{"id":754,"date":"2025-08-07T18:36:59","date_gmt":"2025-08-07T11:36:59","guid":{"rendered":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/?p=754"},"modified":"2026-04-11T15:31:24","modified_gmt":"2026-04-11T08:31:24","slug":"bonus-ngentot-dari-pasienku","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/bonus-ngentot-dari-pasienku\/","title":{"rendered":"Bonus Ngentot Dari Pasienku"},"content":{"rendered":"<div style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/bonus-ngentot-dari-pasienku\/\">Cerita Ngewek Bonus Ngentot Dari Pasienku<\/a> &#8211; Emang bener-bener gila tuh cewek. Ke dokter dianter sama suaminya, malah minta aq entot memeknya. Ya mumpung dapat memek gratis maka terjadilah pergulatan seru diantara kita berdua. mulai gaya doggy style sampe ke gaya sex sumo dan sex ninja sudah kami lakukan. Sudah masuk tahun ketiga aku buka praktek di sini semuanya berjalan biasa-biasa saja seperti layaknya praktek dokterr umum lainnya. Pasien bervariasi umur dan status sosialnya. Pada umumnya datang ke tempat praktekku dengan keluhan yang juga tak ada yang istimewa. Flu, radang tenggorokan, sakit perut, maag, gangguan pencernaan, dll.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Cerita Dewasa &#8211; Bonus Ngentot Dari Pasienku Cerita Dewasa &#8211; Bonus Ngentot Dari Pasienku Cerita Dewasa &#8211; Bonus Ngentot Dari Pasienku ML 002Cerita Dewasa \u2013 Bonus Ngentot Dari Pasienku \u2013 Akupun tak ada masalah hubungan dengan para pasien. Umumnya mereka puas atas hasil diagnosisku, bahkan sebagian besar pasien merupakan pasien \u201clangganan\u201d, artinya mereka sudah berulang kali konsultasi kepadaku tentang kesehatannya. Dan, ketika Aku iseng memeriksa file-file pasien, Aku baru menyadari bahwa 70 % pasienku adalah ibu-ibu muda yang berumur antar 20 \u2013 30 tahun. Entah kenapa Aku kurang tahu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMungkin dokter ganteng dan baik hati\u201d kata Nia, suster yang selama ini membantuku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAh kamu . bisa aja\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBener Dok\u201d timpal Tuti, yang bertugas mengurus administrasi praktekku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Oh ya, sehari-hari aku dibantu oleh kedua wanita itu. Mereka semua sudah menikah. Aku juga sudah menikah dan punya satu anak lelaki umur 2 tahun. Umurku sekarang menjelang 30 tahun.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Aku juga berpegang teguh pada sumpah dan etika dokter dalam menangani para pasien. Penuh perhatian mendengarkan keluhan mereka, juga Aku tak \u201cpelit waktu\u201d. Mungkin faktor inilah yang membuat para ibu muda itu datang ke tempatku. Diantara mereka bahkan tidak mengeluhkan tentang penyakitnya saja, tapi juga perihal kehidupan rumah tangganya, hubungannya dengan suaminya. Aku menanggapinya secara profesional, tak ingin melibatkan secara pribadi, karena aku mencintai isteriku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Semuanya berjalan seperti biasa, wajar, sampai suatu hari datang Ny. Syeni ke meja praktekku ..<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kuakui wanita muda ini memang cantik dan seksi. Berkulit kuning bersih, seperti pada umumnya wanita keturunan Tiong-hwa, parasnya mirip bintang film Hongkong yang aku lupa namanya, langsing, lumayan tinggi, dan \u2026. inilah yang mencolok : dadanya begitu menonjol ke depan, membulat tegak, apalagi sore ini dia mengenakan blouse bahan kaos yang ketat bergaris horsontal kecil2 warna krem, yang makin mempertegas keindahan bentuk sepasang payudaranya. Dipadu dengan rok mini warna coklat tua, yang membuat sepasang kakinya mulusnya makin \u201cbersinar\u201d.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dari kartu pasien tertera Syeni namanya, 28 tahun umurnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKenapa Bu .\u201d sapaku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIni Dok . sesak bernafas, hidung mampet, trus perut saya mules\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKalau menelan sesuatu sakit engga Bu \u201c<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBenar dok\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBadannya panas ?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Telapak tangannya ditempelkan ke dagunya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAgak anget kayanya\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kayanya radang tenggorokan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cTrus mulesnya . kebelakang terus engga\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIya Dok\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cUdah berapa kali dari pagi\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cHmmm . dua kali\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIbu ingat makan apa saja kemarin ?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMmm rasanya engga ada yang istimewa . makan biasa aja di rumah\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBuah2 an ?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cOh ya . kemarin saya makan mangga, 2 buah\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cCoba ibu baring disitu, saya perika dulu\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sekilas paha putih mulusnya tersingkap ketika ibu muda ini menaikkan kakinya ke dipan yang memang agak tinggi itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Seperti biasa, Aku akan memeriksa pernafasannya dulu. Aku sempat bingung. Bukan karena dadanya yang tetap menonjol walaupun dia berbaring, tapi seharusnya dia memakai baju yang ada kancing ditengahnya, biar aku gampang memeriksa. Kaos yang dipakainya tak berkancing.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Stetoskopku udah kupasang ke kuping<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Ny. Syeni rupanya tahu kebingunganku. Dia tak kalah bingungnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cHmmm gimana Bu\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEh .. Hmmm .. Gini aja ya Dok\u201d katanya sambil agak ragu melepas ujung kaos yang tertutup roknya, dan menyingkap kaosnya tinggi-tinggi sampai diatas puncak bukit kembarnya. Kontan saja perutnya yang mulus dan cup Bhnya tampak.