{"id":747,"date":"2025-08-07T18:33:21","date_gmt":"2025-08-07T11:33:21","guid":{"rendered":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/?p=747"},"modified":"2026-04-11T15:23:08","modified_gmt":"2026-04-11T08:23:08","slug":"rumahku-surga-dan-nerakaku","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/rumahku-surga-dan-nerakaku\/","title":{"rendered":"Rumahku, Surga dan Nerakaku"},"content":{"rendered":"<div style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/rumahku-surga-dan-nerakaku\/\">Cerita Porno Rumahku, Surga dan Nerakaku<\/a> &#8211; Sambil terseyum kuperhatikan tubuhku yang terpantul di cermin. Malam ini aku terlihat cantik dengan daster yang berwarna pink, tanpa menggunakan BH dan celana dalam. Bentuk dadaku yang berukuran 36 B tercetak jelas di balik daster dengan putingnya yang menonjol. Sebelumnya perkenankan aku memperkenalkan diri, namaku Dhea Nita, biasa dipanggil Dhea, usiaku baru 21 tahun, sedangkan nama suamiku Roy usia 32 tahun, seorang pengusaha sukses, ia jarang sekali di rumah karena sibuk dengan pekerjaannya sehingga sebagai istri muda yang baru memulai kehidupan rumah tangga setahun yang lalu seringkali merasa kesepian. Memang terkadang aku sedikit menyesal memilih menikah terlalu awal, aku meninggalkan bangku kuliah dan karena menikah dengannya karena cintaku padanya. Ibuku juga cenderung lebih mendorongku agar menikah saja dengan Mas Roy yang telah mapan itu daripada meneruskan kuliah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201csudahlah sayang, cermin itu bisa retak kalau kamu terlalu lama berdiri di situ!\u201c sahut suamiku sambil memeluk pinggangku dengan erat dan mencium lembut pipiku, \u201cmalam ini kamu terlihat sangat cantik bidadariku\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Aku tersipu malu mendengar pujiannya. Perlahan lidahnya yang hangat dan basah itu mulai menjalar ke leherku mempermainkan birahiku<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMas bener-bener beruntung memiliki istri secantik kamu sayang, \u201c sslluuppss\u2026.. ssllluuppss!\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMas gombal ah\u2026.. hhhmm!!\u201d jawabku sambil menahan napas saat lidah itu menyapu daun telingaku<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Jari-jarinya mulai menyusup ke balik dasterku, perlahan jari itu menyentuh belahan vaginaku dan sedikit menggelitik klitorisku,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMas geli ahk, ohhkk\u2026.\u201d desahku menahan nikmat<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cgeli apa geli? \u201c suamiku semakin bernapsu memainkan kewanitaanku,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cgeli mas tapi mau\u201c kataku dengan nada yang manja sehingga dengan semangat 45 Mas Roy mendorong tubuhku ke kasur,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMas dah ga tahan nih sayang!\u201d dengan buru-buru dia melepaskan celana dalamnya dan langsung menindih tubuhku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Penis suamiku memang tidak terlalu besar dan gemuk hanya berukuran 12 cm dan diameter 3. Aku terseyum genit di depan suami ku menunggu apa yang akan dia lakukan terhadap tubuhku,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKamu bener-bener cantik sayang\u201d rayunya lalu memagut bibirku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kini bibir kami beradu, lidah kami saling membelit rasanya begitu nikmat sekali, jarinya tak henti-hentinya mengelus setiap inci bibir vaginaku, sekali-sekali jari itu menusuk pelan ke ronggga vaginaku<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cOoHhkk\u2026. aaHhkkkK\u2026mas, enak mas terus enak banget mas, Oohhkk\u2026. Hhmm!!\u201d rintihan ku menjadi-jadi saat aku merasa ada benda tumpul memaksa masuk ke vaginaku, dengan lembut jari-jarinya memainkan puting susuku,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cOohhkkk\u2026.yyeeaaHhkk\u2026. hhhmmm\u2026\u2026 sssssss\u2026..ohh\u2026 enak mas, ayo mas dipercepat, plisss!!\u201d pintaku sambil menghentak-hentakkan pinggulku, wajahnya begitu puas melihatku sudah terbuai oleh nafsu,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201csayang\u2026oohkk\u2026 \u201c penisnya yang keras terasa bergetar di dalam vaginaku, \u201c sayangnya saat itu aku sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cOooooHHHhkkk\u2026\u2026Crreettsss\u2026crroottsss\u2026vaginaku terasa panas oleh lahar suamiku yang menyemprot di dalam sana,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cmmuuaaacckkhh\u2026terima kasih sayang \u201c katanya sambil mencium keningku<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Terus terang aku sedikit kesal karena belum mencapai puncaksementara ia sudah mendapat enaknya. Ccppookk, dengan sangat lembut dia melepas penisnya yang sudah loyo dari vaginaku lalu rebah di sebelahku. Cukup lama kami terdiam dalam keheningan malam, dasterku kini acak-acakan akibat persetubuhan kami tadi, deru nafas kami yang masih naik turun dapat terdengar.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201csayang!\u201d katanya sambil menatap mukaku dengan serius, tangannya meraih tanganku dan menggenggamnya<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIya Mas, ada apa?\u201d kulihat raut mukanya begitu serius, aku terseyum, dengan lembut Mas roy mengusap rambutku yang panjang,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBesok rencananya mas mau pergi lagi,\u201d kata-kata itu sangat sering aku dengar, jadi tidak lagi membuat ku kaget, biasanya paling lama dia pergi 1 bulan,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cga papa kok mas, kalau itu urusan kantor, kan mas bekerja juga untuk kita\u201d kataku sambil mengelus wajahnya,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201ctapi kali ini beda\u201d selama beberapa detik suamiku terdiam sebelum kembali melanjutkan, \u201cMas, hhmm\u2026 mau keluar negeri ada urusan penting, mungkin dengan waktu lama mas baru pulang lagi,\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kata-kata itu membuat tubuhku terasa lemas, bagaimana tidak, satu bulan tanpanya saja aku sudah rindu setengah mati, rindu akan cinta dan belaiannya, sekarang aku akan melewati hari-hari tanpa dirinya untuk jangka waktu yang tidak tentu. Cukup lama kami berpandangan, aku bingung harus ngomong apa lagi. Memang aku senang juga karena usaha suamiku semakin lancar, tapi di sisi lain aku takut kesepian,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cYa sudahlah mas, kalau memang tidak ada cara lain\u201d kataku dengan pasrah,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dia terseyum sekali lagi dia mencium keningku dan dilanjutkan dengan bercinta tapi lagi-lagi ronde kali ini aku masih belum merasa puas. Ketika kami telah tergolek telanjang di balik selimut setelah orgasme tiba-tiba aku melihat bayangan hitam yang melintas di depan kamarku yang kebetulan tidak tertutup rapat. Saat itu Mas Roy telah tertidur sehingga aku urung membangunkannya dan aku sendiri juga mulai ngantuk, dalam hati aku berharap semoga yang lewat tadi bukan mengintip kami.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">*************<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sudah 2 bulan aku di tinggal suamiku, jujur saja aku sangat kesepian tidak ada lagi belaian-belaian lembut darinya. Tapi kesepianku sedikit ditutupi oleh orang-orang yang selalu ada di sekelilingku, di belakang rumah ku ada sebuah kos-kosan sederhana yang memang sengaja kami buat agar rumah terlihat ramai. Dan aku juga memiliki tiga pembantu di rumahku, yang pertama Pak Budi dia bekerja sebagai tukang kebun di rumahku, usianya 50 tahun, rambutnya sudah setengah beruban dan bertubuh tinggi, sisa-sisa keperkasaannya ketika muda masih &#8230;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">&#8230;terlihat dari otot-otot lengannya yang padat, beliau merupakan pria yang paling tua di rumah ini dan sudah saya anggap sebagai orang tua saya sendiri, orangnya sangat kalem dan perhatian sekali terhadap keluarga kami; yang kedua Pak Joko usianya 38 tahun sebagai sopir pribadiku dan salah satu orang kepercayaan suamiku, berkumis tipis dan bibir tebal, orangnya sangat tegas tapi satu yang paling aku tidak suka yaitu matanya yang selalu jelalatan bila memandangi tubuhku; yang ketiga Pak Doni usianya 33 tahun, bekerja sebagai satpam di rumahku, orangnya humoris, sering sekali aku di buat ketawa olehnya, pas sekali dengan tampangnya yang mirip pelawak Komeng tapi dengan rambut dibuat cepak. Sedangkan yang ngekost di rumahku ada 4 orang yaitu Mas Indra dan Mas Agus bekerja di salah satu perusahaan swasta, Adi, seorang mahasiswa yang sedang kuliah di salah satu universitas, dan yang terakhir Ari masih duduk di bangku SMA kelas 2. Di rumah yang besar ini aku tidak memiliki pembantu wanita satupun, walaupun suamiku pernah menyarankan agar aku menyewa pembantu, tapi aku menolaknya dengan alasan apa yang akan aku kerjakan di rumah yang besar ini kalau semuanya dikerjakan sama pembantu, awalnya suamiku agak khawatir aku jatuh sakit akibat terlalu lelah bekerja, tapi akhirnya aku memberikan alasan yang membuatnya sedikit lega. Dan hingga kini memang semua pekerjaan di rumah aku kerjakan sendiri.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">********<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBener-bener hari yang melelahkan banget hari ini!\u201c gerutuku dalam hati sambil menjemur satu persatu pakaianku di tempat jemuran yang berada di bagian belakang, di depan kamar pembantu dan anak-anak kost. Bagaimana tidak capek seharian aku membersihkan rumah, belum lagi mencuci pakaian yang sudah menumpuk<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cWah, ibu jam segini baru selesai nyuci ya?