Anita menunjuk ruangan kecil disebelah mereka. Dari dalam, terdengar suara air mengucur, diselingi senandung serak seorang laki-laki, suami Anita.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAh, aku&#8230;\u201d Sari bimbang, antara menerima atau menolak tawaran itu. Memang benar, dia sedang bergairah saat itu, dan butuh pelampiasan untuk menuntaskan hasratnya yang tadi terputus. Tapi dia juga tidak rela kalau harus membagi tubuh suaminya dengan orang lain, meski itu adalah Anita, sahabat baiknya sendiri.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAyolah, tunggu apa lagi?\u201d Anita terus mendesak. Setelah tahu kalau suami Sari mempunyai kontol yang sangat besar, wanita itu langsung penasaran untuk mencobanya. Caranya, dengan menukar suaminya dengan laki-laki itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cT-tapi aku tidak b-bisa,\u201d Sari menggeleng.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cLihat aja dulu, baru kau putuskan.\u201d Anita mendorongnya agar mengintip ke dalam kamar mandi. Disana, berdiri di bawah pancuran, tampak suami Anita sedang membasuh tubuhnya. Laki-laki itu telanjang, dengan perut gendut dan lemak yang menggelambir di seluruh tubuhnya. Di sebelahnya, si Adek jongkok sambil memainkan busa sabun yang menutupi tangannya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKok nggak kelihatan?\u201d bisik Sari pada Anita.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAh, masa sih?\u201d Anita ikutan mengintip. \u201cItu, sebesar itu masa nggak kelihatan?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAh, anu&#8230; Kontolnya yang nggak kelihatan.\u201d muka Sari merona merah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Anita tertawa. \u201cTahu sendiri kan kamu sekarang, kenapa aku selingkuh dengan Pak Karta?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sari mengangguk. Penis suami Anita memang sangat kecil, mirip dengan punya anak-anak. Mungkin karena pengaruh tubuhnya yang gendut, jadi penisnya tidak bisa tumbuh maksimal.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKalau memang begitu, terus.. bagaimana kamu bisa punya anak?\u201d Sari bertanya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMirip nggak anakku sama Papanya?\u201d Anita balik bertanya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEh, jangan bilang kalau dia bukan anak Mas Danu!\u201d Sari memekik. Danu adalah nama suami Anita, nama laki-laki yang saat ini sedang mereka intip.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cHehe&#8230; biarlah itu menjadi rahasiaku.\u201d Anita tersenyum penuh arti. \u201cYang penting sekarang, mau nggak kamu menerima tawaranku tadi?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sari langsung menggeleng dengan cepat. \u201cNggak ah, sepertinya dia nggak bakalan memuaskan.\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Raut kecewa langsung terpasang di wajah cantik Anita. \u201cKalau tukar dengan Pak Karta, gimana?\u201d dia memberikan alternatif.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEhm, kalau yang itu boleh juga.\u201d Sari tersenyum saat membayang penis raksasa milik Pak Karta mengaduk-aduk vaginanya. Dia tidak akan rugi kalo menukar tubuh suaminya dengan tubuh laki-laki tua itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAh, dasar kamu, ternyata sama aja.\u201d ledek Anita sambil mencubit pinggang sahabatnya. Mereka tertawa berbarengan dan pergi ke depan untuk membahas kapan waktu yang tepat untuk melakukan pertukaran itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Suara gaduh di luar rumah menyadarkan Sari dari lamunan. Tangannya yang saat itu sedang asyik mengocok penis suaminya, segera berhenti. Meski sudah berusaha dengan keras, penis hitam itu tetap membandel tidak mau bangun, tetap meringkuk malas-malasan dengan kulit mengkerut. Sari jadi frustasi karenanya. Padahal saat ini dia sedang pengen sekali ngentot. Di sebelahnya, Mas Tarno-nya tetap tertidur dengan pulas, tampak tidak merasakan sama sekali segala usaha yang sudah dilakukannya dari tadi untuk membangkitkan gairah laki-laki itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cHuh,\u201d Sari mendengus kesal. Dengan tubuh telanjang, wanita itu bangkit untuk melihat apa yang terjadi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Di jalan depan rumahnya, tampak beberapa tetangganya berlari atau berjalan cepat sambil membawa pentungan atau senjata apa saja yang sempat mereka raih. Teriakan dan umpatan terdengar semakin keras dan gencar. Sepertinya ada maling apes yang kepergok patroli warga.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cDia lari kesana.\u201d Seseorang menunjuk rumpun bambu di ujung gang. Beberapa orang langsung merangsek kesana, tapi tidak menemukan apa yang mereka cari.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cTidak mungkin dia lari jauh,\u201d itu suara Pak RT.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Udara malam yang dingin, ditambah tubuhnya yang telanjang, membuat Sari menggigil dengan cepat. Wanita itu meraih taplak meja di sebelahnya dan melingkarkannya di tubuh, sekedar untuk sedikit menghangatkannya. Beberapa orang bersenjatakan parang atau batang bambu, masih berkeliaran di depan rumahnya. Entah barang apa yang berhasil digondol oleh si pencuri hingga membuat hampir seluruh warga kampung keluar malam ini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cPokoknya dia harus tertangkap!\u201d geram seorang pemuda sambil berjalan cepat.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kalau saja dia tahu, 2 meter di sebelah kirinya, ada seorang wanita cantik yang sedang berdiri mematung dengan tubuh telanjang dan gairah yang menggebu-gebu, pemuda itu pasti akan langsung membelokkan langkahnya, tidak jadi mengejar si maling. Sari tertawa sendiri saat membayangkannya. Ruang tamu yang gelap menyembunyikan tubuhnya dengan baik, membuat dia aman dari pandangan orang-orang yang berlalu lalang di depan sana.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Klontangg! Suara aneh di belakang rumah membuat Sari berpaling.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cApa itu?\u201d dia bertanya dalam hati.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Cepat wanita itu membangunkan suaminya. Tapi Tarno yang sedang kelelahan, mustahil untuk dibangunkan. Mau tak mau, tampaknya Sari harus memeriksanya sendiri. Dengan berbekal senter dan gagang sapu, wanita cantik itu berjalan pelan ke belakang. Dia juga sudah mengganti taplak meja dengan pakaian yang lebih pantas, sebuah kimono tipis yang masih tetap tidak bisa menyembunyikan kemolekan tubuhnya karena Sari tidak mau repot-repot mengenakan apa-apa lagi di baliknya, hingga paha dan payudaranya yang bulat tampak indah menerawang. Bak seorang ninja yang sedang beraksi, Sari mengendap-ngendap menuju asal sumber suara. Sepertinya dari arah kamar mandi di belakang rumah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sari menyorotkan senternya dan langsung memekik. \u201cAhh&#8230;\u201d tapi jeritannya langsung terpotong oleh bungkaman tangan mungil berbalut sarung tangan hitam.