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Oohh . bukan main indahnya tubuh ibu muda ini. Perutnya yang putih mulus rata, dihiasi pusar di tengahnya dan BH cream itu nampak ketat menempel pada buah dadanya yang ampuun .. Putihnya . dan menjulang.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sejenal aku menenangkan diri. Aku sudah biasa sebenarnya melihat dada wanita. Tapi kali ini, cara Ibu itu membuka kaos tidak biasa. Bukan dari atas, tapi dari bawah. Aku tetap bersikap profesional dan memang tak ada sedikitpun niatan untuk berbuat lebih.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kalau wanita dalam posisi berbaring, jelas dadanya akan tampak lebih rata. Tapi dada nyonya muda ini lain, belahannya tetap terbentuk, bagai lembah sungai di antara 2 bukit.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMaaf Bu ya ..\u201d kataku sambil menyingkap lagi kaosnya lebih keatas. Tak ada maksud apa-apa. Agar aku lebih leluasa memeriksa daerah dadanya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEngga apa-apa Dok\u201d kata ibu itu sambil membantuku menahan kaosnya di bawah leher.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Karena kondisi daerah dadanya yang menggelembung itu dengan sendirinya stetoskop itu \u201charus\u201d menempel-nempel juga ke lereng-lereng bukitnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAmbil nafas Bu.\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Walaupun tanganku tak menyentuh langsung, melalui stetoskop aku dapat merasakan betapa kenyal dan padatnya payudara indah ini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Jelas, banyak lendir di saluran pernafasannya. Ibu ini menderita radang tenggorokan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMaaf Bu ya ..\u201d kataku sambil mulai memencet-mencet dan mengetok perutnya. Prosedur standar mendiagnosis keluhan perut mulas.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Jelas, selain mulus dan halus, perut itu kenyal dan padat juga. Kalau yang ini tanganku merasakannya langsung.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Jelas juga, gejalanya khas disentri. Penyakit yang memang sedang musim bersamaan tibanya musim buah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cCukup Bu .\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Syeni bangkit dan menurunkan kakinya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSakit apa saya Dok\u201d tanyanya. Pertanyaan yang biasa. Yang tidak biasa adalah Syeni masih membiarkan kaosnya tersingkap. Belahan dadanya makin tegas dengan posisnya yang duduk. Ada hal lain yang juga tak biasa. Rok mini coklatnya makin tersingkap menampakkan sepasang paha mulus putihnya, karena kakinya menjulur ke bawah menggapai-gapai sepatunya. Sungguh pemandangan yang amat indah .<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cRadang tenggorokan dan disentri\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cDisentri ?\u201d katanya sambil perlahan mulai menurunkan kaosnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBenar, bu. Engga apa-apa kok. Nanti saya kasih obat\u201d walaupun dada dan perutnya sudah tertutup, bentuk badan yang tertutup kaos ketat itu tetap sedap dipandang.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKarena apa Dok disentri itu ?\u201d Sepasang pahanya masih terbuka. Ah ! Kenapa aku jadi nakal begini ? Sungguh mati, baru kali ini aku \u201cmenghayati\u201d bentuk tubuh pasienku. Apa karena pasien ini memang luar biasa indahnya ? Atau karena cara membuka pakaian yang berbeda ?<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBisa dari bakteri yang ada di mangga yang Ibu makan kemarin\u201d Syeni sudah turun dari pembaringan. Tinggal lutut dan kaki mulusnya yang masih \u201ctersisa\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Oo .. ada lagi yang bisa dinikmati, goyangan pinggulnya sewaktu dia berjalan kembali ke tempat duduk. Aku baru menyadari bahwa nyonya muda ini juga pemilik sepasang bulatan pantat yang indah. Hah ! Aku makin kurang ajar. Ah engga.. Aku tak berbuat apapun. Cuma tak melewatkan pemandangan indah. Masih wajar.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Aku memberikan resep.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSebetulnya ada lagi Dok\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cApa Bu, kok engga sekalian tadi\u201d Aku sudah siap berkemas. Ini pasien terakhir.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMaaf Dok .. Saya khawatir .. Emmm ..\u201d Diam.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKhawatir apa Bu \u201c<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cTante saya kan pernah kena kangker payudara, saya khawatir .\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSetahu saya . itu bukan penyakit keturunan\u201d kataku memotong, udah siap2 mau pulang.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBenar Dok\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIbu merasakan keluhan apa ?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKalau saya ambil nafas panjang, terasa ada yang sakit di dada kanan\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cOh . itu gangguan pernafasan karena radang itu. Ibu rasakan ada suatu benjolan engga di payudara\u201d Tanpa disadarinya Ibu ini memegang buah dada kanannya yang benar2 montok itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSaya engga tahu Dok\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBisa Ibu periksa sendiri. Sarari. Periksa payudara sendiri\u201d kataku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cTapi saya kan engga yakin, benjolan yang kaya apa ..\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Apakah ini berarti aku harus memeriksa payudaranya ? Ah engga, bisa-bisa aku dituduh pelecehan seksual. Aku serba salah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBegini aja Bu, Ibu saya tunjukin cara memeriksanya, nanti bisa ibu periksa sendiri di rumah, dan laporkan hasilnya pada saya\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Aku memeragakan cara memeriksa kemungkinan ada benjolan di payudara, dengan mengambil boneka manequin sebagai model.