\u201c sapa mas Indra sambil melepas sepatunya, tampaknya ia baru pulang dari kerja,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201ciya nih mas, pakaianku dah numpuk banget soalnya\u201c kataku sambil menunduk untuk mengambil cucian dari baskom, saat aku menunduk, terlihat kedua bola mata mas Indra tertuju ke belahan dadaku yang kebetulan saat itu aku menggunakan baju kaos longgar dan celana pendek,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cTumben mas pulang cepet, kan biasanya ampe malam,\u201d aku sedikit risih saat bola mata itu mengikuti gerakan tubuhku, tapi aku tetap pura-pura tidak menyadarinya,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201ciya nih bu, abis dah kangen pengen liat Ibu\u201d katanya sambil cengengesan, aku tersenyum saja mendengar perkataannya, karena aku menganggap itu hanya sebagai gurauan saja, \u201cgak kok bu, hari ini emang ga ada lembur, ya\u2026. Jadi cepet deh pulangnya\u201c lanjutnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Lagi-lagi mata itu tertuju ke bagian dadaku ketika aku menunduk untuk mengambil celana dalam ku yang berwarna biru langit. Cukup lama aku menunduk, aku sangat yakin kalau mata itu sangat menikmati pemandangan indah ini. Rasa risih itu kini berganti senang karena berhasil mengerjai Mas Indra.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">**************<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kejadian tadi siang masih terus membayangi otakku, entah kenapa setiap mengingat kejadian tersebut vaginaku terasa basah dan gatal sekali. Aku duduk santai di teras rumah sambil memandangi langit yang mulai gelap, sedangkan Pak Budi sibuk dengan tanaman di pekarangan, begitu juga Pak Doni yang lagi sibuk menutup pagar rumah. Dengan santai aku melangkah mendekati Pak Budi yang sedang menyiram tanaman.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSore Pak \u201c sapaku sambil tersenyum, kata suamiku senyumku bener-bener menggoda,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Saat ini aku menggunakan baju kaos biasa dan rok selutut berwarna merah sepadu dengan celana dalam ku dan BH ku. Aku duduk di samping Pak Joko yang lagi asyik menyiram bunga,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSore Non, eh Non kok duduk di situ?\u201d tanyanya saat menyadari aku duduk di sampinya, \u201cntar roknya kotor loh Non\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cah ga papa Pak, kalau kotor kan bisa dicuci, ya ga\u201d Pak Budi terseyum dan duduk di sampingku<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Perasaanku terasa damai saat melihat bunga-bunga yang ada didepan ku dan lagi-lagi aku teringat dengan suamiku, karena suamiku lah yang paling senang dengan bunga-bunga ini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKenapa Non? kok diam?\u201d tegur Pak Budi, sambil duduk di sampingku, aku tersyum, \u201c Non merasa kesepian ya? \u201c aku mengangguk pelan,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201csudahlah Non, jangan terlalu dipikirkan, kan masih ada Bapak?\u201d katanya yang terus berusaha menghiburku, perlahan kusandarkan kepalaku ke dadanya, dengan lembut jari-jari Pak joko mengelus rambutku dengan lembut,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cTernyata bunga- bunga ini lebih beruntung di banding Non\u201d tiba-tiba Pak Budi mendekati kami sambil teseyum dengan khasnya,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMa\u2026.maksud bapak apa?\u201c kataku dengan nada yang tinggi,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201ccoba Non lihat, bunga ini setiap harinya selalu di siram, malahaaaan\u2026. Dua kali sehari, sedangkan Non?\u201c kata-katanya mulai lancang.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Aku berusaha bangkit, dan rasanya ingin sekali aku menampar mukanya, tapi itu tidak mungkin karena tangan pak Budi menahan pundakku dengan kuat sehingga aku tak dapat bergerak, dengan santainya Pak Joko duduk di sampingku. Aku menatapnya dengan marah, berani sekali mereka berbuat begitu, mentang-mentang suamiku sedang tidak ada.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tiba-tiba aku sangat kaget karena merasa ada sesuatu yang sangat hangat menjalar ke pahaku,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201ckasian sama memek Non, sudah lama sekali tidak pernah disiram\u201d jari-jarinya terus menjelajahi pahaku yang mulus, aku tidak dapat berbuat apa-apa cuman bisa menutup kakiku rapat-rapat..<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cHeh\u2026jangan kurang ajar ya!\u201c kataku dengan geram, \u201cPak apa-apaan ini, lepaskan aku!\u201d kataku meronta dan memohon ke pada Pak Budi, tapi permohonanku percuma, karena dengan sigap ia malahan membuka pahaku agar Pak Joko bisa leluasa memandangi dan mengerjai vaginaku yang masih terbungkus celana dalam berwarna merah,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cNon ga boleh marah-marah seperti itu, apa yang di katakan Joko itu bener, kasian sama Non yang dah lama ga di siram,\u201d kata si tukang kebun sambil meremas-remas payudaraku,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Apa yang dikatakan mereka benar, sudah lama aku tida merasakan belaian laki-laki &#8230;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">&#8230;seperti ini, aku kangen suamiku, walaupun Mas Roy selama ini tidak dapat memuaskanku,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSudahlah Non, jangan pura-pura lagi, Non sudah gatel kan itu buktinya cd Non sudah basah banget,\u201d kata-kata itu membuat gendang telingaku terasa mau pecah, ingin sekali rasanya aku merobek-robek mulutnya,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cJaga sikapmu ya atau kamu mau saya pecat!\u201c ancamku sambil memasang wajah yang garang walaupun aku agak terangsang,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cYang memutuskan dipecat apa diterima itu kan suami non, dan kekuasaan itu sekarang sudah diserahkan ke saya, jadi Non gak bisa seenaknya mecat Joko tanpa seijin saya\u201d sahut Pak Budi sambil terus meremas-remas payudaraku dengan kasar,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSudahlah Pak lebih baik sekarang kita bawa saja si ibu seksi ini ke postnya Doni, saya udah ga tahan ni\u201c kata Pak Joko sambil berusaha menggendong saya,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sesampai di post, aku melihat Pak Doni terseyum puas saat melihatku tengah meronta dan memaki digendong oleh kedua pembantuku yang lain, perlahan Pak Budi menidurkan aku di kasur,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cPak plisss, jangan Pak aku hikss,,,,hiks\u2026. Aku kan sudah bapak anggap anak Pak\u201c kataku memelas, namu Pak doni sudah duduk di atas kepalaku sambil memegang tanganku,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201ccup\u2026cup\u2026.\u201d tangannya yang kasar, mengahapus air mataku yang mulai membasahi pipiku, \u201ctenang Bapak pasti melepaskanmu sayang, tapi nanti ya,\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Perlahan tangan Pak Budi mulai mengelus-elus pahaku,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201ckaki mu putih sekali sayang, Bapak suka,\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Aku hanya dapat memejamkan mata, menikmati sentuhan-sentuhan Pak Budi yang sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri, aku benar-benar kecewa dengan apa yang dilakukan mereka terhadapku, kurang baik apa kami terhadap mereka sehingga tega berbuat senista ini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cha..ha\u2026. tampaknya dia menikmati pak\u201d kata Pak Doni, sambil meremas-remas payudaraku dengan kasar,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201ctidak\u2026 lepaskan pak, kumohon!\u201d Aku kembali berontak, walaupun usahaku akan sia-sia saja,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Mmuuaacckk\u2026satu ciuman mendarat di bibirku, dengan ganas Pak Budi melumat bibirku yang tipis dengan bibirnya yang tebal, dengan begitu kasar lidahnya terus berusaha membelit lidahku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cHhmm\u2026..iiihhkkk\u2026.oohhkkk!\u201d aku semakin mendesah dan terangsang saat merasa selangkanganku menjadi panas, benda itu terus menggelitik klitorisku yang masih berbungkus celana dalam<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cOohhkk\u2026 Pak, stop Pak, jangan diteruskan\u201d aku menggeliatkan tubuhku, menahan gejolak yang selama ini terpendam, tapi jari-jari Pak Doni justru semakin berutal meremas payudaraku,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cgila Non memekmu bener-bener mantap, wanginya itu loh, bikin ga nahan,\u201d komentar Pak Joko sambil mengendusi dan melumat bibir bawahku<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cPak\u2026..OOohhkk!!\u201d tubuhku mengejang, seluruh badanku terasa bergetar akibat serbuan erotis ketiga pria itu, terutama vaginaku yang semakin berdenyut-denyut dijilati lidah Pak Joko dan dihisap-hisap<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSsrreeeessss\u2026.ssrrreess\u2026\u2026ssrreeeerrr\u201d cairan cintaku mengucur tanpa tertahankan lagi<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Jebol sudah pertahananku yang selama ini kujaga untuk suamiku yang entah ke mana ketika istrinya dinodai pembantu-pembantunya sendiri<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMas maafkan aku, aku sudah ga kuat lagi menahan gejolak yang ada di diriku mas\u201d jeritku dalam hati, perasaan bersalah pada suamiku dan kenikmatan birahi itu bercampur aduk, air mataku menetes dari sudut mataku, tapi tubuhku menggeliat-geliat.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBenerkan Non, apa kata saya juga\u2026sudahlah ngaku saja kalau Non itu sudah gatel, ya ga Don?