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSst&#8230; Kak, diamlah. Ini aku.\u201d Orang itu membuka topengnya untuk memperlihatkan wajahnya yang sebenarnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBudi?\u201d Sari menatap tak percaya. Budi adalah adik iparnya, dia adik Tarno yang paling bungsu. \u201cNgapain kamu di&#8230;\u201d kesadaran langsung menghantamnya saat melihat pakaian yang dikenakan bocah itu, baju hitam, topeng hitam, sarung tangan hitam, jenis baju yang dikenakan oleh seorang&#8230; \u201cKamu pencuri itu!\u201d suara Sari bergetar penuh ketakutan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIjinkan aku masuk, Kak.\u201d rengek bocah itu. \u201cKalau sampai tertangkap, mereka akan membunuhku.\u201d Suaranya serak, seperti mau menangis.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKenapa kamu jadi pencuri?\u201d Sari bertanya penuh kemarahan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIjinkan aku masuk dulu, Kak. Nanti akan aku jelaskan semuanya.\u201d Budi merangsek, tapi Sari tetap tidak memberinya jalan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cLepas dulu bajumu.\u201d Sari memerintah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cHah?\u201d Budi menatap tak percaya. \u201cBuat apa?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cPokoknya, lepas dulu bajumu.\u201d Sari bersikeras.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKenapa, Kak?\u201d Budi meminta alasan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSebagai jaminan. Kalau kamu nakal lagi, aku akan menyerahkan baju itu ke Pak RT, biar kamu diadili, dimasukkan ke dalam penjara.\u201d sahut Sari kesal.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAh, jangan, Kak.\u201d Budi mengembik.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMakanya jangan nakal. Ayo, sekarang lepas bajumu!\u201d Sari melotot.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSemuanya?\u201d tanya bocah itu ketakutan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIya, semuanya.\u201d Sari menatap tajam saat Budi mulai mencopoti bajunya satu per satu. \u201cEh, apa itu?\u201d tanyanya curiga saat melihat sesuatu yang menonjol di balik celana dalam adik iparnya. \u201cBarang curianmu, ya?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAh, bukan, ini&#8230;\u201d Budi bingung mau menjawab apa.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSini keluarkan!\u201d Sari membentak cepat.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cJangan, Kak. Ini kon&#8230;\u201d tapi belum sempat bocah itu menyelesaikan kalimatnya, Sari sudah keburu mengulurkan tangannya untuk menyentuh benda itu, akibatnya&#8230;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAh,\u201d muka wanita cantik itu langsung memerah seperti kepiting rebus.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEhm, maafkan aku, Kak.\u201d Budi menunduk, tak berani menatap wajah kakak iparnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Gairah Sari yang tadi sempat meredup, kini terpancing lagi begitu merasakan kehangatan gundukan daging itu. \u201cKenapa bisa ngaceng kaya gini?\u201d tanyanya sambil mengelus-elus benda itu dari luar celana.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Budi yang merasa keenakan, tidak langsung menjawab. Bocah itu malah mendesah kegelian merasakan belaian tangan Sari di kemaluannya. \u201cEmm, Tapi janji ya, Kak, jangan marah.\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIya,\u201d Sari mengangguk.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Setelah menelan ludahnya, bocah itu berbisik. \u201cEmm, lihat aja tubuh Kakak, siapa juga yang tahan lihat tubuh indah kaya gini?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sari menunduk untuk memandangi tubuhnya. Meskipun saat itu gelap, tapi tonjolan pinggul dan payudaranya tampak terlihat jelas, begitu juga dengan puting dan rambut kemaluannya yang tercetak samar-samar, ditambah dengan paha putih mulus yang sedikit tersingkap, jadilah Sari seperti bidadari yang telanjang malam itu. Pantas saja Budi jadi ngaceng dibuatnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKamu suka tubuh Kakak?\u201d Sari bertanya dengan kerling mata menggoda. Di bawah, tangannya masih terus mengelus-elus penis bocah itu, membuat kontol Budi yang sudah menegang menjadi makin membesar dan mengembung di balik celananya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAh, suka, Kak.\u201d bocah itu mengangguk. \u201cSuka sekali.\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKalau begitu, ayo cepat masuk.\u201d suara orang-orang yang sedang berlari mendekat menuju rumah itu membuat Sari terpaksa menyingkirkan badan, memberi jalan bagi Budi agar segera bersembunyi di dalam rumahnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cDiam disitu.\u201d Sari menyuruh bocah itu agar menunggu di dapur. Tapi bukannya menurut, Budi malah mendekat dan merangkul Sari dari belakang. \u201cAuw!\u201d wanita itu langsung memekik lirih. Senter yang dipegangnya terjatuh ke lantai saat tangan Budi menyusup untuk meremas-remas payudaranya yang bulat dengan lembut.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAh, apa yang&#8230;\u201d protes Sari terpotong oleh suara gaduh di luar rumah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Para peronda malam sudah sampai di belakang rumahnya. Dia tidak boleh bersuara kalau tidak mau ketahuan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMaling itu lari kesini. Cepat cari!\u201d lagi-lagi suara Pak RT. Beberapa orang terdengar menyisir semak-semak, diikuti beberapa pemuda yang membawa lampu sorot besar, sisanya mengintip ke dalam kamar mandi Sari yang terbuka.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cTidak ada, Pak.\u201d seorang remaja memberi laporan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cCari terus, dia tidak mungkin lari jauh.\u201d geram Pak RT.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sementara di luar orang ramai mencari dirinya, di dalam, Budi makin merapatkan pelukannya ke tubuh kakak iparnya yang aduhai. Dengan gemas, bocah itu memijit dan mengusap-usap payudara bulat milik Sari. Jari-jarinya yang panjang menari-nari, menggelitik dan memilin-milin puting Sari yang mungil kemerahan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cUhh,\u201d wanita itu menggelinjang dan melenguh tanpa suara. Di depan mereka, cuma dipisahkan oleh tembok dapur, beberapa orang masih terus menyisir halaman belakang.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cHentikan, Bud. Banyak orang disini sekarang.\u201d bisik Sari lirih mengingatkan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tapi Budi tetap membandel, \u201cMereka tidak dapat melihat kita, Kak.\u201d Bocah itu terus memeluk dan meremas-remas payudara besar milik kakak iparnya. Bahkan kini salah satu tangannya turun ke bawah untuk menjamah vagina Sari yang berambut tipis.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAh, jangan, Bud.