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBaik dok, saya akan periksa sendiri\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cNanti kalau obatnya habis dan masih ada keluhan, ibu bisa balik lagi\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cTerima kasih Dok\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSama-sama Bu, selamat sore\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Wanita muda cantik dan seksi itu berlalu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Lima hari kemudian, Ny Syeni nongol lagi di tempat praktekku, juga sebagai pasien terakhir. Kali ini ia mengenakan blouse berkancing yang juga ketat, yang juga menonjolkan buah kembarnya yang memang sempurna bentuknya, bukan kaos ketat seperti kunjungan lalu. Masih dengan rok mininya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cGimana Bu . udah baikan\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cUdah Dok. Kalo nelen udah engga sakit lagi\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cPerutnya ?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cUdah enak\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSyukurlah \u2026 Trus, apa lagi yang sakit ?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cItu Dok .. Hhmmm .. Kekhawatiran saya itu Dok\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cUdah diperiksa belum ..?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cUdah sih . cuman \u2026\u201d Dia tak meneruskan kalimatnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cCuman apa .\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSaya engga yakin apa itu benjolan atau bukan ..\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMemang terasa ada, gitu \u201c<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKayanya ada kecil . tapi ya itu . saya engga yakin\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Mendadak aku berdebar-debar. Apa benar dia minta aku yang memeriksa . ? Ah, jangan ge-er kamu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMaaf Dok .. Apa bisa \u2026. Saya ingin yakin\u201d katanya lagi setelah beberapa saat aku berdiam diri.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMaksud Ibu, ingin saya yang periksa\u201d kataku tiba2, seperti di luar kontrol.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEh .. Iya Dok\u201d katanya sambil senyum tipis malu2. Wajahnya merona. Senyuman manis itu makin mengingatkan kepada bintang film Hongkong yang aku masih juga tak ingat namanya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBaiklah, kalau Ibu yang minta\u201d Aku makin deg-degan. Ini namanya rejeki nomplok. Sebentar lagi aku akan merabai buah dada nyonya muda ini yang bulat, padat, putih dan mulus !<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Oh ya . Lin Chin Shia nama bintang film itu, kalau engga salah eja.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tanpa disuruh Syeni langsung menuju tempat periksa, duduk, mengangkat kakinya, dan langsung berbaring. Berdegup jantungku, sewaktu dia mengangkat kakinya ke pembaringan, sekilas CD-nya terlihat, hitam juga warnanya. Ah . paha itu lagi . makin membuatku nervous. Ah lagi, penisku bangun ! baru kali ini aku terangsang oleh pasien.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSilakan dibuka kancingnya Bu\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Syeni membuka kancing bajunya, seluruh kancing ! Kembali aku menikmati pemandangan seperti yang lalu, perut dan dadanya yang tertutup BH. Kali ini warnanya hitam, sungguh kontras dengan warna kulitnya yang bak pualam.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cDada kanan Bu ya .\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBenar Dok\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sambil sekuatnya menahan diri, aku menurunkan tali BH-nya. Tak urung jari2ku gemetaran juga. Gimana tidak. Membuka BH wanita cantik, seperti memulai proses fore-play saja ..<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMaaf ya Bu .\u201d kataku sambil mulai mengurut. Tanpa membuka cup-nya, aku hanya menyelipkan kedua telapak tanganku. Wow ! bukan main padatnya buah dada wanita ini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Mengurut pinggir-pinggir bulatan buah itu dengan gerakan berputar.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cYang mana Bu benjolan itu ?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEehh . di dekat putting Dok . sebelah kanannya .\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Aku menggeser cup Bhnya lebih kebawah. Kini lebih banyak bagian buah dada itu yang tampak. Makin membuatku gemetaran. Entah dia merasakan getaran jari-jariku atau engga.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cDibuka aja ya Dok\u201d katanya tiba2 sambil tangannya langsung ke punggung membuka kaitan Bhnya tanpa menunggu persetujuanku. Oohhh . jangan dong . Aku jadi tersiksa lho Bu, kataku dalam hati. Tapi engga apa-apa lah ..<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Cup-nya mengendor. Daging bulat itu seolah terbebas. Dan .. syeni memelorotkan sendiri cup-nya \u2026<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kini bulatan itu nampak dengan utuh. Oh indahnya \u2026 benar2 bundar bulat, putih mulus halus, dan yang membuatku tersengal, putting kecilnya berwarna pink, merah jambu !<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kuteruskan urutan dan pencetanku pada daging bulat yang menggiurkan ini. Jelas saja, sengaja atau tidak, beberapa kali jariku menyentuh putting merah jambunya itu ..<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dan .. Putting itu membesar. Walaupun kecil tapi menunjuk ke atas ! Wajar saja. Wanita kalau disentuh buah dadanya akan menegang putingnya. Wajar juga kalau nafas Syeni sedikit memburu. Yang tak wajar adalah, Syeni memejamkan mata seolah sedang dirangsang !<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Memang ada sedikit benjolan di situ, tapi ini sih bukan tanda2 kangker.