\u201d tanya Pak Joko yang ditanggapi Pak Doni dengan mengangguk bersemangat<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBetol tuh, betol\u2026vagina Non emank udah gatel,\u201d timpal Pak Doni cengengesan<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Mukaku memerah mendengar perkataan mereka, sejujurnya aku sangat terangsang mendengar komentar mereka terhadapku. Pak Budi tersenyum menatapku yang terkulai tak berdaya, dengan lembut dia mengelus-elus rambutku dan berusaha membuatku setenang mungkin dan menikmati pemerkosaan ini. Perlahan tangan Pak Budi mulai melepaskan pakaianku satu-persatu, aku sudah pasrah apa yang akan terjadi terhadap diriku, tenagaku sudah habis untuk berontak, tidak perlu waktu lama aku sudah bugil di depan mereka, bangga, horny, malu dan marah itulah yang saat ini aku rasakan<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cUuueeedaann\u2026.tubuh Non Dhea seksi abis, bahenol gini\u201c Pak Doni yang pertama mengomentari tubuhku sambil meremas payudaraku dengan gemas<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKamu memang sangat cantik sayang, tidak salah suamimu sangat mengkhawatirkanmu,\u201d sambung Pak Budi,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cha\u2026ha\u2026jadi seperti ini bodinya istri tuan, bener-bener seksi, jadi makin ga tahan, sejak gua intip waktu ngentot dulu jadi sering nyoli ngebayangin Non\u201d komentar Pak joko yang paling membuat telinga dan mukaku tersa panas, ternyata dialah yang dulu mengintip ketika aku sedang memadu kasih dengan Mas Roy dan selama ini ia sudah berpikiran kotor tentang diriku, tahu begitu sudah kupecat dia selagi Mas Roy masih di sini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Pak Budi sudah bersiap-siap memasukan penisnya ke dalam vaginaku, penisnya tidaklah terlalu besar, hampir sama seperti suamiku,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cTidak Pak ja\u2026jangan pak ku mohon,\u201d aku memelas sambil berontak-berontak kecil, aku mulai pasrah apa yang akan terjadi terhadapku, aku tidak mungkin lepas.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Perlahan penis itu mulai menembus belahan vaginaku, dengan sekali sentakan penis itu amblas semuanya ke dalam vaginaku diiringi eranganku<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201coohhh Pak, cukup Pak, jangan\u2026aku oohhh\u2026mmmm!\u201d suaraku terputus saat Pak Joko melumat bibirku dengan rakus<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Pak Budi mulai menggenjot vaginaku dengan cepat tanpa henti, sehingga membuatku kewalahan menerima sodokan-sodokan dari pak Budi. Kira-kira 15 menit Pak Budi menyodok vaginaku, sementara bibirku dilumat Pak Joko yang juga meremas-remas payudaraku dan Pak Doni menggerayangi tubuhku sambil mengecupi pahaku yang jenjang dan mulus.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">&#8230;\u201cOohhkk\u2026 Bapak sudah ga kuat lagi Non!\u201d erang si tukang kebun sambil menyodok makin keras<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cCcrroott\u2026.. ccrroott\u2026.aaahhh!!\u201d ia melenguh panjang dan tubuhnya mengejang melepas kenikmatan ragawi ini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Cairan hangat dan kental memenuhi vaginaku, aku menggigit bibir dan menangis, aku benar-benar telah kotor, bagaimana aku harus menghadapi suamiku nanti, apakah aku masih punya muka untuk itu?<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cGi mana Pak enak gak?\u201c tanya Pak Doni sambil mengelus rambut panjangku, Pak Budi hanya terseyum dan mengacungkan jempolnya<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSekarang gantian gue ya!\u201c kata Pak Joko sambil berbaring di sampingku, \u201c Don tolong, dudukin Non Dhea ke atas kontol gue, cepetan dah ga tahan nih pengen ngerasain memek peretnya\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cJa\u2026 jangan Pak, kumohon lepaskan saya\u201d aku semakin ketakutan melihat ukuran penis Pak joko yang lebih besar 17 cm berdiameter 4, kepalah penisnyanya terlihat hitam mengkilat, lebih hitam dari warna kulitnya,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cayolah sayang, rasanya pasti enak kok\u201c<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBetol tuh\u2026betol, rasanya pasti enak loh Non\u201c timpal pak Doni dengan gaya bicara mirip Made Suro, salah satu pelawak di Republik Mimpi itu, sambil terseyum puas,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dengan dibantu si satpam yang sesekali meremas payudaraku, aku mulai menduduki penis Pak Joko, sopir pribadiku. Kugenggam benda itu dan kuarahkan ke vaginaku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAaakkhh!!\u201d aku melenguh dengan kepala menengadah saat ke kepala penis itu membelah bibir vaginaku, perlahan tapi pasti penis itu terbenam seluruhnya dalam vaginaku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201coohhkk, Pak sakit, jangan kasar-kasar yah Pak\u201d rintihku saat Pak Joko mulai menyentakkan pinggulnya ke atas<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSantai Non, nanti juga enak kok, memeknya keset banget nih, oohhkk\u2026. Non terus Non, enak sekali\u201d Pak Joko memerintahkan agar aku bergerak naik-turun sambil meraih payudara kiriku dan meremasnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cNon akan kita bikin hamil, ha\u2026ha\u2026ha!\u201d sahut Pak Budi lalu memagut bibirku, air mataku kembali membasahi pipiku<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cTidak!! Tidak!! aku tidak mau hamil dari orang-orang seperti kalian!!\u201d jeritku bercucuran air mata.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKenapa ngga Non? Kita kan ngebantu supaya suami kamu bahagia sayang, kasian sama suamimu dari dulu selalu mendambakan seorang anak\u201d sambungnya yang membuat hatiku semakin sakit menerima penghinaan ini,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cOhKk Pak tidak, aku\u2026 aku uda ga kuat lagi pak\u2026. OOhhh!!\u201d aku tidak tahan lagi dengan orgasme yang segera akan tiba, kemaluanku berdenyut-denyut dan nafasku juga semakin tak terakur, akhirnya aku mengejang menyambut gelombang orgasme berikutnya, kali ini lebih nikmat dari sebelumnya, lebih dahsyat dari yang kudapat bersama Mas Roy, penis Pak Joko masih keras dan menyodok-nyodok vaginaku, sungguh perkasa.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cWah\u2026 Non Dhea keluar lagi oy!\u201c kata Pak Doni kegirangan, sementara tubuhku yang semakin lemas ambruk ke pelukan Pak Joko, sopirku<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cHa\u2026ha\u2026gimana Non, nikmat kan entotan saya dibandingkan sama suami Non yang ga ada apa-apanya, ha\u2026ha!!\u201c katanya dengan bangga<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Aku hanya bisa diam mendengar pelecehan mereka, perlahan aku meresa ada sentuhan hangat yang menjalar di sekitar lubang anus,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cHhmm\u2026.\u201d cuma kata-kata itu yang keluar dari bibirku saat sentuhan itu semakin menjadi-jadi di lubang anusku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSayang, tolongin Bapak ya, Bapak udah kepingin lagi nih\u201c kata Pak Budi sambil menyodorkan penisnya di depan bibirku,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cJangan Pak\u2026saya nggak mau, tolong jangan\u201c suaraku sedikit bergetar, terhadap Mas Roy saja aku tidak pernah melakukan oral seks karena bagiku menjijikkan, apalagi kalau harus mengoral penis hitam keriput itu, belum lagi bau keringatnya yang tidak sedap.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAlah\u2026jangan pura-pura suci Non, sono cepatan kulum tuh penis tua, kasian dah ngaceng dari tadi\u201d sambung Pak Joko sambil menggenjot tubuhku semakin kuat,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cTa\u2026tapi, ohhkk\u2026 saya belum pernah Pak\u2026Uuhhkkk!!\u201d protesku langsung tersendat karena Pak Budi menjejali penisnya dengan paksa ke dalam mulutku yang membuka karena mendesah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201csudah ayo, goyangnya lebih cepet!\u201d kata Pak Joko sambil menghentakan penisnya lebih dalam,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSluuppss\u2026.. slslluuppss\u2026..mmmm!\u201d dengan terpaksa aku mengulum penis Pak Budi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cWaduh\u2026waduh kalian curang nih, masa gue cuman nonton doang, ga asyik ah\u201c kata Pak Doni yang memang dari tadi hanya memainkan anusku sambil meraba-raba tubuhku saja.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cUdah Don jangan marah, kan masih ada satu lobang lagi yang nganggur, iya ga Non\u201d kata Pak Budi, aku diam saja sambil sesegukan karena mulutku sedang mengulum penis Pak Budi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBetul\u2026 betul itu juga pasti enak!\u201d secepat kilat Pak Doni melepaskan celana seragam dan celana dalamnya, kini hanya mengenakan baju satpam saja,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cjangan\u2026jangan Pak saya mohon jangan yang itu, itu pasti sakit sekali\u201d kataku memohon dan berlinang air mata, tapi ia tidak peduli ataupun kasihan, perlahan belahan pantatku dibuka lebar-lebar, benda tumpul itu terasa panas saat menyentuh anusku,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cPak sakiitt\u2026.jangan terusin Pak!\u201d jeritku saat kepala penis itu membelah anusku, rasanya sangat sakit sekali karena ukuran penis Pak Doni lebih besar dari Pak Budi dan Pak Joko<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Perlahan kepala penis itu terbenam di dalam anusku. Dan sekali sentakan semua batang penis itu terbenam semua di dalam anusku, aku hanya dapat berteriak sekencang-kencangnya tanpa menghiraukan sekelilingku,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cPak ampun Pak, Hikss\u2026Hiks\u2026 sakit pak, sakit banget!\u201d rasa sakit itu rasanya tidak tertahankan sehingga penis pak Budi terlepas dari bibirku,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSabar ya sayang bentar lagi pasti enak kok, percaya deh sama Bapak ya\u201c Pak Budi ternyata sedikit pengertian, dia tidak lagi menyuruhku untuk mengulum penisnya, tapi ia tetap &#8230;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">&#8230;menahan tanganku yang menggenggam batang kemaluannya itu agar tetap mengocoknya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sekitar sepuluh menit kemudian, tiba-tiba Pak Joko mengerang dan memuncratkan laharnya ke dalam rahimku, disusul tidak lama lemudian Pak Budi juga orgasme di depan mukaku. Spermanya yang beraroma tajam dan kental itu muncrat membasahi wajahku. Terakhir Pak Doni juga menyusul kedua temannya 3 menit kemudian dengan memuntahkan spermanya di dalam anusku. Maka lengkap sudah penderitaanku hari ini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKamu benar-benar bisa memuaskan Bapak sayang, lain kali kayak gini lagi ya\u201d kata Pak Budi sambil menggosok-gosokkan penisnya ke wajahku,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cGak nyangka gue hari ini mendapat rejeki nomplok, kapan-kapan kita main lagi ya Non, ketagihan nih saya sama memek Non, hahaha!!