\u201d Sari memberontak, tapi usahanya yang setengah hati membuat Budi terus menelusurkan tangannya. Bocah itu mengusap-usap paha Sari sebentar sebelum akhirnya menyusupkan jarinya untuk mengorek-orek bibir kemaluan wanita cantik itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAhhh,\u201d tubuh Sari mengejang. Rasa risih yang dari tadi menyandera dirinya langsung menguap hilang begitu merasakan nikmatnya tusukan jari-jari itu. Wanita itu melenguh keenakan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sambil terus meraba tubuh kakak iparnya, Budi menyingkirkan rambut yang menutupi tengkuk jenjang Sari. Dengan bibirnya yang tebal, bocah itu mencicipi kelembutan kulitnya yang sedikit berbulu, juga pipi Sari yang empuk kemerahan, dan berakhir di bibir wanita itu yang manis dan tipis. Mereka berciuman, sangat panas dan sangat lama. Bibir mereka bertemu dan bersatu rapat dengan lidah saling membelit dan menghisap. Hidung mereka yang saling bergesekan menjadi saksi betapa nikmatnya ciuman pertama itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cHah&#8230; hah&#8230;\u201d Sari megap-megap saat Budi melepaskan bibirnya. Wanita itu segera menarik nafas panjang untuk mengisi paru-parunya yang kosong dengan udara. Dia sampai lupa bernafas karena saking nikmatnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Di belakangnya, Budi tersenyum penuh kepuasan. Dia yang culun, tak pernah menyangka akan bisa merasakan kehangatan tubuh kakak iparnya yang aduhai seperti sekarang ini, orang yang sudah menjadi fantasinya di tempat tidur sejak pertama kali dia melihatnya bersanding dengan Mas Tarno di pelaminan 2 bulan yang lalu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cDilepas ya, Kak?\u201d bisik Budi sambil berusaha membuka baju tidur Sari. Jari-jari tangannya dengan terampil meloloskan ikatannya hingga membuat kain tipis transparan itu luruh dengan cepat ke lantai.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sari menggeliat merasakan tubuhnya yang sekarang telanjang. Dibokongnya, dia merasakan penis Budi yang besar menempel ketat dan menyodok-nyodok minta diijinkan untuk masuk. Entah kapan bocah itu melepas celana dalamnya karena tahu-tahu sekarang mereka berdua sudah sama-sama telanjang. Tubuh bugil mereka berpelukan dengan erat, dengan lubang kelamin yang sama-sama basah, tampak saling menginginkan kehadiran satu sama lain.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAiihhh,\u201d Sari mendesah pelan saat jari-jari nakal Budi kembali menggerayangi kemaluannya. Bocah tanggung itu mengusap-usap vagina Sari hingga membuat daging kemerahan yang sudah basah itu menjadi lebih basah lagi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSudah, Bud. Kakak sudah nggak tahan lagi.\u201d rengek Sari sambil tangannya menggapai-gapai, mencari penis Budi yang dari tadi terus menyundul-nyundul bokongnya. Saat menemukannya, wanita itu langsung menggenggamnya erat dan mengocoknya dengan cepat. Benda itu terasa keras dan hangat, juga besar. Ujungnya yang tumpul sedikit berlendir, dengan rambut-rambut halus yang mulai tumbuh di sekitar pangkalnya. Sari menyukainya. Inilah penis brondong pertama yang akan mengisi kemaluannya. Wanita itu menekuk tubuhnya, menungging. Sambil berpegangan pada pintu dapur, Sari membuka kakinya, mempersilahkan Budi untuk menusuknya dari belakang.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cLakukan, Bud. Kakak sudah siap.\u201d Pintanya tanpa malu-malu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Budi meludahi penisnya agar benda itu menjadi sedikit licin. Dengan memajukan pinggulnya, bocah itu mengarahkan penisnya. Ujungnya yang gundul tepat menuju ke bibir kemaluan Sari yang sedikit terbuka. sambil menahan nafas, Budi mendorongnya, dan&#8230;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cOhhhhh,\u201d kakak iparnya langsung memekik lirih, tak peduli dengan kehadiran orang-orang yang saat itu masih memenuhi halaman belakang rumahnya. Tubuh wanita cantik itu bergetar dan menggelinjang pelan saat Budi mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cGimana, Kak, enak?\u201d tanya bocah itu sambil memegangi pinggul Sari yang bulat dengan kencang.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEnak banget, Bud. Ohhh&#8230; Terus!\u201d Sari menjawab di sela-sela rintihannya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Gesekan penis Budi di dinding vaginanya benar-benar membuat wanita cantik itu melayang. Rasanya sungguh luar biasa. Inilah yang dia cari sejak tadi, penis yang mampu memuaskan gairahnya. Setelah dikecewakan dan dicueki oleh suaminya, sekarang Sari mendapat ganti yang setimpal. Budi adalah orang yang tepat untuk mengantarnya menggapai kenikmatan tertinggi: orgasme yang dahsyat dan berulang-ulang, terus sepanjang malam, hingga membuat wanita itu pingsan kelelahan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKamu mau kan, Bud?\u201d tanya Sari diantara lamunannya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEm, mau apa, Kak?\u201d Budi bertanya tak mengerti. Tangannya kini pindah ke depan, memegangi payudara Sari yang terayun-ayun indah di setiap goyangannya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cOh, tidak. Tidak usah dipikirkan.\u201d Sari mengutuk kebodohannya sendiri. \u201cTeruskan saja goyanganmu.\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Budi kembali menggerakkan penisnya, kali ini dengan lebih cepat karena vagina Sari sudah sedemikian basahnya. Dia juga menusuk makin ke dalam, membuat Sari makin merintih dan menggelinjang keenakan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKamu pinter banget, Bud. Sudah sering ya main beginian?\u201d tanya Sari sambil ikut menggerakkan pinggulnya, mengimbangi goyangan Budi yang terasa makin kencang.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cNggak sering juga sih, Kak.\u201d Budi menunduk untuk menciumi punggung dan leher kakak iparnya. \u201dTapi pernah, beberapa kali.\u201d Dan menggelitikkan lidahnya disana.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAhhh,\u201d Sari mendesah kegelian. \u201cS-sama pacar kamu ya?\u201d tebaknya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBudi belum punya pacar.\u201d jawab bocah itu jujur, membuat Sari sampai menoleh karena kaget.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cTerus sama siapa?\u201d tanyanya penasaran.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEhmph,\u201d tapi bukannya menjawab, Budi malah menyambar dan melumat bibir tipis Sari dengan rakus. Sambil mencium, bocah itu juga terus memijit dan meremas-remas bongkahan payudara kakak iparnya yang membusung. Sementara di bawah, penis besarnya terus menusuk-nusuk, menggesek dan menyeruak masuk, mengobrak-abrik kemaluan wanita itu yang makin basah kemerahan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cUhhhh,\u201d Sari merintih keras. Tidak peduli meski saat itu di belakang rumahnya sedang banyak orang. Bodoh amat, pikirnya. Biar aja ketahuan, yang penting dia bisa puas malam ini. Paling kalo ketahuan, yang mergoki juga pengen ikutan main. Membayangkan para peronda yang jumlahnya puluhan mengeroyok dirinya, anehnya malah membuat Sari makin bergairah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cLebih keras, Bud. Oohhh&#8230;\u201d wanita itu membetulkan posisi bokongnya. \u201cGoyang lebih cepat!