{"id":900,"date":"2025-10-20T12:19:02","date_gmt":"2025-10-20T05:19:02","guid":{"rendered":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/?p=900"},"modified":"2026-04-11T15:40:40","modified_gmt":"2026-04-11T08:40:40","slug":"cerita-ngewek-genjotan-istri-abang-tukang-bakso","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-ngewek-genjotan-istri-abang-tukang-bakso\/","title":{"rendered":"Cerita Ngewek Genjotan Istri Abang Tukang Bakso"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-ngewek-genjotan-istri-abang-tukang-bakso\/\">Cerita Ngewek Genjotan Istri Abang Tukang Bakso<\/a> &#8211; Pada dasarnya, gua ini orang yang senang bergaul. Gua orang yang gemar berada dalam sebuah komunitas atau perkumpulan. Baik yang positif (apalagi) yang rada negative. Hehe.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gua ini orangnya supel. Suka pelempuan~<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tapi, seperti halnya kebanyakan masyarakat urban, masyarakat kelas menengah ngehek, gua justru luput menjalin hubungan dengan tetangga sekitar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gua gak tau siapa-siapa tetangga yang tinggal bahkan disebelah rumah gua sendiri. Tapi sebetulnya, selain karena memang gua yang kurang peduli juga karena sebelah rumah gua itu kontrakan rumah toko (ruko) yang penghuninya sering berganti seiring musim yang sedang terjadi.SahabatQQ<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kalo musim hujan, biasanya ruko diisi sama tukang bakso. Kalo musim kemarau, diisi sama tukang cendol. Gua gak tau bakal diisi sama tukang apa kalo di Indonesia ada musim salju. Besar kemungkinan diisi sama tukang jamu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Suatu hari, dirumah gua menggelar sebuah pertemuan yang dihadiri ratusan orang. Karena rumah gua gak cukup untuk menampung ratusan orang (rumah gua cuma cukup menampung 99 orang. Hehe) maka terpaksa harus menggelar tiker sampai keluar rumah, yaitu jalanan komplek yang sekaligus menjadi jalanan umum masyarakat sekitar menuju jalan raya utama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gua baru sampai rumah jam 8 malam dan cukup kaget melihat rumah gua bak studio JKT48. Gua pikir omongan nyokap dipagi hari, \u201cNanti malem ada acara dirumah..\u201d cuma acara rutin macem pengajian atau arisan warga, ternyata lebih dari pada itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena enggan, \u201cpermisi-permisi..\u201d untuk masuk ke dalem rumah, gua pun akhirnya menunggu acara selesai disebelah rumah. Diruko tukang jamu, eh, ruko tukang bakso.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Satu jam berlalu sambil ngobrol ngalor-ngidul sama kang bakso yang tau muka tapi tidak tau nama gua, begitu pun dengan gua sendiri. Akhirnya kami pun berkenalan. Dan akhirnya kang bakso yang bernama Mas Mujiono ini gua pake. Yakali!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mas Muji, begitu biasa dia disapa, usianya hampir 50 tahun. Dia baru punya satu anak perempuan, namanya Ria. Usianya tak lebih dari 10 tahun. Sedang lucu-lucunya. Waktu gua ngobrol sama Mas Muji, Ria beberapa kali keluar masuk menggali perhatian gua yang sebelumnya, saat pertama kali melihat dia, gua menggodanya. Anak kecil tau sendiri kalo digodain, maunya terus dan terus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena tak kuat menahan kencing, gua pun meminta izin Mas Muji untuk pakai kamar mandinya. Mas Muji kemudian mempersilahkan gua setelah sebelumnya masuk ke dalam. Besar kemungkinan dia sedang membersihkan kamar mandinya agar \u201clayak dipinjam\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ruko Mas Muji ini memiliki tiga ruangan\/petak. Petak pertama tempatnya berjualan, petak kedua kamar tidur, dan petak terakhir dapur serta kamar mandi. Lebarnya 4 meter dan panjang 10 meter. Yang berminat ngontrak silahkan pm. Lah!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saat masuk kedalam, menuju kamar mandi, ada istri Mas Muji, sedang menonton tv. Karena gua diantar Mas Muji, gua pun hanya sepintas lalu melihat istrinya yang sedang \u2018diusel-usel\u2019 sama Ria.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah selesai buang hajat, (yap, abis kencing, mendadak gua mau boker) gua pun keluar kamar mandi. Saat baru saja keluar dari area dapur memasuki area kamar tidur, Ria (kembali) ngajak bercanda. Dia sembunyi dibalik tembok, kemudian seperti seolah-olah mengagetkan gua sembari memeluk sekitaran kaki dan paha gua sambil tertawa cekakakan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mas Muji yang sedang melayani pembeli terdengar memperingatkan buah hatinya itu untuk tidak mengganggu. Tapi apakah gua merasa terganggu? Tentu tidak. Kejadian itu gua manfaatkan untuk melihat dengan seksama sosok istri Mas Muji.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cWow..\u201d Gerak mulut gua saat melihatnya. Istri Mas Muji kemudian meminta Ria untuk kembali anteng atau duduk dikasur. Gua sempat tersenyum dan menganggukkan kepala saat saling menatap dengan istri Mas Muji. Dia pun balas tersenyum dan mengangguk.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mas Muji ini sepertinya punya aji-ajian dari mbah dukun. Karena kalo dicari alasan logis perempuan muda, cantik, dan bahenol macam istrinya ini mau \u2018diajak\u2019 susah menjalani hidup sama dia, gua gak nemuin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Istrinya Mas Muji ini cuantik, rek!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk bersanding sama lelaki umur 50 tahunan yang berprofesi sebagai kang bakso, istrinya malah bisa dibilang cantik banget.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bukan bermaksud merendahkan tukang bakso, tapi wajarnya perempuan cantik yang umurnya terpaut 20 tahun dengan seorang lelaki, cuma akan menikah sama kang korupsi, kang tender, atau kang-kang lainnya yang punya harta melimpah. Lah Mas Muji?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Nama istri Mas Muji ini tak lain dan tak bukan adalah Teh Lilis. Dia dipanggil \u201cTeh\u201d karena lahir dan besar di \u2026 Ambon. What? Hehe.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Teh Lilis ini aseli Ciamis. Dia berkenalan dengan Mas Muji diarea wisata pantai daerahnya. Selang sebulan perkelanannya itu, Teh Lilis dilamar dan kemudian dinikahi lalu dibojong Mas Muji ke Jakarta.