\u201d dengan kasar Pak Joko mencabut penisnya dari vaginaku<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBetol itu\u2026.betol\u2026memek Non Dhea enak banget, bikin saya ketagihan coy, hehehe!\u201d sambung Pak Doni yang tidak kalah puasnya<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Mereka bertiga tertawa-tawa dan melecehkanku yang terbaring lemas di dipan pos satpam. Tubuhku penuh dengan keringat dan ceceran sperma mereka, vagina dan anusku pun masih terasa sakit akibat sodokan-sodokan penis mereka tadi. Ini baru awal aku menjadi budak seks mereka, entah apa lagi yang akan terjadi hari-hari selanjutnya. Di kamar mandi di dalam shower box, aku meringkuk sambil menangis merenungi nasibku sementara air hangat terus mengucur membasahi tubuhku yang telah ternoda dan memenuhi box dengan uapnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Semenjak kejadian kemarin tubuhku masih terasa sakit, apalagi bagian vagina dan anusku yang kemarin sempat dikerjai habis-habisan oleh ketiga pembantuku. Selesai mandi aku langsung ke belakang rumahku. Pagi ini rumah ku tampak sepi sekali, maklum semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, kecuali Ari yang saat ini terbaring lemas karna sakit, sebagai Ibu kost yang baik aku harus merawatnya. Ari anak yang baik, kalem dan rajin, sehingga aku menyayanginya seperti anakku sendiri.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tok.. tok\u2026 pelan-pelan aku mengetuk pintu kamarnya, \u201cRi, boleh ibu masuk?\u201d tanyaku dengan lemah lembut.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIya Bu silakan, masuk aja ga di kunci ko!\u201d suara Ari yang terdengar dari dalam,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Akupun membuka pintu dan melangkah masuk, anak itu terbaring di ranjangnya di bawah selimut.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cGimana Ri keadaanmu sekarang?\u201d sambil tersenyum aku duduk persis di samping wajahnya, saat itu aku masih menggunakan daster berwarna putih,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBaik kok Bu udah mendingan\u201d katanya sambil berusaha untuk duduk, tapi dengan cepat aku menahanya,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSudahla Ri kamu tiduran aja, lagi sakit gini harus banyak istrahat\u201c kataku sambil terseyum, dan dia membalas senyumanku, entah kenapa hari ini aku merasa bahagia sekali tidak seperti hari-hari biasanya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201ceh iya Bu, makasih ya Bu\u201c<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Aku berdiri melihat sekeliling, isi kamarnya terlihat sangat rapi sekali, berbeda dengan cowok pada umumnya. Mataku tertuju ke bagian tumpukan majalah yang terletak di samping lemarinya, sambil berjalan santai aku mendekati majalah tersebut.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201ckamu juga suka baca majalah ya Ri?\u201d Aku sangat kaget saat melihat majalah tersebut, banyak sekali foto-foto cewek yang sedang berbugil ria,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201ceh.. hhmm\u2026 itu bukan punya saya Bu\u201d jawab Ari dengan terbata-bata, aku menatap mukanya yang sekarang memerah,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201c Semenjak kapan kamu suka mengumpulkan majalah-majalah seperti ini Ri\u201d kataku dengan ketus, seolah-olah ingin marah, padahal aku mulai terangsang melihat isi dalam majalah-majalah tersebut.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Aku semakin kaget saat melihat benda yang sangat aku kenal ada di dalam tumpukan majalah tersebut, aku semakin deg-degan, dan napasku semakin tidak teratur, perlahan aku kembali mendekati Ari dan duduk di sampingnya,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAri, kamu kok diam, semenjak kapan kamu suka baca-baca yang seperti ini?\u201d mukanya semakin pucat, bingung harus berkata apa,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201citu\u2026 itu\u2026 bukan\u2026pu..punya Ari Bu, tapi punya temen Ari, iya punya temen Ari\u201d katanya dengan penuh keraguan, rasanya ingin sekali aku tertawa melihat wajahnya yang ketakutan,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201coohh begitu, tapi kalau ini,\u201d aku menunjukan celana dalamku yang berwarna pink, mukanya semakin pucat saja, aku yakin dia pasti sangat malu sekali karena ketahuan belangnya<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cpunya temen juga\u201d sambungku sambil tersenyum penuh kemenangan, Ari hanya diam saja,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cPantesan selama ini celana dalam Ibu sering hilang ga taunya kamu ya yang ambil\u201c<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Entah kenapa aku merasa bangga dengan apa yang aku miliki. Ternyata anak pendiam seperti Ari saja tidak sanggup untuk menolak kecantikanku,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cmaaf Bu, Hmm\u2026 Ari ngaku salah, Ari janji ga bakal melakukan itu lagi, maafin Ari ya Bu\u201d mukanya terlihat sangat memelas, rasa takut bener-benar menghantuinya,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tapi aku kaget melihat perubahan terhadap dirinya, bagian boxsernya sedikit mengembung, mukanya yang tadi pucat pasi kini merah merona seperti tomat, aku sadar ternyata bagian dalam dasterku keliahatan, kini aku yang dibuat bingung. Jantungku terasa berdetak kencang, napasku semakin susah di atur. Saat membayangkan celana dalamku dilihat jelas oleh anak yang masih seumur jagung, tapi aku tetap berusaha tenang, tanganku sedikit gemetar saat mengompres kepalanya,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIbu harap ini yang terakhir kalinya Ibu liat majalah-majalah ini ya,\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201ceh iya Bu, Ari janji,\u201d aku yakin sekali, Ari pasti bisa menyadari kalau vaginaku sudah sangat basah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201csemenjak kapan Ari menyimpan celana dalam Ibu\u201c<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tanpa kusadari kepala Ari semakin mendekati selangkanganku, napasnya sangat terasa di bagian vaginaku yang masih terbungkus celana dalam berwarna putih. Semakin lama wajahnya semakin dekat mungkin hanya tinggal beberapa senti saja, hembusan napasnya semakin terasa di pori-pori selangkanganku,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201ceh, ta\u2026tapi Ibu ja..ja..jangan marah ya? \u201c aku diam saja hanya membalasnya dengan usapan lembut di rabutnya yang ikal,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSemenjak pertama kali Ari kos di sini Bu, soalnya saya diem-diem ngagumin Ibu\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Ohh\u2026aku sudah semakin tidak tahan lagi, seluruh tubuhku terasa panas, ingin rasanya aku memeluk dan mencium setiap inci tubuhnya,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cOoh gitu, ya sudahlah tapi kamu janji ya, jangan di ulangi lagi?\u201d Ari hanya mengangguk lemah,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cya sudah Ibu mau ke pasar dulu,\u201d sebelum aku meninggalkannya, dengan sengaja celana dalam itu tidak aku ambil dan kubiarkan saja di samping Ari, anggap saja itu obat buat dirinya agar cepat sembuh.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">***********<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Hari semakin siang. Saat itu aku hendak memasak tapi aku lupa kalau persediaan di dapur sudah kosong, akhirnya kuputuskan untuk belanja ke supermarket terdekat<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cPak Joko\u2026.tolong antar saya ke supermarket ya,\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIya Non,\u201d jawabnya dari seberang, selesai bersiap-siap, aku menuju mobilku yang sudah siap di depan rumahku,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSiang ini non terlihat sangat cantik sekali, he..he\u2026 \u201c aku sedikit risi saat tangannya mencolek pantatku,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cJangan kurang ajar ya Pak, ini masih siang!\u201d bentakku saat tangannya semakin berani meremas-remas pantatku,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cGalak amat si Non, kemaren keenakan gitu, gimana sih\u201d katanya sambil membuka pintu mobilku di bagian depan, \u201cmulai sekarang Non duduk di samping saya saja ya, he..he\u2026\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Entah setan dari mana aku menuruti kemauannya begitu saja, terus terang aku terangsang membayangkannya walaupun ada rasa marah dalam hati. Perlahan mobilku pun berjalan menuju &#8230;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">&#8230;supermarket, saat dalam perjalanan tangan Pak Joko tidak henti-hentinya mengelus pahaku yang ditutupi celana jins, ingin sekali aku menamparnya tapi itu tidak mungkin karena saat ini aku dalam kekuasanya, lagipula kalau terlihat orang di luar tentu tidak enak.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKok ga pake rok sih Non, saya kan jadi susah pegang-pegangnya Non,\u201d tanyanya kurang ajar, aku cuek saja, tiba-tiba tangannya semakin berani meremas vaginaku dari luar<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cPak\u2026cukup! Jangan keterlaluan gitu dong!\u201d aku menatapnya marah dan tanganku menahan tangannya yang berusaha meremas-remas selangkanganku, mungkin karena takut dengan tatapan galakku, Pak Joko melepaskan juga tangannya dari selangkanganku<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Ia terseyum dan mengambil Hp nya, lalu memperlihatkan isi video yang ada di layar Hpnya. Aku sangat kaget sekali saat menyadari di dalam video itu adalah diriku saat diperkosa oleh mereka bertiga, aku melihat diriku sendiri menggelinjang dalam dekapan mereka. Betapa panas wajahku dan malu melihat semua itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKalau ini kurang ajar gak Non? Gimana coba kalau suami Non tau, he\u2026he\u2026.!!