\u201d perintahnya. Sari berpegangan erat ke pintu dapur saat Budi dengan senang hati memenuhi permintaannya. Penis hitam bocah itu menghunjam keras berkali-kali, menusuk hingga mentok ke dalam rahimnya, menggesek dinding kemaluannya yang sudah sangat basah, dan menggelitik kelentitnya hingga membuat wanita itu merintih-rintih lirih keenakan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cJangan keras-keras, Kak, teriaknya.\u201d Budi mengingatkan Sari yang sepertinya mulai hilang kendali. \u201cNanti ketahuan.\u201d Dia tidak mau diarak ke balai desa sekarang karena ketahuan berselingkuh dengan kakak iparnya yang cantik ini. Bocah itu masih ingin merasakan tubuh sintal Sari lebih lama lagi. Tapi sepertinya peringatan Budi itu sudah terlambat, karena tak sampai 1 detik kemudian, terdengar ketukan ringan di pintu dapur di depan mereka.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMbak Sari?\u201d itu suara Pak RT. \u201cMbak tidak apa-apa?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dengan terkesiap, Budi langsung menghentikan goyangannya. Begitu juga dengan Sari, wanita itu segera membekap mulutnya agar tidak bersuara lagi. Untuk sesaat, suasana cukup tegang.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMbak perlu bantuan?\u201d tanya Pak RT lagi sambil mengetuk pintu dapurnya lebih keras.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cGawat nih,\u201d batin Sari dalam hati. \u201cKalau nggak dijawab, bisa-bisa ngebangunin Mas Tarno.\u201d dia tidak mau suaminya memergoki dirinya yang berdua berpelukan dengan Budi dengan tubuh telanjang, dengan alat kelamin mereka yang sedang menyatu erat.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cJawab, Mbak.\u201d bisik Budi sambil menarik keluar penisnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAhh,\u201d gesekannya yang memabukkan kembali membuat Sari merintih.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBuka pintunya, Mbak.\u201d kembali terdengar suara cempreng Pak RT, dan sebelum laki-laki itu memukul-mukul pintunya lagi, Sari segera menguaknya sedikit, sekedar cukup untuk dia mengintip keluar.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cOhh,\u201d di halaman belakangnya, berkumpul hampir 10 lelaki. Semuanya adalah tetangganya yang sudah dia kenal. Sementara Sari menghitung siapa saja yang ada di situ, di depannya, Pak RT memandang tubuhnya tanpa berkedip. Begitu juga dengan kesembilan orang yang lain. Bahkan Mbah Kosim, orang tertua yang ada disitu, sampai menjatuhkan pentungannya karena saking terkejutnya. Berdiri di antara celah-celah pintu, Sari tampak lupa dengan tubuhnya yang telanjang. Dia cuma menyembunyikan pinggulnya karena di situ ada Budi yang sekarang asyik menjilati memeknya. Sementara payudaranya yang besar, tetap dia biarkan terburai keluar, hingga menjadi pemandangan yang mengasyikkan bagi kesepuluh orang itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEh, m-mbak Sari t-tidak apa-apa?\u201d tanya Pak RT gelagapan sambil kesulitan menelan ludahnya. Matanya terpaku pada payudara Sari yang putih mulus. Meski cuma terlihat sedikit, tapi itu sudah cukup untuk membuat laki-laki setengah baya itu berkeringat dingin. Dibelakangnya, para peronda malam berjalan mendekat agar bisa melihat pemandangan itu lebih jelas lagi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cI-iya, pak. Tadi ada tikus, auw!\u201d Sari menjerit saat dibelakangnya, Budi mencucup vaginanya yang basah dengan keras.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cA-ada apa, mbak?\u201d Pak RT bertanya ragu, bingung antara rasa khawatir dan kepingin.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cB-bukan apa-apa.\u201d Sari mencoba tersenyum. tapi rasa nikmat di selangkangannya mustahil untuk dielakkan. Akibatnya, wanita itu kembali mendesah.\u201dAhhhhh!\u201d membuat kesepuluh orang di depannya, ikutan mendesah. Bahkan ada beberapa yang sudah gak tahan, mulai mengelus-elus penisnya sendiri.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cM-mbak hati-hati ya,\u201d kata Pak RT lagi sambil matanya tetap tak berkedip merayapi tonjolan buah dada wanita didepannya, berusaha mencari-cari putingnya yang bersembunyi di balik bayang-bayang. \u201cTadi ada maling disini.\u201d lanjutnya serak dengan muka merah padam menahan gairah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sari mengangguk tanpa suara. Dia bukannya tidak menyadari arah pandangan mata pak RT dan semua laki-laki yang ada disana, dia tahu itu sejak pertama kali dia membuka pintu. Sari cuma tidak mengira, di malam yang gelap ini, dan dengan celah yang cuma sedikit, tubuhnya akan terlihat jelas. Padahal sebenarnya, itulah yang terjadi, tubuh Sari seperti menyala di malam tanpa bulan ini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMau saya bantuin nangkepin tikusnya, Mbak?\u201d tanya seorang lelaki pendek gempal yang sering dilihat Sari nongkrong di warung Yu Ijah. Tampak tonjolan daging di selangkangan laki-laki itu sudah sedemikian besarnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIya, Mbak. Biar nggak nakutin mbak Sari lagi.\u201d sahut temannya yang lain, seorang lelaki berkulit gelap dengan rambut panjang dikuncir kebelakang.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKalo soal nangkep tikus, saya jagonya mbak.\u201d timpal yang lain. Sari tidak tahu siapa yang bersuara karena tiba-tiba saja semua mengajukan diri untuk membantu menangkap tikusnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cHush, sudah-sudah.\u201d Pak RT melerai. \u201cKita disini ini mau nangkep maling, bukan nangkep tikus.\u201d ketus laki-laki itu pada anak buahnya. Tapi dalam hati juga tidak menolak seandainya Sari tiba-tiba meminta dirinya untuk membantu menangkap tikus itu. Sapa tau nanti dapat imbalan tubuh Sari yang montok. Uh, membayangkannya saja sudah membuat laki-laki setengah baya itu menelan ludah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEhm, m-makasih bapak-bapak. Tapi, ahhhhh&#8230;. t-tikusnya sudah pergi kok.\u201d jawab Sari terbata-bata dengan tubuh menggelinjang.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Di bawahnya, tersembunyi di balik pintu, Budi terus mengobok-obok kemaluannya. Bukan hanya dengan lidah, sekarang bocah itu juga menggunakan dua jarinya untuk mengocok memek Sari, membuat benda itu makin basah dan panas.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Pak RT sudah akan berkata lagi ketika Sari mulai menutup pintunya. \u201cMaaf ya, Pak. Sudah malam, saya mau tidur dulu.\u201d pamitnya ramah. Raut kekecewaan langsung terpancar di wajah para tetangganya begitu mengetahui kalau pemandangan indah itu akan segera berakhir.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cI-ya, Mbak. Silahkan.\u201d sahut Pak RT.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSemoga malingnya cepat tertangkap, Pak.\u201d Sari tersenyum dan menutup pintunya, kemudian menguncinya dari dalam.