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ini yang tadi gua bilang kalo Mas Muji punya aji-ajian. Saat berkenalan dan hendak mempersunting Teh Lilis, usaha bakso Mas Muji hanyalah sekala gerobak dorong yang mana tidak mempunyai pelanggan tetap. Mas Muji mengumpulkan keuntungannya berdagang selama lebih dari 10 tahun untuk menikah dan mencari peruntungan lebih besar dengan mengontrak toko, bahasa kitanya, mangkal. Agar punya pelanggan tetap dan usaha berkembang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Laba selama 10 tahun itulah modal Mas Muji menemui orang tua Teh Lilis dan memboyongnya ke ibu kota. Kalo Mas Muji gak punya aji-ajian, rasanya orang tua Teh Lilis enggan menyerahkan buah hatinya yang cantik nan montok itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sejarah singkat diatas, disponsori langsung oleh Mas Muji sendiri (selain dugaan punya aji-ajian, tentu saja). Keabsahan dan keakuratannya jelas terverifikasi serta dapat di pertanggungjawabkan. Ngok!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tidak ada hal istimewa yang terjadi setelah perkenalan dengan tetangga sebelah rumah gua ini. Semua kembali normal seperti biasanya, seiring selesainya acara yang berlangsung dirumah gua. Janganlah kalian berharap gua langsung doggiestlye sama Teh Lilis disaat Mas Muji menggodok gilingan baksonya, jangan! Semua berjalan seperti hari-hari sebelumnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Awal mula perkenalan langsung gua sama Teh Lilis adalah saat gua hendak keluar rumah. Waktu itu gua memarkirkan kendaraan disebelah rumah atau lebih tepatnya didepan ruko Mas Muji karena lupa membawa pulpen. Ou, ouw. Jangan sepelekan pulpen. Googling, \u2018lost your pen\u2019 untuk keterangan lebih lanjut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena masih pagi, warung Mas Muji masih tutup. Itu kenapa gua santai aja parkir didepan rukonya. Sekembalinya mengambil pulpen, gua ketemu Ria sama ibunya yang mau berangkat ke sekolah. Gua pun dengan tulus ikhlas tanpa niat kotor mengajak mereka bareng.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebenarnya jarak antara area sekolahan sama rumah gua tidaklah jauh-jauh amat. Bahkan tidak lebih dari 2 km. Tapi atas dasar perputaran ekonomi, masyarakat sekitar rumah gua lebih memilih naik ojek ketimbang jalan kaki. \u201cBagi-bagi rejeki..\u201d begitu alasan dari keengganan berjalan kaki masyarakat urban saat ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Teh Lilis awalnya sempat menolak karena mungkin malu atau segan. Tapi karena Ria langsung setuju dan naik ke dalam kendaraan, Teh Lilis tak bisa berbuat apa-apa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Teh Lilis tampak malu dan kaku, dia membatasi gerak Ria di dalam mobil. Gua sesekali mnggoda Ria dan meng-gpp-kan usaha Teh Lilis meredam tingkah random anaknya. \u201cGpp, Mba.. Ih, si Mba, kaya gak pernah kecil aja..\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBapaknya mana? Masih tidur ya?\u201d Kata gua, bertanya pada Ria yang tampak antusias (mau gua sebut \u2018norak\u2019 ga tega) mencet-mencet dan melihat monitor didepannya. Ria hanya menjawab sepintas lalu tanpa melihat kearah gua, \u201cIya..\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Teh Lilis yang menyadari tingkah anaknya menggelengkan kepala dan tersenyum malu. Karena anaknya tak menggubris, gua pun lalu mengajak berbicara ibunya. Eaaa. Kalo kata pepatah, \u201cHabis jatuh tertiban janda\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kalo kata orang jawa, malahane.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMba, siapa namanya?\u201d<br \/>\n\u201cLilis..\u201d<br \/>\n\u201cAslinya juga satu daerah sama Mas Muji?\u201d<br \/>\n\u201cOh, ngga. Saya mah dari Ciamis..\u201d<br \/>\n\u201cOoh, urang sunda. Teteh, dong ya, manggilnya..\u201d<br \/>\n\u201cHehe, iya..\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lagi-lagi kalian jangan berharap gua langsung akan meng-wot-kan Teh Lilis didalam mobil. Karena tak lama dari obrolan perkenalan diatas, kami tiba diarea sekolahan. Lagipula masih ada anak dibawah umur.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah kami berpisah semuanya kembali normal seperti biasanya lagi. Tak ada niat kotor, tak ada pikiran mesum, meski bertemu dan bertukar senyum dengan Teh Lilis di hari-hari berikutnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sampai akhirnya, awal mula kemesuman yang kalian tunggu-tunggu hadir juga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gua kedatangan tamu dari jauh, seorang teman lama. Kolega gua dalam usaha membawa cewe-cewe mabuk ke dalam gubuk.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namanya Udjo. Saat ini dia sudah tinggal diluar kota bersama istri, anak, dan ibu mertuanya. Sepaket.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gua mengajak Udjo makan bakso ditempat Mas Muji karena enggan menambah kemacetan ibu kota diakhir pekan. Entah karena akhir pekan atau habis hujan, ruko Mas Muji kebanjiran pembeli.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAlhamdulillah, ya Mas kebanjiran pembeli, bukan kebanjiran air got!\u201d Kata gua, coba mencairkan raut sibuk Mas Muji sehingga membuatnya tertawa. Karena ramai, tentu saja, Teh Lilis membantu suaminya melayani pembeli.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saat itulah, Udjo memberi kode dengan menyolek-nyolek paha gua. Semacam isyarat yang berbunyi, \u201cBro, Anjirr. Bininya cakep bener nih tukang bakso!\u201d<br \/>\nGua hanya tersenyum dan sesekali menghentikan colekan Udjo. \u201cLu kata gua sabun!\u201d kata gua juga dalam bahasa isyarat. Isyarat laraswati~<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gua sama Udjo pun terlibat obrolan tanpa suara saat menunggu baksonya datang. Kalian tau macam mana obrolan tanpa suara, kan? Taulah, pasti. Haha.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gua menyikut Udjo saat dia mulai ekstrim memandang Teh Lilis yang entah sedang mengambil kembalian atau mencuci mangkok. \u201cLah, elu mah enak, mau ngeliatin dia pake muka mesum macam apa juga gak masalah. Gua, yang gak enak!\u201d Kata gua saat kembali berbincang dirumah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cTapi asli, bro. Itu tadi mbanya boleh tuh, asli. Lah, lakinya aja udah aut, bro!\u201d<br \/>\n\u201cAut?\u201d Tanya gua, gak ngerti.<br \/>\n\u201cIya, aut. Tua, bego!\u201d Jawabnya menjelaskan sambil tertawa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cerpen Dewasa Terbaru | Gua pun tertawa dan mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Tapi Udjo seperti sudah dirasuki iblis mesum piaraan gua sendiri. Dia berkata dengan begitu yakin, \u201cKalo gua jadi lu, bro. Gua sikat tuh bininya kang bakso! Asli!\u201d<br \/>\n\u201cSikat, ndasmu sempal!\u201d Balas gua menyudahi kemesuman yang ada.