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cYang mana Bu ya .\u201d Kini aku yang kurang ajar. Pura-pura belum menemukan agar bisa terus meremasi buah dada indah ini. Penisku benar2 tegang sekarang.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cItu Dok . coba ke kiri lagi .. Ya .itu .\u201d katanya sambil tersengal-sengal. Jelas sekali, disengaja atau tidak, Syeni telah terrangsang .<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cOh . ini ..bukan Bu . engga apa-apa\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSyukurlah\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEngga apa-apa kok\u201d kataku masih terus meremasi, mustinya sudah berhenti. Bahkan dengan nakalnya telapak tangnku mengusapi putingnya, keras ! Tapi Syeni membiarkan kenakalanku. Bahkan dia merintih, amat pelan, sambil merem ! Untung aku cepat sadar. Kulepaskan buah dadanya dari tanganku. Matanya mendadak terbuka, sekilas ada sinar kekecewaan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u2018Cukup Bu\u201d kataku sambil mengembalikan cup ke tempatnya. Tapi \u2026<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSekalian Dok, diperiksa yang kiri .\u201d Katanya sambil menggeser BH nya ke bawah. hah ? Kini sepasang buah sintal itu terbuka seluruhnya. Pemandangan yang merangsang .. Putting kirinyapun sudah tegang . Sejenak aku bimbang, kuteruskan, atau tidak. Kalau kuteruskan, ada kemungkinan aku tak bisa menahan diri lagi, keterusan dan ,,,, melanggar sumpah dokter yang selama ini kujunjung tinggi. Kalau tidak kuteruskan, berarti aku menolak keinginan pasien, dan terus terang rugi juga dong . aku kan pria tulen yang normal. Dalam kebimbangan ini tentu saja aku memelototi terus sepasang buah indah ciptaan Tuhan ini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKenapa Dok ?\u201d Pertanyaan yang mengagetkan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAh .. engga apa-apa \u2026 cuman kagum\u201d Ah ! Kata-kataku meluncur begitu saja tak terkontrol. Mulai nakal kamu ya, kataku dalam hati.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKagum apa Dok\u201d Ini jelas pertanyaan yang rada nakal juga. Sudah jelas kok ditanyakan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIndah .\u201d Lagi-lagi aku lepas kontrol<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAh . dokter bisa aja .. Indah apanya Dok\u201d Lagi-lagi pertanyaan yang tak perlu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cApalagi .\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEngga kok . biasa-biasa aja\u201d Ah mata sipit itu .. Mata yang mengundang !<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMaaf Bu ya .\u201d kataku kemudian mengalihkan pembicaraan dan menghindari sorotan matanya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kuremasi dada kirinya dengan kedua belah tangan, sesuai prosedur.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Erangannya tambah keras dan sering, matanya merem-melek. Wah . ini sih engga beres nih. Dan makin engga beres, Syeni menuntun tangan kiriku untuk pindah ke dada kanannya, dan tangannya ikut meremas mengikuti gerakan tanganku .. Jelas ini bukan gerakan Sarari, tapi gerakan merangsang seksual . herannya aku nurut saja, bahkan menikmati.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Ketika rintihan Syeni makin tak terkendali, aku khawatir kalau kedua suster itu curiga. Kalaupun suster itu masuk ruangan, masih aman, karena dipan-periksa ini ditutup dengan korden. Dan . benar juga, kudengar ada orang memasuki ruang praktek. Aku langsung memberi isyarat untuk diam. Syeni kontan membisu. Lalu aku bersandiwara.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAmbil nafas Bu \u201d seolah sedang memeriksa. Terdengar orang itu keluar lagi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tak bisa diteruskan nih, reputasiku yang baik selama ini bisa hancur.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cUdah Bu ya . tak ada tanda-tanda kangker kok\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cDok ..\u201d Katanya serak sambil menarik tanganku, mata terpejam dan mulut setengah terbuka. Kedua bulatan itu bergerak naik-turun mengikuti alunan nafasnya. Aku mengerti permintaanya. Aku sudah terangsang. Tapi masa aku melayani permintaan aneh pasienku? Di ruang periksa?<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Gila !<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Entah bagaimana prosesnya, tahu-tahu bibir kami sudah beradu. Kami berciuman hebat. Bibirnya manis rasanya .<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Aku sadar kembali. Melepas.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cDok .. Please . ayolah .\u201d Tangannya meremas celana tepat di penisku<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIh kerasnya ..\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEngga bisa dong Bu ..\u2019<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cDokter udah siap gitu .\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIya .. memang .. Tapi masa .\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cPlease dokter .. Cumbulah saya .\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Aku bukannya tak mau, kalau udah tinggi begini, siapa sih yang menolak bersetubuh dengan wanita molek begini ?<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cNanti aja . tunggu mereka pulang\u201d Akhirnya aku larut juga .<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSaya udah engga tahan .\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSebentar lagi kok. Ayo, rapiin bajunya dulu. Ibu pura-pura pulang, nanti setelah mereka pergi, Ibu bisa ke sini lagi\u201d Akhirnya aku yang engga tahan dan memberi jalan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cOkey ..okey . Bener ya Dok\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBener Bu\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKok Ibu sih manggilnya, Syeni aja dong\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cYa Syeni\u201d kataku sambil mengecup pipinya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEhhhhfff\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Begitu Syeni keluar ruangan, Nia masuk.