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Di belakangnya, Pak RT menghela nafas panjang. Begitu juga dengan beberapa orang yang lain. Sisanya, tanpa permisi langsung ngacir ke rumah masing-masing untuk meniduri istri-istri mereka yang meski tidak secantik Sari tapi cukup lumayan sebagai tempat pelampiasan hasrat.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSebaiknya kita pulang juga.\u201d Pak RT akhirnya memutuskan saat melihat cuma tersisa 2 orang di tempat sepi itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMalingnya gimana, Pak?\u201d tanya Mbah Kosim sambil benerin letak kacamatanya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBesok aja. Kita tunggu kalau dia beraksi lagi.\u201d Akhirnya, beriringan mereka pergi meninggalkan tempat itu, memberi keleluasaan bagi Sari dan Budi untuk melanjutkan hasrat mereka yang tadi sempat tertunda.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKak, jilatin ya, mau kan?\u201d Budi mengecup leher Sari yang jenjang, lalu terus merambat naik ke pipi dan bibirnya. Sari membalas ciuman itu dengan lembut. Lidah mereka bertemu sebentar untuk saling menyentuh dan menghisap.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cGede banget kontolmu, Bud.\u201d bisik Sari lirih sambil membelai-belai daging hitam itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIya, Kak. Cepet diisep, ya?\u201d Budi tidak menanggapi pujian kakak iparnya. Dia menyerahkan penis hitamnya pada Sari, membiarkan wanita cantik itu untuk menggenggam dan mengelusnya pelan. Terasa begitu kuat dan kokoh, membuat Sari jadi takjub. Mungkin dia akan benar-benar mendapat kepuasaan kali ini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAyo, Kak, cepet diisep!\u201d pemuda itu mendorong penisnya, sedikit memaksa saat memasuki bibir mungil Sari.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cHmmph,\u201d dengan agak kesulitan Sari membuka mulutnya dan menelan daging panjang itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIya, gitu, Kak. Isep terus.\u201d Budi mendesah. \u201cEnak, Kak.\u201d Matanya merem melek merasakan gesekan bibir Sari di batang penisnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tidak menjawab, Sari terus mengulum benda hitam itu. Dia juga menyukainya. Penis itu begitu panjang dan gemuk, membuat mulutnya yang mungil jadi tidak sanggup untuk menampung semuanya. Batang itu juga terus bergetar dan berkedut-kedut di dalam mulutnya tiap kali Sari menghisap ujungnya, ujung yang gundul dan tumpul, yang pasti akan terasa nikmat sekali saat menembus vaginanya nanti.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSuka ngisep kontol ya, Kak?\u201d Budi bertanya kurang ajar saat melihat kakak iparnya yang tampaknya bernafsu sekali menggarap penisnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEhm, ahmmph!\u201d cuma itu jawaban dari Sari karena sekarang mulutnya penuh oleh kontol pemuda itu. Sambil mengulum, wanita cantik itu juga mengocoknya pelan, malah kadang-kadang jilatannya turun menuju buah pelir Budi untuk sekedar mencucup dan menjilatinya sebentar<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cOouhh, Kak..\u201d Budi kembali mendesah. Dia tidak pernah menyangka jilatan kakak iparnya akan begitu nikmat seperti ini. Melihat keseharian Sari yang bersih dan rapi, sepertinya mustahil bagi wanita cantik itu untuk mau berbuat kotor seperti ini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cApa Kakak nggak jijik?\u201d tanya pemuda itu dengan suara bergetar.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sari mendongak. \u201cKontolmu enak. Kakak suka.\u201d Dan selesai menjawab, dia kembali mencaplok daging panjang itu, membuat Budi kembali mendesah dan menggeliat-geliat dengan mata merem melek keenakan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cS-sudah, Kak. Aku sudah nggak tahan.\u201d Budi menarik kepala Sari, meminta wanita untuk berhenti. \u201cAku nggak mau keluar di mulut Kakak.\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sari tersenyum dan mengelap bibirnya yang basah dengan baju tidurnya. \u201cTerus, maunya keluar dimana?\u201d dia memancing.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cDisini!\u201d jawab Budi cepat sambil mengelus-elus vagina Sari yang sudah sangat basah. Begitu basahnya hingga beberapa menetes membasahi lantai dimana wanita itu tadi berjongkok.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMau melakukannya sekarang?\u201d Sari bertanya sambil mulai naik ke atas meja makan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIya, Kak. Aku sudah nggak tahan.\u201d sahut Budi sambil melotot memperhatikan kakak iparnya yang dengan gerakan indah dan erotis berbaring di atas meja dan membuka belahan pahanya lebar-lebar.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cLakukanlah, Bud. Kakak sudah siap.\u201d Sari mengelus-elus vaginanya yang basah, yang tetap terlihat indah dan menggoda meski saat itu suasana begitu gelap.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Budi yang sudah menunggu saat-saat itu, segera memposisikan penisnya. Dia berdiri di tepi meja, tepat di depan Sari, dengan ujung penis menempel di bibir kemaluan wanita cantik itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAyo, lakukan.\u201d pinta Sari sambil menggerakkan pinggulnya ke depan untuk menyambut datangnya penis itu yang perlahan mulai mendesak lubang kencingnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cUughhh,\u201d Budi mendorong terus, berusaha memaksa penis besarnya untuk terus masuk.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cTekan lebih kuat!\u201d Sari memberi semangat. Dia juga sudah tak sabar ingin segera merasakan kontol besar Budi mengisi dan memenuhi liang rahimnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cTahan ya, Kak.\u201d Budi berpegangan pada payudara Sari yang besar dan mendorong. Bles&#8230; slep! Penis besarnya menyeruak masuk, merobek dan mengiris kemaluan Sari yang sempit dan legit.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cUaargghhgggh!\u201d mereka menjerit berbarengan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSst,\u201d Sari menyambar bibir tebal Budi, menyuruh pemuda itu untuk diam. \u201cJangan keras-keras, nanti abangmu bangun.\u201d Dia membiarkan Budi melumat bibirnya sementara di bawah, penis raksasa milik pemuda itu mulai bergerak pelan, menggesek dan menjelajahi vaginanya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cHabisnya&#8230;\u201d Budi mempercepat goyangannya. \u201cTubuh Kakak nikmat sekali.\u201d bisik pemuda itu sambil meremas payudara Sari keras-keras.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAuw!\u201d Sari memekik kesakitan, tapi tidak marah. Dia malah tersenyum, \u201cK-kamu suka tubuh Kakak?\u201d tanyanya kemudian.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cS-suka banget, Kak.