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Udjo benar-benar menginspirasi gua untuk menggagahi Teh Lilis. Dia seolah memberikan gua keyakinan kalo Teh Lilis pasti mau diajak selingkuh. \u201cAsli, pasti mau!\u201d begitu kata Udjo, dengan keyakinan tingkat wali.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dan, iblis pun menyusun situasi mesum untuk gua.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Malam itu gua sampe rumah sudah sangat larut, sekitar jam 1an. Gua ngeliat Teh Lilis sedang belanja diwarung klontong milik orang Madura, yang pernah gua tanya, \u201cBuka 24 jam ya pak?\u201d Dijawab, \u201cNgga, cuma sampe pagi kok..\u201d Okee.. Makasih pak.. ~<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah markir kendaraan, gua bergegas ke warung klontong itu yang jaraknya tak jauh dari rumah gua.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cEh, Teh Lilis.. Belum tidur, Teh?\u201d<br \/>\n\u201cOh, iyaa..\u201d Jawabnya malas. Duh, gak ada peluang nih, batin gua.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBeli apaan, Teh..\u201d Tanya gua lagi.<br \/>\n\u201cHah? Ituh, tau nih, bapaknya Ria. Minta makan mie..\u201d Jawabnya setengah terkejut. Teh Lilis tampak murung dan melamun. Gua memandanginya dengan seksama. Baru ngeliatin dia aja, dada gua udah berdebar. Kaki gua gemeter. Dan, yap! Iblis berbisik, \u201ctuh bos, dia nyebut Mas Muji \u201cBapaknya Ria\u201d bos, bukan \u201cSuamiku\u201d. Itu artinya bisa digoyang imannya, bos! Lanjut, bos!\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBeli apa mas?\u201d Tanya Teh Lilis? Bukan! Tanya orang Madura. Membuyarkan lamunan gua menatap Teh Lilis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cOh. Rokok pak.. Lupa saya. Sama kopi juga deh..\u201d<br \/>\n\u201cSeduh sekalian kopinya?\u201d<br \/>\n\u201cGak usah, pak. Eh, tapi kalo airnya baru mendidih, boleh deh..\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tak disangka, Teh Lilis ikut bicara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cJam segini malah mau ngopi, mas. Gak tidur emangnya?\u201d<br \/>\n\u201cHehe, iya Teh. Masih ada kerjaan..\u201d<br \/>\n\u201cEmang, Mas kerjanya dimana?\u201d Tanyanya lagi. Sambil bayar gua ngomong, \u201cKenapa? Teteh mau ikut? Hehe.\u201d dengan pandangan menggoda. Teh Lilis sesaat kaget, lalu tertawa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cDuluan, Teh..\u201d Kata gua, kemudian cabut dari warung. Teh Lilis masih menunggu belanjaannya. Dan tak lama, dia pun bergegas pulang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Teh Lilis cuma berjarak 3 langkah dibelakang gua. Gua sengaja memperlambat jalan gua. Teh Lilis dilema, antara mau duluin gua atau ikutan jalan lambat. Dia milih opsi pertama, mungkin karena sudah ditungguin suaminya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAyo, mas..\u201d Katanya saat berada disebelah gua sesaat mendahului.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cOh, iya Teh..\u201d Balas gua, sok cuek dengan akting mainan gejet. Dalam hati bergejolak, \u201cminta-ngga-minta-ngga..\u201d Akhirnya gua memilih, Ngga! Haha, cupu banget gua. Minta nomornya aja takut! Yaiyalah, takut. Bini orang, sob!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tapi iblis punya rencana lain. Saat berada didepan ruko\/rumah Teh Lilis, dia kembali bersuara sebelum masuk. Seolah memberikan kode, kalo dia mau kok diajak selingkuh.~<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAwas, Mas, kesandung! Hehe\u201d godanya, yang melihat gua jalan sambil menatap layar gejet. Gua sok cool, menengok kearahnya dan hanya tersenyum. Ingin rasanya ngomong, \u201cTeh, minta nomor teleponnya, Teh..\u201d Tapi itu namanya main kotor. Kemungkinan didenger Mas Muji besar, jadi gua urung melakukannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sampai kamar, gua menyusun rencana dan tidur. Kopi yang gua beli dan udah diseduh, yang hanya menjadi kamuflase itu pun tak tersentuh. \u201cBiarlah jadi rejeki semut..\u201d Batin gua, lalu tidur.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pagi-pagi sekali gua bersiap menjalankan aksi. Hemm, seperti apa aksi gua? Stay tune, gaes!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cerpen Dewasa \u2013 Bu Lilis Part II<br \/>\nPagi-pagi sekali gua sudah berada di area sekolahan tempat Ria sekolah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Iblis benar-benar sudah menguasai diri gua. Entah dimana keberadaan malaikat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rencananya, gua akan mulai mendekatkan diri sama Teh Lilis saat dia menunggu Ria. Dan, melihat umur Teh Lilis yang gak tua-tua amat, dugaan gua dia pasti gak akan ikut nunggu Ria sambil ngerumpi sama ibu-ibu lain yang juga mengantar anaknya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cerpen Dewasa 2017 | Tapi dugaan tinggal dugaan. Teh Lilis ikut membaur dengan ibu-ibu. Iblis memberi celah dengan tidak adanya ibu-ibu yang berada di sekitar Teh Lilis yang gua kenal. Jadi, besar kemungkinan juga gak ada yang mengenal gua. Tinggal kemudian gua mencari celah untuk \u201cdilihat\u201d Teh Lilis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mulai dari bersiul kearah Teh Lilis, sampai melambai-lambaikan tangan, dia tetap tak sadar keberadaan gua. Tiba-tiba saja ide muncul saat melihat bocah sd keluar dari salah satu kelas (bukan kelasnya Ria), gua langsung mengiming-imingin jajanan dan mengantarnya kembali ke kelas seolah-olah gua adalah sodaranya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Teh Lilis sedikit kaget melihat keberadaan gua. Gua mengangguk dan tersenyum kearahnya. Setelah si bocah masuk kelas, gua menghampiri Teh Lilis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cNganter? Siapa?\u201d Katanya, membuka pembicaraan.<br \/>\n\u201cOh, iya. Keponakan Teh..\u201d<br \/>\n\u201cOohh..\u201d Responnya sambil beranjak dari tempat duduk hendak membeli jajanan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gua sih yakin kalo dia cuma ngasih peluang ke gua, semacem kode minta ditelanjangin. Atau minimal ini settingan iblis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cNungguin sampe pulang, Teh?\u201d Tanya gua. Dia gak gak menjawab, hanya mengangguk. Raut wajahnya tampak risih. Seketika gua bagai tersambar petir. \u201cAnjir, gua cuma kegeeran nih..\u201d Batin gua.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cTeh..\u201d Sapa gua lagi. Pantang menyerah.<br \/>\n\u201cIya..\u201d Jawabnya, masih dengan raut wajah risih dan cenderung was-was. Gua langsung menyodorkan hp dan minta nomor teleponnya. Dang! Hp gua gak direspon.