\u201d Ejeknya dengan senyum menjijikkan<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tubuhku terasa lemas sekali saat mendengar perkataan Pak Joko,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMaksud Bapak apa sih!? Apa sih mau kalian!?\u201d kataku dengan lirih, mataku sembab, ingin sekali aku menangis<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSaya tidak bermaksud apa-apa kok Non\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBapak mau uang kan? oke saya akan berikan Pak, tapi tolong jangan ganggu saya lagi\u201d kali ini aku sudah tak mampu lagi menahan air mataku<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Pak Joko tersenyum puas, ia sepertinya sangat menikmati telah membuatku tunduk hingga menangis di depannya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAh, saya tidak butuh uang kok Non, gaji yang di berikan ke saya itu lebih dari cukup saya hanya membutuh kan memek Non buat puasin saya, ha..ha\u2026\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tiba-tiba Pak Joko membelokan mobilnya ke tempat yang agak sepi,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cNah, sekarang Non tau kan tugas Non apa?\u201d katanya sambil tersenyum, lalu ia langsung melumat bibirku, lidahnya menyeruak masuk ke rongga mulutku tanpa dapat kutahan, jari-jarinya mulai bermain di payudaraku, remasannya semakin lama semakin kasar. Tubuhku pun tak mampu lagi menolaknya, darahku berdesir, putingku mengeras, aku mulai terangsang lagi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cPak cukup, jangan di teruskan\u2026oohhkk yyeaahh!\u201c aku merintih saat tangannya menyusup ke dalam kaosku, sekali-kali putingku ditarik rasanya sangat nikmat sekali,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAyo Non buka celananya jangan malu-malu, katanya sambil menjilati daun telingaku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Ia membuka ikat pinggangku dan menurunkan resleting celanaku. Anehnya aku malah membantunya melepaskan celana dan cdku sendiri. Kini bagian bawahku sudah bugil total dan jari-jarinya mulai bermain pada vaginaku yang sudah basah oleh lendirku<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cOohhkk pak, jangan di terusin, saya ga kuat, hhmm\u2026.\u201d desahku merasakan jari-jarinya semakin liar mengobok vaginaku,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAyo Non kita selesaikan sekarang\u201d katanya sambil membuka resliting celananya dan mengeluarkan penisnya,\u201d sini Non duduk di pangkuan saya \u201c<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tanpa babibu aku menurut saja disuruh menduduki penis Pak Joko yang sudah mengeras. Saat penis itu melesat ke vaginaku rasanya masih terasa sakit sama saat pertama kali Pak Joko menusukku kemarin<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cOoohhhkkk Pak\u2026sakit!\u201c rintihku ketika semua batang penisnya masuk semua ke dalam rahimku<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAyo Non digoyang, ohh\u2026 yeess\u2026 enak Non,\u201d perintahnya padaku<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dengan rasa was-was takut ada orang atau mobil lewat, aku mulai menaik-turunkan tubuhku di pangkuannya. Untungnya daerah kompleks perumahan ini terbilang sepi dan kaca mobilku tidak tembus ke dalam namun kalau dilihat dari depan tentu tetap terlihat aku sedang naik turun pada pangkuan sopirku ini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSsshh\u2026.jangan\u2026aahh\u2026jangan Pak!\u201d aku menahan tanganya ketika hendak membuka kaosku, aku tidak ingin orang melintas di luar sana melihat tubuh bugilku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Syukurlah ia cukup mengerti, sebagai gantinya ia hanya mengangkat bagian depan kaosku yang menghadap ke arahnya beserta cup braku sehingga dengan demikian ia dapat melumat payudaraku sambil menikmati genjotanku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cUdah Pak cukup aaahhhk\u2026. saya udah ga kuat Pak, lepasin saya Pak jangan perkosa saya lagi, hhmm\u2026.\u201d kata-kataku semakin membuat Pak Joko bernapsu,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cGimana ya Non kalau suami Non tau kalau istrinya saya entot, ha..ha\u2026 \u201c aku semakin terangsang mendengar pelecehan-pelecehan yang terlontar dari mulut sopirku ini<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tiba-tiba tubuhku mengejang, rasanya mau meledak dan akhirnya aku orgasme berbarengan dengan Pak Joko yang juga memuntahkan spermanya ke dalam vaginaku. Tubuhku langsung lemas, rasanya nikmat sekali walau kenikmatan ini kudapat lewat pelecehan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMulai sekarang Non tidak boleh lagi memakai pakaian seperti ini, harus selalu memakai rok mini dan tanktop, yang terakhir Non ga diperbolehin memakai celana dalam dan bh, Non mengerti kan?\u201d aku hanya mengangguk lemas, aku tidak menyangka kalau nasibku akan menjadi seperti ini, menjadi budak para pembantuku sendiri.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Setelah itu, Pak Joko kembali menstarter mobil dan membawaku ke supermarket yang kumaksud. Dalam perjalanan pulang di tengah jalan, ia kembali bersikap kurang ajar. Kali ini aku disuruhnya membuka baju hingga bugil sepanjang perjalanan. Sekali lagi aku menuruti saja apa yang dikehendakinya. Yang paling menegangkan bila ada kendaraan berlawanan arah, aku refleks menutupi dadaku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cHehehe\u2026daripada susah-susah nutupin badan mendingan Non sambil sepongin aja kontol saya, kan nunduk jadi ga keliatan\u201d ejeknya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Benar juga pikirku, dengan demikian aku dapat menunduk walaupun harus mengikuti keinginan mesumnya itu. Akupun menunduk dan membuka celananya, penisnya kukeluarkan dan mulai kuhisapi. Di sebuah daerah yang sepi, Pak Joko menghentikan mobilnya dan kembali aku digarapnya, tidak lama memang, tapi sensasinya sungguh luar biasa. Dia akhirnya orgasme dan menumpahkan spermanya di perutku. Aku baru diperbolehkan memakai kembali bajuku saat sudah dekat rumah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">*************************<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Hari itu sudah &#8230;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">&#8230;malam. Aku masih mengingat-ingat kejadian tadi siang, baru kali ini aku bercinta di dalam mobil, aneh rasanya tapi bagiku pengalaman ini tidak dapat kulupakan begitu saja. Malam ini aku mengenakan gaun tidur yang pendek sehingga memperlihatkan sepasang paha jenjangku yang mulus. Sesuai kata Pak Joko aku tidak diperbolehkan mengenakan celana dalam dan bh. Aku berjalan keluar rumah, saat aku mendekati kamar Adi aku mendengar rintihan-rintihan seorang wanita. Karena penasaran kucoba untuk mengintip di balik kaca yang tidak tertutup rapat itu. Aku sangat kaget saat menyadari di dalam kamar Adi terdapat seorang gadis yang merintih menahan nikmat saat Adi menjilat vaginanya. Entah siapa gadis berparas cantik itu, mungkin pacar, mungkin teman kuliah, atau siapapun, aku baru pernah melihatnya. Aku semakin larut dalam intipanku. Tanpa sadar tanganku mulai menyelusup ke bagian bawah dasterku, kumasukan jari tengahku ke dalam vaginaku yang tidak bercelana dalam. Aku mulai merintih menahan nikmat saat jariku keluar masuk dalam rongga kewanitaanku. Gadis itu semakin menggeliat-geliat seiring lidah Adi yang semakin liar menyapu vaginanya, ditambah lagi cucukan-cucukan jarinya. Tak lama kemudian Adi menindih tubuh gadis itu dan mengarahkan penisnya ke vaginanya. Ia mulai bergerak turun naik di atas tubuh telanjang si gadis, begitu juga jariku yang semakin cepat bergerak keluar masuk vaginaku. Aku seharusnya marah dan menegur mereka karena telah berbuat asusila di kost ini, tapi aku sendiri rasanya tidak berkuasa untuk itu karena akupun telah berbuat sama dengan para pembantuku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cHhhhmmm\u2026ehem!\u201d aku kaget setengah mati mendengar suara berdehem dari belakangku, aku segera membalik badanku dan melihat Mas Indra sudah berada di belakangku, entah sejak kapan ia di situ.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMampus dah!\u201d pikirku, wajahku jadi tegang karena tertangkap basah dalam keadaan begini<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cLagi ngapain Bu?\u201d tanyanya santai<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEh ngga saya cuman lagi lewat saja kok, Mas juga belum tidur?\u201d aku mencoba mencari alasan<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBelum ngantuk nih Bu, Ibu sendiri belum tidur nih?\u201d aku mengangguk pelan,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cJadi ga mas, katanya mau ngajarin saya main internet?\u201c akhirnya aku menemukan alasan yang tepat, tapi mengapa malah alasan seperti ini, bukankah dengan demikian berarti aku memberi syarat bahwa aku rela digiring ke kamarnya?<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cOh iya boleh Bu, sekarang aja\u2026mumpung saya tidak ada kerjaan\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBoleh juga tuh\u201d aku mengiyakan dengan sendirinya, sisi liarku menginginkan ia akan memperkosaku di kamarnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sungguh susah dijelaskan memang, sejak perkosaan oleh para pembantuku itu aku selalu menginginkan kenikmatan seksual tidak peduli dengan cara apapun, aku rela melakukannya meskipun harus dilecehkan. Apa sebenarnya yang telah terjadi? Apakah mereka telah memeletku sehingga menjadi gila seks seperti ini? Oh, aku pun tidak tahu, aku hanya bisa menikmatinya saja.