\u201d Budi menunduk untuk mencium dan menjilati puting payudara Sari yang tampak mencuat indah di depannya. Seperti bayi yang kehausan, pemuda itu mencucup dan menghisap-hisapnya dengan penuh nafsu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cUhh, geli, Bud,\u201d Sari merintih, tapi tetap membiarkan pemuda itu melakukannya. Dia bahkan menekan kepala Budi, seperti menyuruhnya untuk menjilat dan menghisap lebih keras lagi. Siapapun orangnya, pasti juga akan suka diserang atas bawah seperti itu, tak terkecuali Sari. Tubuh wanita itu terlonjak-lonjak dan menggelinjang kesana-kemari mendapat serangan beruntun dari adik iparnya. Dia menceracau panjang pendek menikmati genjotan dan sodokan Budi pada tubuh sintalnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAahhh&#8230; Yaa, terus, Bud. Terus!\u201d rintih Sari tiap kali paha Budi menabrak pantatnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Penis pemuda itu terus bergerak liar, menggesek dan menggelitik dinding rahimnya, makin lama makin cepat hingga membuat Sari makin menggeliat-liat keenakan. Rasa geli, nikmat dan entah apalagi, berbaur menjadi satu di dalam tubuhnya. Dia bisa melihat bagaimana batang penis adik iparnya yang besar itu keluar masuk dengan lancar di dalam liang kemaluannya. Meski tidak bisa menampung semuanya, tapi itu sudah cukup untuk membuat Sari menahan nafas tiap kali benda itu meluncur masuk menusuk ke dalam miliknya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cOohhhh\u2026 memek Kakak enak banget!\u201d gumam Budi di sela-sela genjotannya. \u201cSudah dari dulu aku membayangkan ini.\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAh, benarkah?\u201d Sari tidak pernah menyangka kalau diam-diam ternyata dia menjadi fantasi liar adik iparnya. Tapi Budi tidak salah juga sih, siapapun pasti akan melakukan hal yang sama kalau punya kakak ipar secantik dan seseksi Sari.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSejak pertama lihat Kakak, saya sudah bayangin bisa ngentot bareng gini.\u201d Budi berterus-terang. Dia sudah tidak malu lagi untuk mengungkapkan isi hatinya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sari cuma bisa bersemu merah saat mendengarnya. Selain tak menyangka dengan kejujuran adik iparnya, dia juga sudah mulai tak tahan. Gesekan penis Budi di lubang vaginanya benar benar nikmat, membuat dia tak tahan untuk menahan lebih lama lagi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKakak nggak marah kan?\u201d Budi bertanya saat melihat Sari yang cuma diam dengan mata terpejam.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sari menggeleng, \u201cKalau Kakak marah, apa bisa kamu ngentoti kakak sekarang?\u201d tanyanya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Budi tersenyum lega. \u201cTerima kasih, Kak.\u201d Dia menunduk untuk melumat bibir tipis Sari dengan mesra. Tangannya kembali meremas-remas payudara besar milik kakak iparnya yang membusung.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cJangan kecewakan Kakak. Tunjukkan kalau kamu bisa menjadi laki-laki sejati. Puaskan aku!\u201d bisik Sari dengan nafas memburu. Keringat sudah membanjiri tubuh sintalnya yang telanjang, padahal saat itu udara malam begitu dingin. Itu tanda kalau Sari sebentar lagi sudah mau orgasme.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIya, Kak.\u201d Budi mengangguk. \u201cEmang Mas Tarno nggak bisa muasin Kakak ya?\u201d tanya pemuda itu. Seingatnya Mas Tarno juga punya penis yang besar. Nggak kalah dengan miliknya. Sepertinya nggak mungkin kalau dia tidak bisa muasin istrinya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBang Tarno sedang tidur.\u201d hanya itu jawaban dari Sari, sebuah jawaban yang tidak jelas sama sekali.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tapi Budi tidak ambil peduli. Yang penting sekarang dia bisa merasakan kehangatan tubuh bugil Sari, tanpa harus tahu apa alasannya. Dia akan menikmati saat-saat indah ini sebaik mungkin karena bisa saja sewaktu-waktu Abangnya bangun dan memergoki mereka berdua. Budi tidak mau itu terjadi karena itu bisa sangat berbahaya. Jadi bocah itu segera memompa pinggulnya lebih cepat lagi dan menusukkan penisnya lebih dalam, berharap dengan begitu ia bisa segera meraih orgasmenya bersamaan dengan Sari yang sekarang mulai menjerit-jerit.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAhh, Bud, Ugghhhgh&#8230; A-aku dapet, Bud.\u201d Vagina wanita itu terasa makin berkedut-kedut dan makin lama terasa makin kencang hingga dua detik kemudian&#8230; \u201cAARRGGHHHRGGHHHH!!\u201d Sari pun melengking tinggi dan melepas. Tubuh wanita itu melengkung ke belakang saat vaginanya meledak, menyemburkan cairan cinta lengket yang langsung merendam kontol besar milik Budi hingga ke ujung pangkalnya, beberapa bahkan merembes menetes di lantai karena saking banyaknya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEnak, Kak?\u201d tanya Budi sambil terus menggerakkan pinggulnya, membuat penisnya yang besar terus bergesekan dengan dinding rahim Sari yang sekarang sudah begitu basahnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEhh, hahh.. hahh.. hahh..\u201d cuma itu jawaban yang keluar dari bibir mungil Sari. Wanita itu bernafas pendek-pendek untuk menikmati sisa-sisa orgasme yang masih melanda tubuh sintalnya. Matanya sedikit terpejam dengan tubuh masih setengah gemetar. Dia pasrah saja ketika Budi menarik tubuhnya dan menyuruhnya untuk nungging di sebelah meja makan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMasih lama, Bud?\u201d tanya Sari sambil menahan nafas saat adik iparnya itu kembali memasukkan penisnya, kali ini dari belakang. \u201cUghh!\u201d dia melenguh pelan saat merasakan benda itu menerobos masuk dan meluncur cepat hingga mentok menabrak dinding rahimnya. \u201cEhm, pelan-pelan, Bud.\u201d Sari mengernyit kesakitan, tapi di sisi lain juga menggelinjang kegelian karena gesekan kontol itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEngh, s-sebentar lagi, Kak. Tinggal sedikit lagi.\u201d Budi meraih payudara Sari yang menggantung indah dan meremas-remasnya pelan. \u201cMau dikeluarin dimana, di dalam apa di luar?\u201d tanyanya sambil mulai menggoyangkan pinggul. Dari belakang seperti ini, vagina Sari terasa lebih menggigit, jepitannya terasa semakin kencang.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cN-nggak usah buru-buru, Bud. Santai saja. Kita nikmati malam ini sepuasnya.\u201d sahut Sari manja. Dia mendesah sambil meremas-remas taplak meja menikmati genjotan adik iparnya yang terasa makin mantab.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dibelakangnya, Budi menggeleng. Mana bisa dia menahan lebih lama lagi kalau penisnya terus diremas dan diurut seperti ini. Memek Sari terasa berkedut-kedut makin kencang membungkus penisnya, membuat Budi yang sudah kegelian menjadi semakin geli. Geli tapi nikmat. Begitu nikmatnya hingga pemuda itu menggeram saat tak bisa lagi menahannya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cUAARRGGGHHHHHHH!!\u201d dengan tusukan dalam, spermanya yang dari tadi rasanya sudah berada di ujung akhirnya terlepas, meledak dan menyembur menyiram rahim Sari yang hangat, membuat benda itu menjadi semakin penuh dan lengket sekarang.