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tapi dia malah bilang, \u201cNomor Mas aja berapa?\u201d sambil mengeluarkan hpnya dan gua pun pamit duluan setelah memberikan nomor hp.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cerita Dewasa 2025 Gua sih ga yakin dia bakal ngontek gua, tapi atas dasar positive thinking untuk kelakuan negative, gua menunggu kontak Teh Lilis. Tak sampai satu jam, ada pesan masuk ke hp gua.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAda apa ya, Mas? Maaf, saya risih ngobrol ditempat umum. Takut dikira macem-macem. Lilis.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hhhuuaaa.. Teh Lilis. Macam orang dulu aja ngirim Short Messages Service. Hehe<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cHehe, kalo gitu saya Teh yang minta maaf. Ga ada apa-apa Teh, mau kenal aja. Mau ngobrol-ngobrol. Kalo smsan gini masih risih ga, Teh? Hehe\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cYa kalo sms gini ga risih. Kan gak ada yang liat. Mau kenal? Kan udah kenal. Ngobrol kok sama ibu-ibu sih Mas, sama yang masih gadis aja atuh.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cDuh, Teh. Kalo sama gadis mah ribet Teh, ambekan. Dikit2 ngambek. Hehe. Teh Lilis tiap hari nungguin Ria?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cYah Mas, ibu-ibu juga sering ngambek kok. Namanya juga perempuan. Heee. Iya, tiap hari nungguin. Mas tadi anter anaknya ponakan? Kok baru liat.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cHehe, ngga Teh. Sebenernya cuma alesan buat ketemu Teteh aja \u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cHmm. Mas, tolong jangan nelepon saya yah klo saya lagi dirumah. Takut bapaknya Ria tau nanti malah nyangka macet-macet.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pesan terakhir Teh Lilis gak gua bales, tapi gua berinisiatif langsung meneleponnya. Teh Lilis terasa begitu segan dan risih saat menerima telepon gua. Tapi meski begitu, dia juga tak memadamkan percikan untuk digoda. Gua sebagai lelaki normal yang abnormal tentu saja tak melewatkan peluang begitu saja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gua mencoba membuatnya nyaman berbicara sama gua. Pelan-pelan Teh Lilis mulai \u2018biasa\u2019 dan enjoy dalam berbicara. Sesekali dia bercerita juga bertanya. Nah, kedua hal tersebut adalah koentji sebuah pedekate berhasil atau tidak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Akhirnya Teh Lilis menyudahi obrolan via telepon itu karena jam pulang Ria sudah tiba. Gua longok jam tangan, \u2018pukul 09:50 WIB\u2019.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Diakhir obrolan gua sempet ngomong, \u201cKalo lagi suntuk sms saya aja, Teh. Siapa tau malah tambah suntuk..\u201d seraya tertawa. Teh Lilis juga tertawa lepas saat menutup teleponnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gua pulang kerumah waktu banci pun belum dandan. Pikiran gua dipenuhi strategi-strategi menelanjangi Teh Lilis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dan sepertinya, Teh Lilis ini memang minta ditelanjangi. Dia sms gua gak lama setelah gua sampai rumah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cTumben Mas jam segini udah pulang? Gak jalan-jalan dulu sama pacarnya? Lagi marahan ya.. Hehehe\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gua sempat kaget mendapati sms Teh Lilis, karena pas gua liat sebelum masuk rumah, Teh Lilis lagi momong Ria di dekat Mas Muji. Mas Muji sendiri sedang melayani pembeli yang gak banyak-banyak amat dan gak sedikit juga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cHehe, bisa aja Teteh. Lagi nonton tv apa masih di depan Teh? Tadi saya lihat kan Teteh di depan.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cIya, lagi nonton tv. Udah ga di depan, banyak pembeli. Lagi sekalian nidurin Ria.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cNidurin Ria? Mau juga dong Teh, ditidurin. Ahahaha. Becanda, Teh. Loh, banyak pembeli kok gak bantuin Mas Muji?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cHmm. Untung cuma becanda. Bantuin kok, tapi sambil nonton tv. Heee.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cOwgitu..\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Biajingan, gua keabisan ide sampe cuma begitu doang bales smsnya. \u2018Owgitu..\u2019 Sms macam apa itu? Macem lagi wasapan atau bbman aja. Padahal di sms tersedia 140 karakter. Eh, bener apa ngga ya? Bodo, ah. Haha.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tapi ditengah keputusasaan balesan sms gua, Teh Lilis memainkan perannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBesok nganter lagi Mas?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cNganter, bareng aja Teh.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cGak ah. Ngerepotin.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cYah, Teh. Timbang gitu aja ngerepotin.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cHeeeehe. Boleh deh kalo gak ngerepotin.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cEh, sebenernya emang ngerepotin sih Teh. Kecuali kalo abis nganter trus Teteh nungguin Ria-nya diluar sama saya, baru gak ngerepotin.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cHmm. Keluar kemana Mas?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cGak usah jauh-jauh Teh. Biar jam setengah sepuluh udah sampe sekolahan lagi. Kemana aja, yang penting bisa ngobrol-ngobrol.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cGak ah. Takut ada yang liat Mas.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cYa kalo gitu, kita pergi ketempat yang gak ada orang liat. Hehe.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMas bisa aja. Udahan dulu ya, Mas. Jangan sms lagi.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Huhu. Yes!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">07:00 WIB<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Besoknya, seperti yang sudah dismskan semalem, gua nganter Ria dan Teh Lilis dengan bergaya seolah-olah gak janjian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Teh Lilis sempat bertanya, \u201cKeponakannya mana Mas?\u201d waktu perjalanan ke sekolah. Tapi gak gua jawab, karena pun dia nanya dengan raut wajah menggoda. Jiguri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah sampai sekolahan, Teh Lilis mengantar Ria ke kelas. Gua kemudian meneleponnya, memberitau kalo gua nunggu diseberang jalan utama sekolahan. Teh Lilis hanya membalas dengan suara, \u201cHmm.. He\u2019em.. Iya. Iya. He\u2019em..