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">******************<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Ketika aku masuk ke kamarnya aku sangat kaget karna melihat temannya yang sedang tiduran sambil memainkan hpnya. Tubuhnya sangat kekar, dadanya dipenuhi bulu-bulu dan tato, tubuh ku terasa merinding melihatnya. Aku juga baru pernah melihat teman Indra yang satu ini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBen\u2026 Beno bangun ada Ibu Kos gue nih\u201d Beno seperti takjub melihatku yang berdiri di samping Mas Indra<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKenalin Bu ini temen kantor saya, namanya Beno, Beno\u2026ini ibu kos gue\u201d aku terseyum dan menyodorkan tanganku,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cDhea\u201d sahutku memperkenalkan diri<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cWah gak gua sangka Dra\u2026ibu kos lo cantik banget masih muda lagi, gua kira cewek kuliahan yang sama-sama ngekost disini\u201d katanya pada Indra setelah menjabat tanganku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Aku hanya tersenyum mendengar pujian dari Beno. Kulihat matanya jelalatan memandangi tubuhku yang hanya dibalut gaun tidur yang minim ini. Aku menerka-nerka apakah mereka tahu di balik gaun ini tidak ada pakaian dalam, hal ini membuatku semakin horny saja. Ahh\u2026apakah aku sudah sedemikian gatalnya?<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSilakan duduk Bu!\u201d aku duduk lesehan di depan komputer mas Hendra<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Karena rokku pendek jadi sebagian paha mulusku dapat dinikmati oleh Beno dan Mas Indra.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBu Dhea mau belajar mainin internet Ben, Lo bisa bantuin kan, \u201c tanya Indra, Beno hanya mengangguk<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Perlahan Beno mendekatiku dan mulai mengajariku. Selama mengajari mata kedua pria itu tidak lepas dari paha dan payudaraku, mereka selalu curi-curi pandang untuk melihat bagian tersebut.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cGimana Bu udah mulai mengerti kan?\u201c kata pria bertampang sangar itu sambil mengelus punggungku sehingga aku sedikit merinding,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cNdra pintu kamarnya ditutup aja, dingin nih, anginnya gede\u201d kata Beno sambil mengedipkan matanya<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Mas Indra langsung berdiri dan menutup pintu kamarnya, melihat gelagat mereka aku bukannya menghindar dan mohon diri tapi malah tetap di situ, sepertinya ada suatu kekuatan yang membuatku tetap di situ.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cDi internet kita bisa buka apa saja yang kita suka Bu\u201c tangan Beno mulai berani mengelus-elus pahaku sedangkan Mas Indra mulai memiijit leherku sehingga aku mulai terangsang,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cbe..begitu ya\u2026\u201d kataku terbata-bata menahan gejolak yang ada dalam diriku, perlahan tali daster ku terjatu ke samping,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBuka flem BF juga bisa Bu\u201c sambung Indra yang masih mengelus leherku yang jenjang,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cApa itu BF?\u201d kataku pura-pura tidak mengerti<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Beno yang mengerti keinginanku langsung membuka situs BF..<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIni yang nama nya BF\u201d kata Beno saat dia memutar film BF yang memperlihatkan adegan seorang cewek Asia lagi disetubuhi oleh seorang pria berkulit hitam.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAuuu\u2026\u201c dengan sengaja aku berteriak, \u201cjorok ah Mas, matiin cepat\u201d kataku sambil menutup mukaku pake tanganku,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Saat Beno sibuk dengan komputer, Mas Indra tidak menyia-nyiakan kesempatan, perlahan dasterku ditarik ke atas sehingga rambut vaginaku yang berbulu tipis terlihat jelas olehnya<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cFilmnya bagus loh Bu, sayang kalau gak ditonton\u201d kata Beno sambil mengelus-elus paha bagian dalamku<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIya Bu sayang kalau ga ditonton, apalagi kalau ga dipraktekkan\u201d timpal Mas Indra sambil berusaha memegang tanganku agar aku tidak dapat menutup mataku, kini kedua tanganku sudah dikuasai Mas Indra dengan pura-pura terpaksa aku melihat adegan yang ada di layar monitor. Sementara mereka semakin berani menggerayangi tubuhku. Beno semakin liar mempermainkan selangkanganku, sekali-kali jarinya menggelitik klitorisku yang berhasil ditemukannya. Terkadang kakiku tertutup rapat dan terkadang terbuka lebar, suara-suara desahan mulai keluar dari bibirku. Perlahan dasterku diangkat ke atas melewati kepalaku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIbu tiduran aja ya\u201d bisik Mas Indra di telingaku, aku hanya menurut saja saat Mas Indra merebahkan tubuhku di ranjang.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cGila Ndra kulit ibu kost lu mulus banget, gue dah gak kuat nih!\u201d dengan gemas Beno langsung meremas payudaraku dengan brutal<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201coohhkk\u2026 sakit Ben jangan\u2026lepasin!\u201c erangku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cGa nyangka Gue ternyata Istri mas Roy bisa di pake juga, ha..ha..\u201d tawa Mas Indra<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Belum sempat aku memprotes komentar mereka, mulutku sudah tersumpal oleh bibir Mas Indra, dengan ganas lidahnya membelit lidahku. Beno tidak mau kalah dengan rakusnya dia menyedot putingku yang mulai mengeras, sedangkan jari-jarinya sibuk mengocok selangkanganku yang basah oleh lendir cintaku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAhhKk\u2026. Hhmm\u2026.\u201d rintihan ku menjadi-jadi saat jari tengah Beno bergerak keluar masuk vaginaku,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cGa nyesel gue kos di tempat Ibu\u201d kata Mas Indra sambil menjilati telingaku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dengan cepat Mas Indra melucuti pakaiannya sehingga telanjang bulat begitu juga dengan Beno, aku sangat kaget sekali saat melihat penis Mas Indra tidak terlalu panjang tapi kepala penisnya sangat besar dan berurat, sedang punya Beno ukurannya sangat besar 22 cm dan berdiameter 4-5. Kedua penis ini akan segera mengaduk-aduk vaginaku, membayangkannya saja aku sudah lemas.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAyo Bu diisep\u201d kata Beno sambil menyodorkannya ke mulutku, awalnya aku pura-pura menolak tapi akhirnya aku mau juga mengisap penis Beno<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cya\u2026 enak Bu terus, isepan ibu gak kalah sama perek yang suka nongkrong di jalan loh ha..ha\u2026\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMaklumlah, sudah lama dia gak dikasih jatah sama suaminya, ha..ha\u2026\u201d sambung Mas Indra<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Mataku langsung melotot ke arah Indra, aku benar-benar merasa terhina dengan perkataan Mas Indra, ada perasaan menyesal dalam hati, tapi sudah terlanjur. Bagaimanapun aku juga menginginkan semua ini terjadi. Tidak lama kemudian Beno mengerang dan disusul orgasmenya yang memenuhi rongga mulutku sehingga dengan terpaksa aku menelan spermanya. Untuk pertama kalinya aku menelan sperma laki-laki,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMulutnya aja enak udah enak gini, mana memekknya ya\u201c kata Beno sambil mendorong-dorong penisnya makin dalam hingga menyentuh tenggorokanku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBiar gue duluan yang coba memek perek satu ini\u201d kepala Mas Indra sudah berada di tengah selangkanganku. Vaginaku terasa hangat saat lidahnya menyentuh dinding dalam vaginaku<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAmpun Mas\u2026geli\u2026ahh\u2026enak!!\u201d lidah Mas Indra semakin buas mengisap klitorisku membuat aku menceracau tak karuan<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIbu suka kan saya giniin, ayo ngaku!\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIya Mas. Ohk saya suka sekali\u2026.\u201d Mas Indra terseyum puas,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cHanya sekali saja bu,\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cGa mas, lebih dari sekali saya OohhKK\u2026 suka, hhmm\u2026\u201d kataku terbata-bata, \u201cayo Ben, payudaraku nganggur nih\u201d kataku sudah tidak malu-malu lagi meminta padanya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tanpa buang-buang waktu Beno dengan rakusnya mengisap payudaraku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cToked Ibu kenyal banget, bentuknya juga bagus, gue suka, emmm\u201d sahut Beno sambil mengenyot payudara kananku<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cmemek Ibu juga masih keliatan segar, berwarna pink lagi\u201d Mas Indra dan Beno terus-terusan memuji diriku, malam ini aku benar-benar dibuat melayang ke angkasa<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Setelah puas menjilat vaginaku, Mas Indra langsung menindihku, kakiku diangkat ke pundaknya perlahan penisnya membelah vaginaku<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMas sakit pelan-pelan, kepalah kontol Mas Indra terlalu besar\u2026. Oouu\u2026\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBukan kepala kontol saya Bu yang besar emang memek Ibu yang sempit banget, hhhmm\u2026\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dengan susah payah Mas Indra memaksa masuk penisnya ke vaginaku dan setelah beberapa kali tarik ulur baru kepalanya saja yang masuk<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSusah banget masuknya, memek lonte satu ini seret banget\u201d katanya<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cUda Ndra hajar saja lah, teken yang kuat\u201d kata Beno menyemangati Indra,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sekali sentakan semua batang kemaluan Indra masuk ke dalam vaginaku, semakin lama sodokannya semakin cepat sehingga menimbulkan irama yang merdu,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSakit Ndra, oohh\u2026. Hhmmm\u2026 Ndra\u201d tiba-tiba vaginaku terasa berdenyut-denyut, rasanya ada yang mau keluar, tanpa bisa kutahan lagi akhirnya aku orgasme untuk pertama kalinya<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cGimana Bu servicenya Indra enak ga?