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEhmmm,\u201d Sari merintih saat perlahan Budi menarik penisnya dan memberikannya untuk dikulum.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBersihkan ya, Mbak.\u201d Bocah itu meminta.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sedikit mendesah, Sari meraih kontol Budi yang basah dan lengket. Dengan mata masih setengah terpejam, wanita cantik itu segera menelannya. Jarum jam menunjukkan pukul 2 dinihari ketika dua insan manusia itu akhirnya terbaring lemas di lantai dengan tubuh telanjang berpelukan beralaskan pakaian masing-masing.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cTerima kasih, Bud.\u201d bisik Sari manja sambil mencium kening adik iparnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSaya yang terima kasih, Kak\u201d Budi meremas pelan payudara Sari yang menempel di bahunya, terasa begitu lembut dan kenyal. \u201cSaya sudah diijinin ngerasain tubuh Kakak.\u201d Dengan gemas dia memijit dan memilin-milin putingnya yang mencuat indah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKamu suka tubuh Kakak yang kaya gini?\u201d Sari menunjuk perut hamilnya yang sedikit membusung.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKakak tetap cantik kok. Tubuh kakak selalu bisa memancing gairahku, apapun keadaanya.\u201d terang Budi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBeneran?\u201d Sari bertanya tak percaya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cNih buktinya.\u201d Bocah itu menarik tangan Sari dan mengarahkan ke selangkangannya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAuw,\u201d wanita itu menjerit kaget saat merasakan penis Budi yang kembali menegang dahsyat dalam genggamannya. \u201cSudah bangun lagi? Padahal baru juga 5 menit.\u201d Sari berseru, kagum bercampur senang.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cLima menit atau sepuluh menit nggak ada bedanya, Kak. Aku ingin ngentotin Kakak sepuasnya. Boleh kan?\u201d bisik Budi sambil mengendus leher jenjang kakak iparnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cOuh, lakukan, Bud. Lakukan apa yang kamu inginkan.\u201d Sari mendesah. \u201cAku milikmu malam ini.\u201d kejantanan bocah itu telah membuat Sari terbuai. Berapa kalipun Budi menginginkannya, Sari akan dengan senang hati memberikan tubuhnya karena dia juga menikmati permainan pemuda itu. Sangat menikmati malah. Jadi saat Budi membaringkan kembali tubuhnya di atas meja makan, Sari pun langsung menurut dan pasrah saja.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">***<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSayang, bangun. Kok tidur disini sih?\u201d Tarno menepuk-nepuk bahu sang istri yang terlelap duduk di kursi meja makan. \u201cNggak pake baju lagi. Nanti masuk angin lho.\u201d Laki-laki itu memunguti baju Sari yang berserakan dan menyampirkan ke tubuh sang istri. Tarno luput mengamati sebuah kain penutup wajah berwarna hitam yang tergeletak di bawah kursi yang tampak basah penuh dengan sperma.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEhm, oaahmm&#8230;\u201d Sari menguap dan mengucek matanya. \u201cJam berapa sekarang, Pa?\u201d dia menggeliat untuk melemaskan tubuhnya yang seperti remuk redam setelah dihajar Budi 3 ronde selama semalam suntuk. Baru satu jam lalu mereka selesai. Budi pulang lewat pintu belakang dan Sari yang kelelahan akhirnya tertidur di kursi tanpa sempat mengenakan bajunya kembali.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cJam 5 pagi.\u201d sahut Tarno sambil mencolek mesra dada sang Istri. Saat laki-laki itu ingin meremasnya, Sari menghindar.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAku mau minum dulu, Pa. Haus.\u201d Wanita itu beranjak menuju kulkas.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sambil pura-pura mencari botol air, Sari mengelap sisa-sisa sperma Budi di payudaranya yang tampak masih belum kering benar. Tadi, di permainan terakhir, bocah itu menyemprot di wajah dan payudaranya. Sementara suaminya mandi, Sari segera mengelap tubuhnya dengan air hangat untuk menghilangkan bau dan jejak perselingkuhannya semalam. Biasanya, kalau malam nggak dapat jatah, Bang Tarno akan meminta di pagi hari sebelum berangkat kerja. Kalau sampai dia mencium bau sperma laki-laki lain di atas tubuhnya, dia bisa marah. Sari tidak mau itu terjadi. Dia masih ingin mengulangi lagi petualangannya yang mengasyikkan dengan Budi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cLagi ngapain, sayang?\u201d Tarno keluar dari kamar mandi dengan tubuh telanjang. Penisnya yang besar terlihat tegak mengacung. Dia berjalan menghampiri Sari sambil mengocok dan mengurut-urut benda itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cNungguin Papa.\u201d bisik Sari manja. Dia melirik penis sang suami dan mau tak mau membandingkannya dengan milik Budi dan Pak Karta. Ketiga-tiganya sama-sama besar dan panjang, dan semuanya sanggup untuk memuaskannya dengan cara masing-masing. Sari tidak bisa kalau disuruh memilih salah satu. Dia ingin tiga-tiganya. Selamanya.<\/div>\n<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Baca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/petualangan-kakakku-kak-alya-1\/\">Cerita Ngentot Petualangan Kakakku Kak Alya 1<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/petualangan-kakakku-kak-alya-2\/\">Cerita Ngewek Petualangan Kakakku Kak Alya 2<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/petualangan-kakakku-kak-alya-3\/\">Cerita Panas Petualangan Kakakku Kak Alya 3<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/petualangan-kakakku-kak-alya-4\/\">Cerita Porno Petualangan Kakakku Kak Alya 4<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/petualangan-kakakku-kak-alya-5\/\">Cerita Sange Petualangan Kakakku Kak Alya 5<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/petualangan-kakakku-kak-alya-6\/\">Cerita Dewasa Petualangan Kakakku Kak Alya 6<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/petualangan-kakakku-kak-alya-7\/\">Cerita Sex Petualangan Kakakku Kak Alya 7<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/petualangan-kakakku-kak-alya-8\/\">Cerita Mesum Petualangan Kakakku Kak Alya 8<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/petualangan-kakakku-kak-alya-9\/\">Cerita Lendir Petualangan Kakakku, Kak Alya 9<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/petualangan-kakakku-kak-alya-10\/\">Cerita Ngentot Petualangan Kakakku, Kak Alya 10<\/a><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cerita Ngentot Sari, Antara Tukang Becak, Suami Dan Adik Ipar &#8211; Udara dingin dalam cuaca mendung gelap yang menyesakkan. Sudah<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"colormag_page_container_layout":"default_layout","colormag_page_sidebar_layout":"default_layout","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-691","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.2 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Sari, Antara Tukang Becak, Suami Dan Adik Ipar - Cerita Dewasa Blog<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/sari-antara-tukang-becak-suami-dan-adik-ipar\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Sari, Antara