\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">07:30 WIB<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tak sampai 20 menit, Teh Lilis sudah masuk ke dalam mobil yang gua parkir di minimarket. Gua sedang berada di dalam membeli \u2018perlengkapan perang\u2019.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mobil sengaja menyala dan gak gua kunci, Teh Lilis menjalankan semua perintah gua. Nice.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKemana Mas?\u201d Tanya Teh Lilis waktu gua baru masuk mobil.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKemana ya?\u201d Kata gua sambil memandanginya dari atas sampai bawah, tanpa ada gangguan sedikitpun. Muka Teh Lilis seketika memerah. Kemudian memalingkan pandangannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Teh Lilis hanya memakai celana piama. Celana tidur dipadu dengan daster sedengkul dan jaket. Badannya yang bahenol terlihat dari balik pakaian yang berbahan lemas itu. Meski jaket blazernya coba menutupi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gua mulai nakal dengan menyentuh bagian rusuknya. Teh Lilis reflek bergoyang. Sekali, dua kali, sampai akhirnya Teh Lilis menghadap gua, lalu meraup wajah gua. Seperti sedang menampar, tapi tanpa tenaga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBajingan, berani nyentuh gua nih ibu-ibu..\u201d Batin gua. Gua pun langsung memanfaatkan dengan memegang tangannya. Teh Lilis membeku. Gua berdebar tak karuan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cYang penting, cabut dulu aja Teh dari sini..\u201d Kata gua kemudian sambil keluar parkiran dan gas pol entah kemana.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dijalan, gua menimang-nimang tempat tujuan. Teh Lilis gak banyak bicara, cenderung sedikit grogi. Raut wajahnya juga tampak khawatir. Entah khawatir gua apa-apain atau khawatir perbuatan nekatnya ini ketahuan Mas Muji.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">07:50 WIB<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di depan gerbang hotel, gua berhenti dan memandang Teh Lilis. Satu, dua, tiga detik, Teh Lilis tak kunjung memandang balik. Gua menggoyangkan jari di lingkaran stir.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Teh Lilis memandang balik. Raut wajahnya bukan sekedar bertanya \u201cNgapain berhenti didepan hotel?\u201d tapi juga, \u201c..Kalo mau masuk, ya masuk.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gua tersenyum lebar. Teh Lilis menghembuskan nafas panjang. Iblis berdendang dijok belakang. Malaikat terbelenggu didalem bagasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">08:00 WIB<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMas ngapain kita kesini?\u201d Tanya Teh Lilis saat sudah duduk dibibir kasur hotel.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cNgapain ya Teh enaknya? Hehe. Ngobrol aja Teh..\u201d Jawab gua sambil merebahkan badan dikasur. Teh Lilis membelakangi gua.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKan, kalo ngobrol disini gak bakal ada yang liat Teh..\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Teh Lilis sesekali menengok kebelakang, melihat posisi pewe gua. \u201cSini, Teh, nontonnya sambil rebahan. Kaya waktu saya pertama ngeliat Teteh, kan lagi nonton tv sambil tiduran gini..\u201d Goda gua.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Teh Lilis kembali menengok dan tertawa malu. \u201cSaya duduk, sih waktu itu. Gak tiduran. Dibilangin bapaknya Ria, mau ada yang numpang kamar mandi.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Didalam kamar, hampir selama setengah jam, hanya gua habiskan dengan ngobrol gak jelas. Sama-sama malu. Sama-sama grogi. Tapi lambat laun, Teh Lilis mulai santai dan berkeliling kamar hotel.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Duduk dimeja rias. Ke kamar mandi. Buka-buka kulkas dan baca majalah. Sesekali mendekat ke arah gua untuk bertanya sesuatu yang ada dikamar hotel. Gua pun justru larut dengan menyia-nyiakan waktu yang ada sambil glesoran dikasur.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Madep kanan, madep kiri, tungkerep, telentang. Glesoran gak karuan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sampai akhirnya gua bertanya sesuatu, \u201cEh, Teh. Kok umurnya bisa beda jauh sih sama Mas Muji?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Teh Lilis yang sedang duduk didepan meja rias sambil baca majalah kemudian berdiri. Mukanya seketika kesal. \u201cSaya mau balik ke sekolahan, Mas..\u201d Katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Doh, ngambek!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Teh Lilis lalu berjalan menuju pintu, gua langsung beranjak dari kasur dan menahannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kemudian gua minta maaf kalo ada sesuatu yang menyinggung. Teh Lilis tak bergeming. Gua sedikit menarik tangannya. Yang terjadi kemudian sungguh diluar perkiraan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gua hanya menarik tangannya pelan untuk mendapat perhatiannya yang sebelumnya enggan memandang gua. Tapi reaksi Teh Lilis seperti baru saja di uppercut Muhammad Ali.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dia merobohkan badannya yang secara otomatis menimpa badan gua yang lalu terjatuh dikasur.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sesaat kami saling pandang. Kedua tangan Teh Lilis berada didada gua, sedikit menopang tubuhnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gua lalu melingkarkan tangan gua dibadannya. Teh Lilis tak bereaksi. Masih memandangi gua. Gua salah tingkah. Muka Teh Lilis sedikit berubah menjadi sangat serius. Sesekali dia memejam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kemudian gua meraih kedua tangannya. Badan Teh Lilis sepenuhnya menindih badan gua. Payudaranya yang montok mendarat tepat didada gua. Muka Teh Lilis makin berubah saat gua menggoyangkan badannya. Bibirnya bergerak-gerak seperti ingin melumat atau berkata sesuatu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gua melepaskan jaket blazzernya. Ariel sudah tegangan tinggi. Kaki Teh Lilis lurus diatas gua.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gua lalu meremas bokongnya agar kakinya terbuka. Dan, yap, Teh Lilis mengangkang diatas gua dengan wajah horny.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ariel yang sudah tegangan tinggi terasa bersentuh dengan bagian vagina Teh Lilis. Gua menggoyangkan pinggul naik-turun sambil meremas bokongnya. Sebentar saja, Teh Lilis sudah mengikuti irama goyangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSssstttt..\u201d Desisnya sambil memejamkan mata. Giginya seperti sedang menggigit sesuatu. Gua makin kencang meremas bokongnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tiap gua remas dan bergoyang, Teh Lilis berdesis sambil mengatur nafas. \u201cSssssttt..\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tangan gua masuk ke dalam celana piamanya. Mudah saja buat gua karena hanya berbahan kolor. Setelah didalam celana, tangan gua gak meremas bokongnya, tapi langsung menyentuh vaginanya dari atas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Teh Lilis langsung mencengkram wajah dan melumat bibir gua. \u201cEemmm\u2026\u201d Desah gua.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sambil berciuman, saling melahap satu sama lain, gua menarik-narik kancut Teh Lilis. Teh Lilis bergeliat sambil menggoyangkan sendiri pinggulnya. \u201cSssssttt\u2026hhuuu..\u201d Desahnya kali ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gua lalu mulai meremas payudaranya. Teh Lilis memberi ruang dengan sedikit mengangkat tubuhnya yang berada diatas gua. Sebentar saja, gua langsung membuka tali branya dan mengangkat daster serta branya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Payudara montok Teh Lilis menggantung diatas wajah gua. Dia menahan tubuhnya dengan kedua tangan dikasur. Setelah menikmati aroma tubuhnya, gua mulai mengulum puting payudara Teh Lilis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari payudara yang satu, ke yang lain. Secara adil gua kulum dan remas payudaranya. Teh Lilis menggoyangkan badannya saat gua sedang melahap salah satu payudaranya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">08:40 WIB<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sambil menjilati putingnya, gua kembali meremas bokongnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Teh Lilis makin menikmati kebejatannya. Dia membuka celananya pake satu tangan dengan gerakan yang dinamis, tanpa mengganggu gua yang sedang melahap payudaranya. \u201cSsssttt.. Aahh..\u201d Desahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gua lalu membalikkan badan. Teh Lilis telentang sambil bergeliat saat gua melepas celana. \u201cDasternya, buka Teh..\u201d Kata gua saat hendak menjilati vaginanya yang masih tertutup. Teh Lilis membuka dasternya dan tapi kemudian menarik wajah gua dan memberikan ciuman dahsyat. Dia mencium sambil menyedot.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gua memasukkan tangan ke dalam kancutnya dan menyentuh vaginanya. Teh Lilis makin melumat bibir gua. Lalu gua memaikan jari dimulut vaginanya. Basah!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Vagina Teh Lilis sudah basah saat gua melepaskan kancutnya, dan saat hendak menjilati, lagi-lagi dia menarik kepala gua. Gua pun akhirnya hanya mengocok vaginanya dengan jari sambil menjilati payudaranya. \u201cAaaahhhh.. Sssttt.. Aaaauuggghh..\u201d Desahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kemudian gua memasukkan satu lagi jari ke dalam vaginanya. Teh Lilis mengerang sambil mencengkaram leher gua. Gua melepaskan cengkramannya sambil mempercepat gerakan jari mengocok vaginanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk mendapatkan hasil maksimal, gua menegakkan dudukan badan. Yang tadinya sedikit membungkuk mengulum payudara, menjadi duduk tegap disamping badan Teh Lilis yang bergeliat keenakan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemandangan dari sini adalah yang terbaik saat sesi porplei, bro.. Haha. You, know lha.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Teh Lilis tak dapat menyembunyikan raut wajah malu bercampur nafsu saat gua sengaja mengocok vagina sambil memperhatikannya. \u201cEnak, Teh..\u201d Kata gua.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Entah pertanyaan bodoh macam apa itu. Sialnya, itu pertanyaan yang sering diajukan lelaki saat sedang memberikan nikmat ke wanita yang sesang dieksekusi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Teh Lilis menutupi wajahnya dengan bantal saat tak kuasa mendesah. Dia mendesah dibalik bantal. Gua langsung menyingkirkan bantal. Wajah Teh Lilis tampak sudah tak perduli. Dia benar-benar menikmati gerakan jari-jari gua.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAaahhh, aaakkhhh, hhhaaaahhh..\u201d Desahnya sambil meremas salah satu payudaranya. Payudara yang lain, gua bantu meremas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sesaat gua bertanya-tanya. \u201cIni orang udah punya anak kok pentilnya masih bagus?\u201d Sambil memilin dan meremas buah dadanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cerpen Dewasa | Sesekali gua kembali melumat pentil dan payudaranya. \u201cAaaakkkhhh\u2026\u201d Desahnya, panjang. Kemudian gua makin cepat mengocok vaginanya. Teh Lilis coba merangkul leher gua, tapi tak bisa karena gua menghindar. Ia lalu mencengkram sprei kasur dengan kedua tangan yang berada diatas kepalanya. Melihat pemandangan seperti itu, gua makin semangat mengocok.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Akhirnya Teh Lilis memuncratkan cairan dari vaginanya. Badannya bergeliat tak karuan. Ia menahan gerakannya sambil mengatur nafas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">09:05 WIB<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Teh Lilis terkujur lemas dengan badan sedikit miring. Kedua kakinya menutup vaginanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gua lalu mengeluarkan Ariel dan mendekatkan ke wajahnya. Gua \u2018memukul-mukul\u2019 wajah Teh Lilis dengan pentungan hansip itu. Lalu mulai menggerayangi mulutnya. Teh Lilis urung membuka mulut, dia tampak sedang masih mengumpulkan tenaga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gua terus berusaha sambil kembali meremas payudaranya. Lalu membuka kakinya yang menutupi vagina. Teh Lilis kembali terlentang dengan posisi sedikit mengangkang. Gua memberikan sentuhan-sentuhan ringan ke sekujur badannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kemudian setelah menjilati payudaranya, gua menciumi bagian pahanya. Posisi gua masih dengan Ariel yang berada di wajah Teh Lilis. Gua lalu merebahkan badan disamping dengan posisi terbalik. 69!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan posisi menyamping, gua mulai melumat vagina Teh Lilis. Dia langsung meremas Ariel. Lalu gua mengangkat badannya menindih badan gua dalam posisi sempurna 69.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gua menjilati vagina Teh Lilis yang terasa asin. Teh Lilis urung melahap Ariel sampai gua memasukkan satu jari kedalam vaginanya. \u201cOouugghh..\u201d Desahnya, lalu melahap Ariel.