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201chabis Dok\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dia langsung berberes. Rapi kembali.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cDokter belum mau pulang ?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBelum. Silakan duluan\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBaiklah, kita duluan ya\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Aku amati mereka berdua keluar, sampai hilang di kegelapan. Aku mencari-cari wanita molek itu. Sebuah baby-bens meluncur masuk, lalu parkir. Si tubuh indah itu nongol. Aku memberi kode dengan mengedipkan mata, lalu masuk ke ruang periksa, menunggu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Syeni masuk.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKunci pintunya\u201d perintahku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sampai di ruang periksa Syeni langsung memelukku, erat sekali.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cDok \u2026\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cYa .Syeni .\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tak perlu kata-kata lagi, bibir kami langsung berpagutan. Lidah yang lincah dan ahli menelusuri rongga-ronga mulutku. Ah wanita ini .. Benar-benar ..ehm ..<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sambil masih berpelukan, Syeni menggeser tubuhnya menuju ke pembaringan pasien, menyandarkan pinggangnya pada tepian dipan, mata sipitnya tajam menatapku, menantang. Gile bener ..<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Aku tak tahan lagi, persetan dengan sumpah, kode etik dll. Dihadapanku berdiri wanita muda cantik dan sexy, dengan gaya menantang.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kubuka kancing bajunya satu-persatu sampai seluruhnya terlepas. Tampaklah kedua gumpalan daging kenyal putih yang seakan sesak tertutup BH hitam yang tadi aku urut dan remas-remas. Kali ini gumpalan itu tampak lebih menonjol, karena posisinya tegak, tak berbaring seperti waktu aku meremasnya tadi. Benar2 mendebarkan ..<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Syeni membuka blousenya sendiri hingga jatuh ke lantai. Lalu tangannya ke belakang melepas kaitan Bhnya di punggung. Di saat tangannya ke belakang ini, buah dadanya tampak makin menonjol. Aku tak tahan lagi \u2026<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kurenggut BH hitam itu dan kubuang ke lantai, dan sepasang buah dada Syeni yang bulat, menonjol, kenyal, putih, bersih tampak seluruhnya di hadapanku. Sepasang putingnya telah mengeras. Tak ada yang bisa kuperbuat selain menyerbu sepasang buah indah itu dengan mulutku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cOoohhh .. Maaassss ..\u201d Syeni merintih keenakan, sekarang ia memanggilku Mas !<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Aku engga tahu daging apa namanya, buah dada bulat begini kok kenyal banget, agak susah aku menggigitnya. Putingnya juga istimewa. Selain merah jambu warnanya, juga kecil, \u201cmenunjuk\u201d, dan keras. Tampaknya, belum seorang bayipun menyentuhnya. Sjeni memang ibu muda yang belum punya anak.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMaaaasss .. Sedaaaap ..\u201d Rintihnya ketika aku menjilati dan mengulumi putting dadanya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Syeni mengubah posisi bersandarnya bergeser makin ke tengah dipan dan aku mengikuti gerakannya agar mulutku tak kehilangan putting yang menggairahkan ini. Lalu, perlahan dia merebahkan tubuhnya sambil memelukku. Akupun ikut rebah dan menindih tubuhnya. Kulanjutkan meng-eksplorasi buah dada indah ini dengan mulutku, bergantian kanan dan kiri.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tangannya yang tadi meremasi punggungku, tiba2 sekarang bergerak menolak punggungku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cLepas dulu dong bajunya . Mas .\u201d kata Syeni<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Aku turun dari pembaringan, langsung mencopoti pakaianku, seluruhnya. Tapi sewaktu aku mau melepas CD-ku, Syeni mencegahnya. Sambil masih duduk, tangannya mengelus-elus kepala penisku yang nongol keluar dari Cdku, membuatku makin tegang aja .. Lalu, dengan perlahan dia menurunkan CD-ku hingga lepas. Aku telah telanjang bulat dengan senjata tegak siap, di depan pasienku, nyonya muda yang cantik, sexy dan telanjang dada.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cWow .. Bukan main ..\u201d Katanya sambil menatap penisku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Wah . tak adil nih, aku sudah bugil sedangkan dia masih dengan rok mininya. Kembali aku naik ke pembaringan, merebahkan tubuhnya, dan mulai melepas kaitan dan rits rok pendeknya. Perlahan pula aku menurunkan rok pendeknya. Dan \u2026. Gila !<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Waktu menarik roknya ke bawah, aku mengharapkan akan menjumpai CD hitam yang tadi sebelum memeriksa dadanya, sempat kulihat sekejap. Yang \u201ctersaji\u201d sekarang dihadapanku bukan CD hitam itu, meskipun sama-sama warna hitam, melainkan bulu-bulu halus tipis yang tumbuh di permukaan kewanitaan Syeni, tak merata. Bulu-bulu itu tumbuh tak begitu banyak, tapi alurnya jelas dari bagian tengah kewanitaannya ke arah pinggir. Aku makin \u201cpusing\u201d \u2026<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kemana CD-nya ? Oh .. Dia udah siap menyambutku rupanya. Dan Syeni kulihat senyum tipis.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAda di mobil\u201d katanya menjawab kebingunganku mencari CD hitam itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKapan melepasnya ?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cTadi, sebelum turun .\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kupelorotkan roknya sampai benar2 lepas .. kini tubuh ibu muda yang putih itu seluruhnya terbuka. Ternyata di bawah rambur kelaminnya, tampak sebagian clit-nya yang berwarna merah jambu juga ! Bukan main. Dan ternyata, pahanya lebih indah kalau tampak seluruhnya begini. Putih bersih dan bulat.