Tukang Becak, Suami Dan Adik Ipar - Cerita Dewasa Blog\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Cerita Ngentot Sari, Antara Tukang Becak, Suami Dan Adik Ipar &#8211; Udara dingin dalam cuaca mendung gelap yang menyesakkan. Sudah\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/sari-antara-tukang-becak-suami-dan-adik-ipar\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Cerita Dewasa Blog\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-08-07T11:15:33+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-03-21T11:38:19+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"schmu\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"schmu\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"71 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/sari-antara-tukang-becak-suami-dan-adik-ipar\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/sari-antara-tukang-becak-suami-dan-adik-ipar\/\"},\"author\":{\"name\":\"schmu\",\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#\/schema\/person\/e40bae56bd62667590423d623c06d0bc\"},\"headline\":\"Sari, Antara Tukang Becak, Suami Dan Adik Ipar\",\"datePublished\":\"2025-08-07T11:15:33+00:00\",\"dateModified\":\"2026-03-21T11:38:19+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/sari-antara-tukang-becak-suami-dan-adik-ipar\/\"},\"wordCount\":13014,\"commentCount\":0,\"articleSection\":[\"Uncategorized\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/sari-antara-tukang-becak-suami-dan-adik-ipar\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/sari-antara-tukang-becak-suami-dan-adik-ipar\/\",\"url\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/sari-antara-tukang-becak-suami-dan-adik-ipar\/\",\"name\":\"Sari, Antara Tukang Becak, Suami Dan Adik Ipar - Cerita Dewasa Blog\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-08-07T11:15:33+00:00\",\"dateModified\":\"2026-03-21T11:38:19+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#\/schema\/person\/e40bae56bd62667590423d623c06d0bc\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/sari-antara-tukang-becak-suami-dan-adik-ipar\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/sari-antara-tukang-becak-suami-dan-adik-ipar\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/sari-antara-tukang-becak-suami-dan-adik-ipar\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Sari, Antara Tukang Becak, Suami Dan Adik Ipar\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#website\",\"url\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/\",\"name\":\"Cerita Dewasa Blog\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#\/schema\/person\/e40bae56bd62667590423d623c06d0bc\",\"name\":\"schmu\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/082dff75265c6bf01cb08afa8e9e3e49a15480050ab46bd77b7617e75204ec14?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/082dff75265c6bf01cb08afa8e9e3e49a15480050ab46bd77b7617e75204ec14?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/082dff75265c6bf01cb08afa8e9e3e49a15480050ab46bd77b7617e75204ec14?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"schmu\"},\"url\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/author\/schmu\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Sari, Antara Tukang Becak, Suami Dan Adik Ipar - Cerita Dewasa Blog","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/sari-antara-tukang-becak-suami-dan-adik-ipar\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Sari, Antara Tukang Becak, Suami Dan Adik Ipar - Cerita Dewasa Blog","og_description":"Cerita Ngentot Sari, Antara Tukang Becak, Suami Dan Adik Ipar &#8211; Udara dingin dalam cuaca mendung gelap yang menyesakkan. Sudah","og_url":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/sari-antara-tukang-becak-suami-dan-adik-ipar\/","og_site_name":"Cerita Dewasa Blog","article_published_time":"2025-08-07T11:15:33+00:00","article_modified_time":"2026-03-21T11:38:19+00:00","author":"schmu","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"schmu","Estimasi waktu membaca":"71 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/sari-antara-tukang-becak-suami-dan-adik-ipar\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/sari-antara-tukang-becak-suami-dan-adik-ipar\/"},"author":{"name":"schmu","@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#\/schema\/person\/e40bae56bd62667590423d623c06d0bc"},"headline":"Sari, Antara Tukang Becak, Suami Dan Adik Ipar","datePublished":"2025-08-07T11:15:33+00:00","dateModified":"2026-03-21T11:38:19+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/sari-antara-tukang-becak-suami-dan-adik-ipar\/"},"wordCount":13014,"commentCount":0,"articleSection":["Uncategorized"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/sari-antara-tukang-becak-suami-dan-adik-ipar\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/sari-antara-tukang-becak-suami-dan-adik-ipar\/","url":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/sari-antara-tukang-becak-suami-dan-adik-ipar\/","name":"Sari, Antara Tukang Becak, Suami Dan Adik Ipar - Cerita Dewasa Blog","isPartOf":{"@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#website"},"datePublished":"2025-08-07T11:15:33+00:00","dateModified":"2026-03-21T11:38:19+00:00","author":{"@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#\/schema\/person\/e40bae56bd62667590423d623c06d0bc"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/sari-antara-tukang-becak-suami-dan-adik-ipar\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/sari-antara-tukang-becak-suami-dan-adik-ipar\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/sari-antara-tukang-becak-suami-dan-adik-ipar\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Sari, Antara Tukang Becak, Suami Dan Adik Ipar"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#website","url":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/","name":"Cerita Dewasa Blog","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#\/schema\/person\/e40bae56bd62667590423d623c06d0bc","name":"schmu","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/082dff75265c6bf01cb08afa8e9e3e49a15480050ab46bd77b7617e75204ec14?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/082dff75265c6bf01cb08afa8e9e3e49a15480050ab46bd77b7617e75204ec14?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/082dff75265c6bf01cb08afa8e9e3e49a15480050ab46bd77b7617e75204ec14?s=96&d=mm&r=g","caption":"schmu"},"url":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/author\/schmu\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/691","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=691"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/691\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1434,"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/691\/revisions\/1434"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=691"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=691"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=691"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}