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ariel terasa hangat dan basah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bokong Teh Lilis bergerak-gerak diatas wajah gua. Vaginanya tepat berada dimulut gua. Sementara Ariel keluar masuk mulutnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Teh Lilis makin menikmati tugasnya. Sesekali dia menyedot Ariel dalam-dalam, lalu menjilati dan mengulum bola dragonbol. \u201cAhhh, enak teh..\u201d Kata gua. Kali ini bukan pertanyaan, ini pernyataan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Teh Lilis tiba-tiba menegakkan badannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sambil mengocok Ariel, dia merangkak naik dan mengurung Ariel kedalam vaginanya. Jleb!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAahh, Fak!\u201d Respon gua, tak menyangka dia langsung ke topik utama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Teh Lilis membelakangi gua dengan kedua tangan memegang sandaran punggung kasur. Ariel terlihat timbul tenggelam dari bokong Teh Lilis yang gua liat dari belakang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gua memegang bokong Teh Lilis, membantunya bergerak naik-turun, maju-mundur. \u201cSssssstttt, mmaaasss\u2026 Aaahhhh\u201d Desah desis Teh Lilis yang makin cepat menggenjot.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lalu gua bangun dari tidur dan memeluk Teh Lilis dari belakang. Sambil meremas payudaranya, gua menciumi punggungnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cerpen Dewasa | Teh Lilis makin beringas, dia merangkul gua dengan posisi membelakangi. Nikmat sekali. Lalu Teh Lilis meminta berciuman, dengan senang hati gua melayaninya. Kedua tangan Teh Lilis yang setengah merangkul leher gua, membuat ketiaknya tampak menggairahkan. Sesekali gua memberikan kecupan ke ketiaknya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meski tidak harum, tapi juga tidak bau. Yang penting, tidak ada bulunya!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">09:18 WIB<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Badan Teh Lilis yang bahenol tak dapat gua tahan lebih lama berada diatas paha gua.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gua lalu* memintanya berdiri, dan mengambil posisi doggy tanpa melepas Ariel yang betah didalam vagina Teh Lilis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Teh Lilis berdiri dengan lututnya, masih dengan posisi membelakangi gua.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gua sedikit membungkukkan punggungnya, sambil meremas payudara. Teh Lilis bergeliat saat lehernya gua kecup-kecup.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKeluarin didalem, Teh?\u201d Tanya gua saat bergerak lambat menikmati ciuman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cJangan dikeluarin dulu..\u201d Bisiknya, manja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gua kemudian menghadapkan wajahnya kearah jam dinding sambil melumat bibirnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dia yang paham maksud gua lalu mendorong bokong gua agar masuk lebih dalam. Gua lalu berakselerasi tingkat tinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cPlak! Plak! Plak!\u201d Suara yang keluar, diikuti desahan Teh Lilis, \u201cAaakkhhh, aaaaakkhh, Maasss.. Sssttt..\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tak butuh lama dari serangan terakhir, Ariel memuntahkan ludah naga didalam vagina Teh Lilis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cOouugghhh\u2026\u201d Desah gua, panjang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Teh Lilis langsung membenamkan wajahnya dikasur dengan posisi nungguing. Tampak sperma gua secara perlahan keluar dari dalam vagina Teh Lilis. \u201cSssstttt.. Hhhaaaahhh..\u201d Desisnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah sepertinya sperma sudah banyak yang keluar, Teh Lilis merobohkan badannya, tidur tungkerep.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lalu bersuara pelan, \u201cRia udah aku titipin sama temen. Nanti langsung aku jemput dirumahnya..\u201d<\/p>\n<p>Baca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/nafsu-birahi-citra-9-si-penikmat-tidur\/\">Cerita Dewasa Citra 9<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/nafsu-birahi-citra-10-menikmati-siksaan\/\">Cerita Sex Citra 10<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/nafsu-birahi-citra-11-bukkake-dan-ekshibisionis-pertama\/\">Cerita Mesum Citra 11<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/nafsu-birahi-citra-12-permainan-di-kolam-nikmat\/\">Cerita Lendir Citra 12<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/nafsu-birahi-citra-13-ancaman-yang-indah\/\">Cerita Ngentot Citra 13<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/nafsu-birahi-citra-14-sebuah-perubahan\/\">Cerita Ngewek Citra 14<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/nafsu-birahi-citra-15-kehamilan-pertama\/\">Cerita Panas Citra 15<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/nafsu-birahi-citra-16-senyum-terindah\/\">Cerita Porno Citra 16<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/nafsu-birahi-citra-17-godaan-kakak-ipar\/\">Cerita Sange Citra 17<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/nafsu-birahi-citra-18-lubang-milik-bersama\/\">Cerita Dewasa Citra 18<\/a><br \/>\nBaca Juga Informasi Lainnya <a href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/nafsu-birahi-citra-19-kenikmatan-dua-lubang\/\">Cerita Sex Nafsu Birahi Citra 19<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cerita Ngewek Genjotan Istri Abang Tukang Bakso &#8211; Pada dasarnya, gua ini orang yang senang bergaul. Gua orang yang gemar<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"colormag_page_container_layout":"default_layout","colormag_page_sidebar_layout":"default_layout","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-900","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.2 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Cerita Ngewek Genjotan Istri Abang Tukang Bakso - Cerita Dewasa Blog<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-ngewek-genjotan-istri-abang-tukang-bakso\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Cerita Ngewek Genjotan Istri Abang Tukang Bakso - Cerita Dewasa Blog\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Cerita Ngewek Genjotan Istri Abang Tukang Bakso &#8211; Pada dasarnya, gua ini orang yang senang bergaul. Gua orang yang gemar\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-ngewek-genjotan-istri-abang-tukang-bakso\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Cerita Dewasa