\u201d tanya Beno sambil mencubit putingku,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIya Ben, enak banget, malam ini kalian boleh memainkan saya sepuas kalian\u2026tolong yah puasin saya!\u201d dengan gaya menggoda kuelus pipi Beno, aku semakin tidak sadar apa yang kukatakan yang kutahu hanyalah kenikmatan yang harus dituntaskan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cOoohh\u2026 Ben gue dah gak kuat lagi, hhhmm\u2026.uuhh!\u201d tiba-tiba dengan kasar Mas Indra mencabut penisnya dan mendekatkannya ke mukaku,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Cccrrooott\u2026\u2026. Ccrrrooott\u2026.penis itu memuncratkan isinya beberapa kali. Mukaku pun penuh dengan sperma Mas Indra yang kental.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSemalaman gue betah sama ni perek\u201d mereka berdua mentertawakanku,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSekarang giliran gue ya Ndra!\u201c dengan posisi berdiri Beno menggendongku<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kedua tanganku berpegangan dengan lehernya sedangkan kedua kakiku melingkar ke pinggangnya. Dengan ganasnya dia menggenjot vaginaku, rasanya sakit sekali apa lagi ukuran punya Beno jauh lebih besar dibandingkan Indra. Semakin lama rasa sakit itu berganti dengan rasa nikmat, kini &#8230;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">&#8230;tak ada lagi niat untuk jual mahal karena rasa nikmat yang sudah menjalar ke seluruh tubuhku mengalahkan akal sehatku. Tidak butuh waktu lama tubuhku kembali mengejang, dan untuk kedua kalinya aku mengalami orgasme,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBelom apa-apa udah keluar lagi nih lonte\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cha\u2026ha\u2026 gue jadi pengen ngerjain dia lagi nih!\u201d Mas Indra mendekati kami berdua aku tak tahu apa yang akan dia lakukan,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tiba-tiba aku merasa ada benda tumpul yang memaksa masuk anusku<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cJangan Mas, saya mohon jangan dari situ,\u201d kataku memelas karena aku tahu betul rasanya pasti sangat sakit sekali karena aku pernah melakukannya dengan pembantuku, tapi apa daya kini benda itu mulai memasuki anusku,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBen bantuin gue dong, susah nih lobangnya sempit banget!\u201d kata Indra<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Pantatku terasa sakit saat Beno membuka paksa belahan pantatku agar kontolnya Mas Indra bisa masuk, dan benar saja perlahan tapi pasti akhirnya masuk juga,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cnngg\u2026.uughhkk\u2026\u201d rintihanku tertahan saat Beno mengecup bibirku dengan buas, bibir mungilku di sedot-sedot, jijik sekaligus menggairahkan rasanya,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cPantatnya enak banget Ben lo mau coba ga?\u201d kata Mas Indra sambil meremas-remas pantatku,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cboleh juga tuh! Abis lu ya!\u201d jawab Beno<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201chhmm\u2026. Ben, saya udah gak kuat \u201c erangku saat air cintaku semakin membanjiri vaginaku yang sedang digenjot Beno.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tubuhku terasa bergetar, kakiku mengejang saat menikmati orgasmeku sepuas-puasnya. Sodokan-demi sodokan semakin dalam menghujam liang vaginaku,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cGimana Bu udah puas belom?\u201d kata Beno kepadaku, aku hanya mengaguk lemah jujur saja tubuh ku terasa lemas tidak ada tenaga sedikit pun yang tersisa,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cTapi saya belom puas loh Bu jadi gimana dong?\u201d tanyanya lagi<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Mendengar perkataan Beno aku benar-benar merasa terhina tapi apa daya karena akulah yang memulainya. Kini aku di suruh menungging kaki kananku diangkat dengan sekali sodokan penis itu melesat masuk ke anusku, sakit sekali rasanya bukan hanya di anusku tapi hatiku juga terasa sakit diperlakukan seperti hewan, namun dari pelecehan yang merendahkanku inilah justru kudapatkan kenikmatan yang melebihi kenikmatan bercinta dengan suamiku. Dengan ganas Beno kembali menggenjot anusku, sehingga ketika Beno menarik penisnya seolah anusku tertarik keluar dan pada saat kontol itu menghujam rasanya anus ku serasa dimasuki daging yang keras sehingga terasa sesak sekali.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tidak butuh lama aku kembali orgasme untuk kesekian kalinya, dan disusul oleh Beno sehingga anusku terasa hangat oleh semburan spermanya. Beno dan Mas Indra terlihat puas melihatku kewalahan menghadapi mereka berdua<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSaya benar-benar tidak menyangka kalau Ibu bisa saya pake seperti ini, Ibu adalah wanita yang paling munafik yang pernah saya kenal\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Telingaku terasa panas mendengar komentar Mas Indra, walaupun apa yang dia katakan itu benar, aku adalah wanita yang munafik baru dua bulan ditinggal suami sudah lima penis yang berhasil memasuki vaginaku<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cNdra please jangan katakan itu lagi, itu tidak pantas\u2026!\u201d aku mencoba membela diri,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cHa..ha\u2026tidak pantas apanya Bu, bukannya Ibu menikmati sekali tadi itu? Kapan-kapan kita main lagi ya Bu, pantat Ibu bener-bener enak\u201d kata Beno sambil membelai bongkahan pantatku<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Posisiku saat itu sedang tengkurap. Aku diam saja tidak mendengarkan celotehan Beno, walaupun aku bilang tidak ujung-ujungnya aku juga pasti akan kembali dikerjai oleh mereka<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dengan susah paya akhirnya aku mampu berdiri namun ketika aku hendak mengambil dasterku tiba-tiba Mas Indra menghalanginya,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMas kembalikan dasterku,\u201d aku mulai kesal dengan tingkah laku Mas Indra,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cWanita sepertimu tidak pantas mengenakan pakaian seperti ini, ya ga Ben\u201d Beno hanya mengangguk saja,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Muak sekali rasanya aku melihat mereka, aku sangat menyesal memberikan tubuhku kepada mereka, ini sudah kelewatan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSudah sana keluar, kami masih ada urusan!\u201d sahut Mas Indra sambil mendorong tubuhku keluar tanpa sempat memakai apapun.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kini aku tidak dapat lagi menahan air mataku, apa kata penghuni rumah ini kalau sampai ada yang melihat keadaan tubuhku yang tanpa sehelai benang dan dilumuri sperma. Memalukan sekali rasanya, tapi apa daya aku tidak dapat menolak nasibku yang sekarang, api yang kunyalakan itu telah membesar tanpa kendali sehingga membakar diriku sendiri. Untunglah malam itu sudah sepi aku tiba di kamarku setelah berjingkat-jingkat dengan penuh was-was kalau-kalau ada orang yang menemukanku berjalan di koridor tanpa busana. Setelah membasuh diriku di kamar mandi, telepon berbunyi dan aku segera mengangkatnya setelah memakai kaos gombrong dan celana pendek.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cHai Dhea\u2026gimana kabar? Dah lama gak ketemu ya!\u201d sapa suara di seberang sana.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Penelepon itu adalah Mbak Reni, adik perempuan Mas Roy, seorang janda tanpa anak berusia 28 tahun. Ia baru saja bercerai dari suaminya yang tukang main gila tiga bulan lalu. Ternyata Mas Roy dari luar negeri memintanya agar pindah saja ke sini untuk menemaniku agar tidak kesepian. Kini ia sedang mengkonfirmasi kedatangannya yang katanya besok siang. Oh Mas Roy, kamu benar-benar terlambat, kalau saja ia melakukannya lebih awal tentu tidak masalah. Tapi kini kost ini telah dipenuhi kegilaan karena kegatalanku sendiri, aku telah menjadi budak seks para pembantuku dan juga penghuni kost ini, kalau ada seorang wanita lagi yang datang bukankah itu sama saja berjalan masuk ke sarang srigala? Aku terdiam sesaat bingung harus menjawab apa padanya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cDhea\u2026Dhe\u2026kamu masih disitu? Kok ga ada suara??\u201d tanya Mbak Reni.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cOohhh\u2026iya Mbak\u2026nggak\u2026maksud saya\u2026\u201d tiba-tiba terdengar ketukan di pintu, \u201cmaaf ya Mbak sebentar ada orang\u201d aku menaruh gagang telepon di meja untuk membukakan pintu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cHah\u2026Pak Budi? Ngapain malam-malam gini?\u201d aku terhenyak melihat ternyata yang datang tukang kebunku itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cHehehe\u2026mau ketemu Non lah biasa\u201d katanya sambil &#8230;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">&#8230;menyeringai menjijikkan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cNggak Pak, pokoknya nggak!\u201d aku menutup pintu lagi tapi ia menahannya<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMbak Reni nelepon kan Bu, bilang mau pindah sini nemenin Ibu?\u201d tanyanya, \u201ckenapa Ibu ragu-ragu gitu jawabnya? Saya akan mempersiapkan kamar supaya dia bisa nyaman tinggal disini, kan ini tugas saya Bu, hehehhee!\u201d ia terkekeh-kekeh<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kurang ajar, ternyata ia menguping pembicaraan dari telepon yang pararel dengan yang di ruang tamu. Kini ia mengincar kakak iparku juga.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cCepat Bu, jawab teleponnya\u201d katanya pelan sambil melihat ke arah gagang telepon, \u201catau saya yang jawab sambil nyeritain keadaan disini selama Bapak pergi\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dengan mata melotot marah aku mengambil gagang telepon itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEhh\u2026iya Mbak Reni\u2026emmm\u2026jadi gimana?