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Syeni lalu membuka kakinya. Clitnya makin jelas, benar, merah jambu. Aku langsung menempatkan pinggulku di antara pahanya yang membuka, merebahkan tubuhku menindihnya, dan kami berciuman lagi. Tak lama kami berpagutan, karena ..<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMaass .. Masukin Mas .. Syeni udah engga tahan lagi ..\u201d Wah . dia maunya langsung aja. Udah ngebet benar dia rupanya. Aku bangkit. Membuka pahanya lebih lebar lagi, menempatkan kepala penisku pada clitnya yang memerah, dan mulai menekan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cUuuuuhhhhhh .. Sedaaaapppp ..\u201d Rintihnya. Padahal baru kepala penisku aja yang masuk.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Aku menekan lagi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cOuufff .. Pelan-pelan dong Mas ..\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSorry \u2026\u201d Aku kayanya terburu-buru. Atau vagina Syeni memang sempit.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Aku coba lebih bersabar, menusuk pelan-pelan, tapi pasti \u2026 Sampai penisku tenggelam seluruhnya. Benar, vaginanya memang sempit. Gesekannya amat terasa di batang penisku. Ohh nikmatnya ..<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sprei di pembaringan buat pasien itu jadi acak2an. Dipannya berderit setiap aku melakukan gerakan menusuk.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sadarkah kau?<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Siapa yang kamu setubuhi ini?<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Pasienmu dan isteri orang!<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Mestinya kamu tak boleh melakukan ini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Habis, dia sendiri yang meminta. Masa minta diperiksa buah dadanya, salah siapa dia punya buah dada yang indah ? Siapa yang minta aku merabai dan memijiti buah dadanya? Siapa yang meminta remasannya dilanjutkan walaupun aku sudah bilang tak ada benjolan ? Okey, deh. Dia semua yang meminta itu. Tapi kamu kan bisa menolaknya? Kenapa memenuhi semua permintaan yang tak wajar itu? Lagipula, kamu yang minta dia supaya datang lagi setelah para pegawaimu pulang . Okey deh, aku yang minta dia datang lagi. Tapi kan siapa yang tahan melihat wanita muda molek ini telanjang di depan kita dan minta disetubuhi?<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Begitulah, aku berdialog dengan diriku sendiri, sambil terus menggenjot memompa di atas tubuh telanjangnya \u2026 sampai saatnya tiba. Saatnya mempercepat pompaan. Saatnya puncak hubungan seks hampir tiba. Dan tentu saja saatnya mencabut penis untuk dikeluarkan di perutnya, menjaga hal-hal yang lebih buruk lagi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tapi kaki Syeni menjepitku, menahan aku mencabut penisku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Karena memang aku tak mampu menahan lagi .. Creetttttttt\u2026\u2026\u2026..Kesempr otkan kuat-kuat air maniku ke dalam tubuhnya, ke dalam vagina Syeni, sambil mengejang dan mendenyut \u2026.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Lalu aku rebah lemas di atas tubuhnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tubuh yang amat basah oleh keringatnya, dan keringatku juga. \u2026<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Oh .. Baru kali ini aku menyetubuhi pasienku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Pasien yang memiliki vagina yang \u201clegit\u201d ..<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Aku masih lemas menindihnya ketika handphone Syeni yang disimpan di tasnya berbunyi. Wajah Syeni mendadak memucat. Dengan agak gugup memintaku untuk mencabut, lalu meraih Hpnya sambil memberi kode supaya aku diam. Memegang HP berdiri agak menjauh membelakangiku, masih bugil, dan bicara agak berbisik. Aku tak bisa jelas mendengar percakapannya. Lucu juga tampaknya, orang menelepon sambil telanjang bulat ! Kuperhatikan tubuhnya dari belakang. Memang bentuk tubuh yang ideal, bentuk tubuh mirip gitar spanyol.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSiapa Syen\u201d tanyaku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKoko, Suamiku\u201d Oh .. Mendadak aku merasa bersalah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cCuriga ya dia\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAh .engga .\u201d katanya sambil menghambur ke tubuhku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSyeni bilang, masih belum dapat giliran, nunggu 2 orang lagi\u201d lanjutnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSuamimu tahu kamu ke sini\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIya dong, memang Syeni mau ke dokter\u201d Tiba2 dia memelukku erat2.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cTerima kasih ya Mas \u2026 nikmat sekali .. Syeni puas\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAh masa .. \u201c<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIya bener .. Mas hebat mainnya .\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAh . engga usah basa basi\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cBener Mas .. Malah Syeni mau lagi .\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAh .udahlah, kita berberes, tuh ditunggu ama suamimu\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cLain kali Syeni mau lagi ya Mas\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cGimana nanti aja .. Entar jadi lagi\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cJangan khawatir, Syeni pakai IUD kok\u201d Inilah jawaban yang kuinginkan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cOh ya ..?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSi Koko belum pengin punya anak\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kami berberes. Syeni memungut BH dan blouse-nya yang tergeletak di lantai, terus mengenakan blousenya, bukan BH-nya dulu. Ternyata BH-nya dimasukkan ke tas tangan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKok BH-nya engga dipakai ?