Blog\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-10-20T05:19:02+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-04-11T08:40:40+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"schmu\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"schmu\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"26 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-ngewek-genjotan-istri-abang-tukang-bakso\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-ngewek-genjotan-istri-abang-tukang-bakso\/\"},\"author\":{\"name\":\"schmu\",\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#\/schema\/person\/e40bae56bd62667590423d623c06d0bc\"},\"headline\":\"Cerita Ngewek Genjotan Istri Abang Tukang Bakso\",\"datePublished\":\"2025-10-20T05:19:02+00:00\",\"dateModified\":\"2026-04-11T08:40:40+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-ngewek-genjotan-istri-abang-tukang-bakso\/\"},\"wordCount\":4751,\"commentCount\":0,\"articleSection\":[\"Uncategorized\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-ngewek-genjotan-istri-abang-tukang-bakso\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-ngewek-genjotan-istri-abang-tukang-bakso\/\",\"url\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-ngewek-genjotan-istri-abang-tukang-bakso\/\",\"name\":\"Cerita Ngewek Genjotan Istri Abang Tukang Bakso - Cerita Dewasa Blog\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-10-20T05:19:02+00:00\",\"dateModified\":\"2026-04-11T08:40:40+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#\/schema\/person\/e40bae56bd62667590423d623c06d0bc\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-ngewek-genjotan-istri-abang-tukang-bakso\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-ngewek-genjotan-istri-abang-tukang-bakso\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-ngewek-genjotan-istri-abang-tukang-bakso\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Cerita Ngewek Genjotan Istri Abang Tukang Bakso\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#website\",\"url\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/\",\"name\":\"Cerita Dewasa Blog\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#\/schema\/person\/e40bae56bd62667590423d623c06d0bc\",\"name\":\"schmu\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/082dff75265c6bf01cb08afa8e9e3e49a15480050ab46bd77b7617e75204ec14?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/082dff75265c6bf01cb08afa8e9e3e49a15480050ab46bd77b7617e75204ec14?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/082dff75265c6bf01cb08afa8e9e3e49a15480050ab46bd77b7617e75204ec14?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"schmu\"},\"url\":\"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/author\/schmu\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Cerita Ngewek Genjotan Istri Abang Tukang Bakso - Cerita Dewasa Blog","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-ngewek-genjotan-istri-abang-tukang-bakso\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Cerita Ngewek Genjotan Istri Abang Tukang Bakso - Cerita Dewasa Blog","og_description":"Cerita Ngewek Genjotan Istri Abang Tukang Bakso &#8211; Pada dasarnya, gua ini orang yang senang bergaul. Gua orang yang gemar","og_url":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-ngewek-genjotan-istri-abang-tukang-bakso\/","og_site_name":"Cerita Dewasa Blog","article_published_time":"2025-10-20T05:19:02+00:00","article_modified_time":"2026-04-11T08:40:40+00:00","author":"schmu","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"schmu","Estimasi waktu membaca":"26 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-ngewek-genjotan-istri-abang-tukang-bakso\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-ngewek-genjotan-istri-abang-tukang-bakso\/"},"author":{"name":"schmu","@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#\/schema\/person\/e40bae56bd62667590423d623c06d0bc"},"headline":"Cerita Ngewek Genjotan Istri Abang Tukang Bakso","datePublished":"2025-10-20T05:19:02+00:00","dateModified":"2026-04-11T08:40:40+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-ngewek-genjotan-istri-abang-tukang-bakso\/"},"wordCount":4751,"commentCount":0,"articleSection":["Uncategorized"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-ngewek-genjotan-istri-abang-tukang-bakso\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-ngewek-genjotan-istri-abang-tukang-bakso\/","url":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-ngewek-genjotan-istri-abang-tukang-bakso\/","name":"Cerita Ngewek Genjotan Istri Abang Tukang Bakso - Cerita Dewasa Blog","isPartOf":{"@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#website"},"datePublished":"2025-10-20T05:19:02+00:00","dateModified":"2026-04-11T08:40:40+00:00","author":{"@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#\/schema\/person\/e40bae56bd62667590423d623c06d0bc"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-ngewek-genjotan-istri-abang-tukang-bakso\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-ngewek-genjotan-istri-abang-tukang-bakso\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/cerita-ngewek-genjotan-istri-abang-tukang-bakso\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Cerita Ngewek Genjotan Istri Abang Tukang Bakso"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#website","url":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/","name":"Cerita Dewasa Blog","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/#\/schema\/person\/e40bae56bd62667590423d623c06d0bc","name":"schmu","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/082dff75265c6bf01cb08afa8e9e3e49a15480050ab46bd77b7617e75204ec14?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/082dff75265c6bf01cb08afa8e9e3e49a15480050ab46bd77b7617e75204ec14?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/082dff75265c6bf01cb08afa8e9e3e49a15480050ab46bd77b7617e75204ec14?s=96&d=mm&r=g","caption":"schmu"},"url":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/author\/schmu\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/900","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=900"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/900\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1613,"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/900\/revisions\/1613"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=900"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=900"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/prime.edu.pk\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=900"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}