\u201d aku meneruskan pembicaraan dengan suara lemas.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cGimana apa Dhe\u2026aku kan sudah ngepak barang-barangku, tinggal besok berangkat ke tempat kamu, siang kamu di rumah kan? Mbak pake taksi aja jadi ga usah repot-repot!\u201d katanya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEhh\u2026iya\u2026iya Mbak saya tunggu!\u201d kataku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cOke, Dhe see you tommorow ya, dadah!\u201d katanya menutup pembicaraan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Aku menaruh gagang itu pada telepon dan berbalik menatap marah pada Pak Budi, hatiku panas sampai tidak tahu harus ngomong apa lagi. Ia hanya cengengesan sambil berjalan makin mendekatiku. Kuangkat tanganku dan kuayunkan untuk menampar wajahnya, namun ia berhasil menangkap pergelanganku dan langsung mendekap tubuhku. Aku tidak mampu menghindar ketika bibirnya melumat bibirku. Aku pasrah saja ketika aku didorongnya hingga tersungkur di ranjangku, setelah ia membuka kaos dan sarungnya ia segera menyambar tubuhku dan melucuti pakaianku. Malam itu di tengah kemarahan, kegalauan, bercampur kenikmatan aku digarap oleh tukang kebun tuaku itu. Aku masih berpikir apakah kelak Mbak Reni akan bernasib sama denganku menjadi budak seks atau\u2026.oohh sudahlah, aku sudah terlalu lelah memikirkan hari esok. Sekarang ini biarlah kunikmati dulu momen-momen bersama tukang kebunku ini.<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Baca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-sex-enaknya-pijitan-plus-pembantuku\/\">Cerita Sex Enaknya Pijitan Plus Pembantuku<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-mesum-wanita-misterius-pemuas-nafsu-sesaatku\/\">Cerita Mesum Wanita Misterius Pemuas Nafsu Sesaatku<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-lendir-ngewe-memek-mulus-cewek-magang\/\">Cerita Lendir Ngewe Memek Mulus Cewek Magang<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-ngentot-nikmatnya-tubuh-dosen-dan-pembantunya\/\">Cerita Ngentot Nikmatnya Tubuh Dosen Dan Pembantunya<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-ngewek-bersetubuh-dengan-janda-rasa-perawan\/\">Cerita Ngewek Bersetubuh Dengan Janda Rasa Perawan<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-panas-pengalaman-pertamaku-saat-kelulusan-sekolah\/\">Cerita Panas Pengalaman Pertamaku Saat Kelulusan Sekolah<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-porno-pompa-pramugari-di-toilet-pesawat\/\">Cerita Porno Pompa Pramugari Di Toilet Pesawat<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-sange-skandal-boss-besar-dengan-karyawan\/\">Cerita Sange Skandal Boss Besar Dengan karyawan<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-dewasa-perawan-ngentot-nikmat\/\">Cerita Dewasa Perawan Ngetot Nikmat<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-sex-kak-rini-yang-begitu-menggoda\/\">Cerita Sex Kak Rini Yang Begitu Menggoda<\/a><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cerita Porno Rumahku, Surga dan Nerakaku &#8211; Sambil terseyum kuperhatikan tubuhku yang terpantul di cermin. Malam ini aku terlihat cantik<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"colormag_page_container_layout":"default_layout","colormag_page_sidebar_layout":"default_layout","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-747","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.2 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Rumahku, Surga dan Nerakaku - Cerita Dewasa Blog<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/rumahku-surga-dan-nerakaku\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Rumahku, Surga dan Nerakaku - Cerita Dewasa Blog\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Cerita Porno Rumahku, Surga dan Nerakaku &#8211; Sambil terseyum kuperhatikan tubuhku yang terpantul di cermin. Malam ini aku terlihat cantik\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/rumahku-surga-dan-nerakaku\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Cerita Dewasa Blog\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-08-07T11:33:21+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-04-11T08:23:08+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"schmu\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"schmu\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"43 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/rumahku-surga-dan-nerakaku\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/rumahku-surga-dan-nerakaku\/\"},\"author\":{\"name\":\"schmu\",\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#\/schema\/person\/e40bae56bd62667590423d623c06d0bc\"},\"headline\":\"Rumahku, Surga dan Nerakaku\",\"datePublished\":\"2025-08-07T11:33:21+00:00\",\"dateModified\":\"2026-04-11T08:23:08+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/rumahku-surga-dan-nerakaku\/\"},\"wordCount\":8048,\"commentCount\":0,\"articleSection\":[\"Uncategorized\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/rumahku-surga-dan-nerakaku\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/rumahku-surga-dan-nerakaku\/\",\"url\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/rumahku-surga-dan-nerakaku\/\",\"name\":\"Rumahku, Surga dan Nerakaku - Cerita Dewasa Blog\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-08-07T11:33:21+00:00\",\"dateModified\":\"2026-04-11T08:23:08+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#\/schema\/person\/e40bae56bd62667590423d623c06d0bc\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/rumahku-surga-dan-nerakaku\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/rumahku-surga-dan-nerakaku\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/rumahku-surga-dan-nerakaku\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Rumahku, Surga dan Nerakaku\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#website\",\"url\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/\",\"name\":\"Cerita Dewasa Blog\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#\/schema\/person\/e40bae56bd62667590423d623c06d0bc\",\"name\":\"schmu\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/082dff75265c6bf01cb08afa8e9e3e49a15480050ab46bd77b7617e75204ec14?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/082dff75265c6bf01cb08afa8e9e3e49a15480050ab46bd77b7617e75204ec14?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/082dff75265c6bf01cb08afa8e9e3e49a15480050ab46bd77b7617e75204ec14?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"schmu\"},\"url\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/author\/schmu\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Rumahku, Surga dan Nerakaku - Cerita Dewasa Blog","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/rumahku-surga-dan-nerakaku\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Rumahku, Surga dan Nerakaku - Cerita Dewasa Blog","og_description":"Cerita Porno Rumahku, Surga dan Nerakaku &#8211; Sambil terseyum kuperhatikan tubuhku yang terpantul di cermin. Malam ini aku terlihat cantik","og_url":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/rumahku-surga-dan-nerakaku\/","og_site_name":"Cerita Dewasa Blog","article_published_time":"2025-08-07T11:33:21+00:00","article_modified_time":"2026-04-11T08:23:08+00:00","author":"schmu","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"schmu","Estimasi waktu membaca":"43 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/rumahku-surga-dan-nerakaku\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/rumahku-surga-dan-nerakaku\/"},"author":{"name":"schmu","@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#\/schema\/person\/e40bae56bd62667590423d623c06d0bc"},"headline":"Rumahku, Surga dan Nerakaku","datePublished":"2025-08-07T11:33:21+00:00","dateModified":"2026-04-11T08:23:08+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/rumahku-surga-dan-nerakaku\/"},"wordCount":8048,"commentCount":0,"articleSection":["Uncategorized"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/rumahku-surga-dan-nerakaku\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/rumahku-surga-dan-nerakaku\/","url":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/rumahku-surga-dan-nerakaku\/","name":"Rumahku, Surga dan Nerakaku - Cerita Dewasa Blog","isPartOf":{"@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#website"},"datePublished":"2025-08-07T11:33:21+00:00","dateModified":"2026-04-11T08:23:08+00:00","author":{"@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#\/schema\/person\/e40bae56bd62667590423d623c06d0bc"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/rumahku-surga-dan-nerakaku\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/rumahku-surga-dan-nerakaku\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/rumahku-surga-dan-nerakaku\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Rumahku, Surga dan Nerakaku"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#website","url":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/","name":"Cerita Dewasa Blog","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#\/schema\/person\/e40bae56bd62667590423d623c06d0bc","name":"schmu","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/082dff75265c6bf01cb08afa8e9e3e49a15480050ab46bd77b7617e75204ec14?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/082dff75265c6bf01cb08afa8e9e3e49a15480050ab46bd77b7617e75204ec14?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/082dff75265c6bf01cb08afa8e9e3e49a15480050ab46bd77b7617e75204ec14?s=96&d=mm&r=g","caption":"schmu"},"url":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/author\/schmu\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/747","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=747"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/747\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1561,"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/747\/revisions\/1561"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=747"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=747"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=747"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}