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEntar aja deh di rumah\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEntar curiga lho, suamimu\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAh, dia pulangnya malem kok, tadi nelepon dari kantor\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dia mengancing blousenya satu-persatu, baru memungut roknya. Sexy banget wanita muda yang baru saja aku setubuhi ini. Blose ketatnya membentuk sepasang bulatan dada yang tanpa BH. Bauh dada itu berguncang ketika dia mengenakan rok mini-nya. Aku terrangsang lagi \u2026 Cara Syeni mengenakan rok sambil sedikit bergoyang sexy sekali. Apalagi aku tahu di balik blouse itu tak ada penghalang lagi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKok ngliatin aja, pakai dong bajunya\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cHabis . kamu sexy banget sih \u2026\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAh .. masa .. Kok bajunya belum dipakai ?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEntar ajalah . mau mandi dulu .\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Selesai berpakaian, Syeni memelukku yang masih bugil erat2 sampai bungkahan daging dadanya terasa terjepit di dadaku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cSyeni pulang dulu ya Yang . kapan-kapan Syeni mau lagi ya .\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cIya .. deh . siapa yang bisa menolak..\u201d Tapi, kenapa nih .. Penisku kok bangun lagi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cEh .. Bangun lagi ya ..\u201d Syeni ternyata menyadarinya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Aku tak menjawab, hanya balas memeluknya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMas mau lagi .?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cAh . kamu kan ditunggu suami kamu\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cMasih ada waktu kok \u2026\u201d katanya mulai menciumi wajahku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cUdah malam Syen, lain waktu aja\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Syani tak menjawab, malah meremasi penisku yang udah tegang. Lalu dituntunnya aku menuju meja kerjaku. Disingkirkannya benda2 yang ada di meja, lalu aku didudukkan di meja, mendorongku hingga punggungku rebah di meja. Lalu Syeni naik ke atas meja, melangkahi tubuhku, menyingkap rok mininya, memegang penisku dan diarahkan ke liang vaginanya, terus Syeni menekan ke bawah duduk di tubuhku. ..<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Penisku langsung menerobos vaginanya ..<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Syeni bergoyang bagai naik kuda .<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sekali lagi kami bersetubuh .<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kali ini Syeni mampu menccapai klimaks, beberapa detik sebelum aku menyemprotkan vaginanya dengan air maniku \u2026<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Lalu dia rebah menindih tubuhku .. Lemas lunglai.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKapan-kapan ke rumahku ya \u2026 kita main di sana ..\u201d Katanya sebelum pergi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cNgaco . suamimu .?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKalo dia sedang engga ada dong ..\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Baiklah, kutunggu undanganmu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sejak \u201cperistiwa Syeni\u201d itu, aku jadi makin menikmati pekerjaanku. Menjelajahi dada wanita dengan stetoskop membuatku jadi \u201csyur\u201d, padahal sebelum itu, merupakan pekerjaan yang membosankan. Apalagi ibu-ibu muda yang menjadi pasienku makin banyak saja dan banyak di antaranya yang sexy .<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Baca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-dewasa-kontol-hitam-berurat-milik-tukang-kebunku\/\">Cerita Dewasa Kontol Hitam Berurat Milik Tukang Kebunku<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-dewasa-gairah-memek-rapat-jablay\/\">Cerita Dewasa Gairah Memek Rapat Jablay<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-sex-muncratnya-spermaku-di-memeknya\/\">Cerita Sex Muncratnya Spermaku Di Memeknya<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-mesum-cintia-adik-iparku-yang-montok\/\">Cerita Mesum Cintia Adik Iparku Yang Montok<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-lendir-balas-budi-dengan-cara-ngentot\/\">Cerita Lendir Balas Budi Dengan Cara Ngentot<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-ngentot-asisten-dokter-gigi-hyper-sex\/\">Cerita Ngentot Asisten Dokter GIGI Hyper SEX<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-ngewek-riri-teman-sekaligus-partner-seks-ku\/\">Cerita Ngewek Riri Teman Sekaligus Partner Seks Ku<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-panas-dasyatnya-desahan-tante-donna\/\">Cerita Panas Dasyatnya Desahan Tante Donna<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-porno-nikmatnya-mellisa-admin-kantorku\/\">Cerita Porno Nikmatnya Mellisa Admin Kantorku<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-dewasa-angela-asiten-dokter-gigi\/\">Cerita Dewasa Angela Asiten Dokter Gigi<\/a><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cerita Ngewek Bonus Ngentot Dari Pasienku &#8211; Emang bener-bener gila tuh cewek. Ke dokter dianter sama suaminya, malah minta aq<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"colormag_page_container_layout":"default_layout","colormag_page_sidebar_layout":"default_layout","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-754","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.2 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Bonus Ngentot Dari Pasienku - Cerita Dewasa Blog<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/bonus-ngentot-dari-pasienku\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Bonus Ngentot Dari Pasienku - Cerita Dewasa Blog\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Cerita Ngewek Bonus Ngentot Dari Pasienku &#8211; Emang bener-bener gila tuh cewek. Ke dokter dianter sama suaminya, malah minta aq\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/bonus-ngentot-dari-pasienku\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Cerita Dewasa Blog\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-08-07T11:36:59+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-04-11T08:31:24+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"schmu\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"schmu\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"21 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/bonus-ngentot-dari-pasienku\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/bonus-ngentot-dari-pasienku\/\"},\"author\":{\"name\":\"schmu\",\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#\/schema\/person\/e40bae56bd62667590423d623c06d0bc\"},\"headline\":\"Bonus Ngentot Dari Pasienku\",\"datePublished\":\"2025-08-07T11:36:59+00:00\",\"dateModified\":\"2026-04-11T08:31:24+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/bonus-ngentot-dari-pasienku\/\"},\"wordCount\":3924,\"commentCount\":0,\"articleSection\":[\"Uncategorized\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/bonus-ngentot-dari-pasienku\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/bonus-ngentot-dari-pasienku\/\",\"url\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/bonus-ngentot-dari-pasienku\/\",\"name\":\"Bonus Ngentot Dari Pasienku - Cerita Dewasa Blog\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-08-07T11:36:59+00:00\",\"dateModified\":\"2026-04-11T08:31:24+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#\/schema\/person\/e40bae56bd62667590423d623c06d0bc\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/bonus-ngentot-dari-pasienku\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/bonus-ngentot-dari-pasienku\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/bonus-ngentot-dari-pasienku\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Bonus Ngentot Dari Pasienku\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#website\",\"url\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/\",\"name\":\"Cerita Dewasa Blog\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#\/schema\/person\/e40bae56bd62667590423d623c06d0bc\",\"name\":\"schmu\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/082dff75265c6bf01cb08afa8e9e3e49a15480050ab46bd77b7617e75204ec14?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/082dff75265c6bf01cb08afa8e9e3e49a15480050ab46bd77b7617e75204ec14?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/082dff75265c6bf01cb08afa8e9e3e49a15480050ab46bd77b7617e75204ec14?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"schmu\"},\"url\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/author\/schmu\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Bonus Ngentot Dari Pasienku - Cerita Dewasa Blog","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/bonus-ngentot-dari-pasienku\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Bonus Ngentot Dari Pasienku - Cerita Dewasa Blog","og_description":"Cerita Ngewek Bonus Ngentot Dari Pasienku &#8211; Emang bener-bener gila tuh cewek. Ke dokter dianter sama suaminya, malah minta aq","og_url":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/bonus-ngentot-dari-pasienku\/","og_site_name":"Cerita Dewasa Blog","article_published_time":"2025-08-07T11:36:59+00:00","article_modified_time":"2026-04-11T08:31:24+00:00","author":"schmu","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"schmu","Estimasi waktu membaca":"21 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/bonus-ngentot-dari-pasienku\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/bonus-ngentot-dari-pasienku\/"},"author":{"name":"schmu","@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#\/schema\/person\/e40bae56bd62667590423d623c06d0bc"},"headline":"Bonus Ngentot Dari Pasienku","datePublished":"2025-08-07T11:36:59+00:00","dateModified":"2026-04-11T08:31:24+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/bonus-ngentot-dari-pasienku\/"},"wordCount":3924,"commentCount":0,"articleSection":["Uncategorized"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/bonus-ngentot-dari-pasienku\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/bonus-ngentot-dari-pasienku\/","url":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/bonus-ngentot-dari-pasienku\/","name":"Bonus Ngentot Dari Pasienku - Cerita Dewasa Blog","isPartOf":{"@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#website"},"datePublished":"2025-08-07T11:36:59+00:00","dateModified":"2026-04-11T08:31:24+00:00","author":{"@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#\/schema\/person\/e40bae56bd62667590423d623c06d0bc"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/bonus-ngentot-dari-pasienku\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/bonus-ngentot-dari-pasienku\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/bonus-ngentot-dari-pasienku\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Bonus Ngentot Dari Pasienku"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#website","url":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/","name":"Cerita Dewasa Blog","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#\/schema\/person\/e40bae56bd62667590423d623c06d0bc","name":"schmu","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/082dff75265c6bf01cb08afa8e9e3e49a15480050ab46bd77b7617e75204ec14?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/082dff75265c6bf01cb08afa8e9e3e49a15480050ab46bd77b7617e75204ec14?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/082dff75265c6bf01cb08afa8e9e3e49a15480050ab46bd77b7617e75204ec14?s=96&d=mm&r=g","caption":"schmu"},"url":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/author\/schmu\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/754","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=754"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/754\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1584,"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/754\/revisions\/1584"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=754"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=754"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=754"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}